Sabtu, 09 April 2011

Adakah Sesuatu yang Baru dari Matematika?


Ketika saya lulus SMA tahun 1997 dan memutuskan masuk ke jurusan matematika, beberapa guru dan teman bertanya, "Mengapa matematika?" Jawaban waktu itu hanya dua: karena saya suka matematika dan karena saya merasa bisa mendapatkan nilai di atas passing grade-nya. Jawaban kedua tentu saja yang paling penting waktu itu karena lolos Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN) mungkin dapat diartikan lolos dari lubang jarum seleksi kehidupan. Masuk perguruan tinggi bergengsi cenderung diartikan penghidupan yang layak setelah lulus kuliah, walaupun kenyataannya tidak selalu demikian. Beberapa tahun setelahnya, ternyata saya masih mendapat pertanyaan yang serupa ketika memperkenalkan diri sebagai peneliti matematika: Penelitian matematika? Apa ada yang baru dari matematika? Bukankah 11 2 selamanya? Jawaban yang diberikan berdasarkan pengalaman saya akan diuraikan dalam tulisan ini.
Penelitian di bidang matematika bisa dikategorikan menjadi dua kelompok berdasarkan motivasi penelitian tersebut: penelitian yang didorong oleh aplikasi matematika di bidang ilmu lainnya dan penelitian yang termotivasi oleh pengembangan bidang matematika itu sendiri. Kelompok pertama sekarang lebih dikenal sebagai matematika terapan dan kelompok kedua biasa disebut dengan matematika murni.
Penelitian dalam kelompok matematika terapan, sesuai dengan namanya, diawali dari masalah nyata yang bisa muncul dalam fisika, teknik, ekonomi, sastra dan bidang ilmu sosial. Untuk mencari contohnya sangat mudah. Di Eropa, ada pertemuan rutin matematikawan dengan dunia industri dalam lokakarya yang bertajuk the European Study Group with Industry yang diorganisasikan oleh kampus-kampus berbeda di Eropa. Serupa dengan itu, di Australia ada Mathematics in Industrial Study Group, sedangkan di Amerika ada Mathematical Problems in Industry. Dalam pertemuan ini pihak industri mempresentasikan masalah-masalah yang mereka hadapi yang sering kali membutuhkan metode matematika baru. Karena itu tidak jarang dalam proses merumuskan persoalan-persoalan nyata tersebut ke dalam persamaan bisa ditemukan metode matematika baru atau bahkan tercipta sub-bidang ilmu baru yang berbeda dan terpisah dari yang sudah ada.
Berdasar pengalaman saya sendiri semakin tinggi kita sekolah dan belajar, semakin tidak jelas batas antara satu bidang ilmu dengan bidang ilmu lainnya. Karena itu bukan hal yang aneh bila ada matematikawan yang sangat mengerti detil ilmu sel dan ada ahli biologi yang menguasai matematika tingkat tinggi. Juga banyak nama disiplin ilmu yang merupakan gabungan dua disiplin ilmu berbeda, seperti mathematical biology, biological mathematics, mathematical engineering, engineering mathematics, dan sebagainya. Beberapa perguruan tinggi bahkan mempunyai jurusan matematika dan jurusan teknik di tempat yang sama. Sedangkan dalam matematika murni, penelitiannya didorong oleh keinginan mengembangkan matematika itu sendiri, terlepas apakah nanti penelitiannya bermanfaat atau tidak dalam kehidupan sehari-hari. Motivasi si matematikawan sendiri terkadang juga tidak lebih dari sekadar main-main dengan angka. Berikut satu contoh hasil riset yang masih hangat baru diangkat dari penggorengan. 
Ketika kita menaruh laptop di atas meja, kita menaruhnya dengan sangat hati-hati agar laptop tidak jatuh ke lantai. Namun terkadang meja tempat kita menaruh laptop tersebut penuh dengan barang-barang lainnya. Tanp harus menurunkan barang-barang lain tersebut, berapa luas minimum meja yang harus tersedia supaya kita masih bisa menaruh laptop di atasnya?
Burkard Polster, matematikawan dari Monash University, Australia, membuat formulasi matematika dari pertanyaan di atas dalam sebuah artikel ilmiah yang dimuat online di arXiv:0906.0809. Sedikit kutipan pembukaan artikel tersebut:
"I often work on my laptop in bed. When needed, I park the laptop on the bedside table, where the computer has to share the small available space with a lamp, books, notes, and heaven knows what else. It often gets quite squeezy. Being regularly faced with this tricky situation, it finally occurred to me to determine once and for all how to place the laptop on the bedside table so that its ‘footprint’ – the area in which it touches the bedside table – is minimal. In this note I give the solution of this problem, using some very pretty elementary mathematics."
Tapi mungkin kita akan langsung bertanya, "Apa untungnya membuat rumusan matematika untuk masalah seperti ini? Mengatur laptop di atas meja dengan menggunakan ilmu kira-kira bisa jadi jauh lebih cepat dari pada dihitung terlebih dahulu dengan menggunakan matematika."
Ajaibnya sering kali bidang ilmu matematika yang awalnya terlihat tidak ada gunanya seperti ini di kemudian hari dijumpai ternyata dibutuhkan di bidang ilmu lainnya. Ibaratnya seperti orang-orang yang membangun pagar tembok semaunya yang satu sama lain tidak saling bertegur sapa tapi kemudian beberapa tembok saling bertemu dan memotong tanpa sengaja.
Ketika hal ini terjadi, apakah bidang ilmu matematika murni tersebut lantas menjadi matematika terapan? Jawabnya bisa ya, bisa tidak. Karena itu kategorisasi matematika terapan dan matematika murni sesungguhnya tidak mempunyai batas yang jelas. Dan karena itu pula kesimpulannya selama manusia masih berpikir dan kehidupan masih berkembang, akan selalu ada yang baru dari matematika.

Sumber : Majalah 1000guru-rubrik Matematika, Penulis : Hadi Susanto, dosen di School of Mathematical Sciences, Nottingham University, Inggris.

Kamis, 07 April 2011

Al-Makruf dan Puncak Kebajikan


DALAM al-Quran, banyak disebutkan lafaz-lafaz yang menunjukan segala perbuatan yang baik atau 'amal salih. Misalnya saja: al-ma'ruf, al-khoir, al-birru, al-hasanah, at-thoyyibah, dan al-ibadah. 
Ungkapan-ungkapan ini mempunyai tujuan dan makna yang sama, yaitu kebaikan, kebajikan, dan pengabdian. 
Prof. Hamka dalam kitab tafsirnya "al-Azhar"  mengatakan bahwasanya puncak dari segala amal kebajikan atau amal ibadah itu ada dua, yaitu: pertama, memperhambakan diri kepada Allah; dan kedua memperbanyak perbuatan yang memberi manfaat kepada sesama makhluk.
 
Antonim lafaz-lafaz di atas adalah al-munkar (kemungkaran), as-sayyiah (keburukan), az-dzunub atau al-itsm (perbuatan dosa) dan al-ma'asiyah (maksiat). Yaitu, suatu perbuatan yang menunjukan sikap membangkang terhadap Allah dan perbuatannya tersebut tidak berfaedah, bahkan justru menimbulkan mudhorat dan kerugian, baik kepada dirinya sendiri atau pun kepada orang lain.
 
Di dalam surah al-'Ashr ditegaskan, bahwa manusia itu berada dalam kerugian yang nyata, kecuali empat perkara yang menjadikannya beruntung dan bahagia, yaitu iman, amal saleh, saling menasihati untuk menepati kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran. (Q.S. al-'Ashr:2-3)
 
Ayat di atas menggambarkan sebuah hubungan yang begitu erat dan saling menguatkan antara amal saleh (perbuatan kebajikan) dan iman (keyakinan) yang dimiliki oleh pelakunya. Keduanya laksana dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Maknanya, iman tanpa diiringi amal saleh akan menyeret pelakunya kepada kerugian, begitu sebaliknya amal saleh yang dikerjakannya akan menjadi sia-sia apabila tidak didasarkan kepada iman kepada Allah SWT. 
 
Mengenai hal ini, Allah menurunkan sebuah perumpamaan yang sangat indah dan penuh makna. "Dan orang-orang kafir, amal perbuatan mereka adalah bagaikan fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila dihampirinya air itu, dia tidak mendapati apa pun." (Q.S. an-Nuur:39).
 
Oleh sebab itu, dalam melakukan pengabdian secara sempurna kepada Allah sebagai puncak amal kebajikan yang pertama tadi, diperlukan keyakinan yang total kepada Allah SWT. 
 
Kaitannya dengan puncak amal kebajikan yang kedua, Rasulullah saw. pernah bersabda: "Sebaik-baik manusia di antara kamu adalah orang yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain." (HR. Bukhari).
 
Secara berulang-ulang, al-Qur'an pun banyak menyebutkan keutamaan mengerjakan amal saleh, di mana Allah SWT menghadiahkan pahala yang sangat besar kepada hamba-hambaNya yang mengerjakan amal kebajikan. Sebagaimana firmanNya dalam surat an-Nahl ayat 97, Allah menjanjikan suatu kehidupan dan balasan yang baik bagi orang-orang yang berbuat kebajikan. "Barangsiapa mengerjakan kebajikan baik kaum laki-laki maupun perempuan dan dia beriman, maka pasti Kami akan berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan Kami akan berikan balasan dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan."
 
Hakikatnya, ayat di atas mendorong kita untuk lebih giat dalam melakukan amal kebajikan. Bahkan kalau dipahami secara teliti dan diiringi keyakinan yang mantap, ayat ini boleh membangkitkan optimisme yang luar biasa pada diri seseorang dalam menjalani proses kehidupan ini. Di mana Allah SWT telah menjanjikan  suatu kehidupan yang baik, aman dan tentram (hayatan thoyyibatan) bagi orang-orang yang berbuat amal kebajikan karena Allah SWT. Sedangkan di akhirat nanti, Allah akan memberikan balasan yang lebih baik daripada balasan yang diberikan di dunia. 
 
Selain itu, ayat  ini sekaligus mengandung bantahan terhadap  orang-orang yang selalu pesimis dan beranggapan bahwa nasib hidupnya itu tidak baik atau kurang beruntung, padahal dirinya telah beribadah dan berbuat kebajikan.
 
Seseorang hanya akan merasa pesimis dan akan  beranggapan negatif  kepada Allah, kecuali jika dia  mengetahui dan memahami hakikat puncak amal kebajikan dengan sebaik-baiknya. Wallahu 'alam bi showab [hidayatullah.com]

Merubah Gambar Menjadi Teks


Di internet, ada situs yang menyediakan tools untuk merubah foto atau gambar menjadi teks. Namanya Photo2Text. Liat contohnya pada gambar di atas. Pengen memodifikasi foto kamu menjadi text? 
Ikuti panduannya berikut ini.
1. Buka situs http://www.photo2text.com/. (Tinggal klik aja)
2. Setelah terbuka, upload foto atau gambar yang diinginkan. Kemudian “submit“.

3. Setelah di-submit, Kamu diminta untuk mengisikan nickname. Isikan apa aja. Bebas…
4. Yups… Foto teks Kamu sudah jadi. Bisa diliat di bawahnya. Kamu juga bisa men-downloadhasilnya. Namu hasilnya berbentuk *.txt. Kamu bisa juga mengatur brightness dan character set-nya.

5. Setelah di-download, buka dengan notepad. Matikan fitur word wrap, lalu ubah jenis hurufnya menjadi courier new. Perkecil ukuran hurufnya supaya foto lebih jelas. Print screendeh…
6. Buka paint. Paste-kan hasil print screen tadi ke paint. Lakukan crop, kemudian simpan hasilnya dalam bentuk *.jpg

Selasa, 05 April 2011

Jangan Hinakan Nikmat Allah


Hidup kadang tak ubahnya seperti untaian benang panjang yang punya dua warna. Silih berganti warna itu menghias untaian benang. Ada warna suka, ada duka. Benang akan tampak menarik ketika terhias suka. Dan, akan dibenci ketika warna duka terlalui.
Namun demikian, sebagian orang kadang lupa bahwa seperti itulah warna kehidupan. Mungkin, keterbatasan rasa manusia yang bahagia ketika suka. Dan sedih ketika duka. Tak jarang, keterbatasan itu pun menggiring pandangannya kepada Pembuat Hidup. Bahwa, suka adalah kemuliaanNya. Dan, duka adalah penghinaanNya.
Dalam surah Al-Fajr ayat 15 dan 16, Allah swt berfirman, “Ada pun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu dimuliakanNya dan diberiNya kesenangan, maka dia berkata, ‘Tuhanku telah memuliakanKu. Ada pun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rezekinya maka dia berkata, ‘Tuhanku menghinakanku.”
Fakta takaran kemuliaan dan kehinaan dalam pandangan sebagian manusia berkait dengan seberapa besar anugerah Allah berupa kenikmatan. Semakin kaya seseorang, semakin besar kemuliaan yang ia terima. Dan semakin miskin seseorang, seperti itulah kehinaan yang Allah berikan.
Sebagian manusia mungkin merasa sulit untuk menterjemahkan bahwa hidup bukan dua takaran tadi. Teramat sulit buat mereka untuk menggunakan kacamata iman bahwa hidup adalah ujian. Dan ujian tidak melulu melekat pada satu warna. Dalam duka memang ada ujian. Pun, dalam suka ada ujian.
Penjelasannya begitu gamblang ketika Allah swt berfirman dalam surah Al-Anbiyaa ayat 35. “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.”
Seperti itulah Thalut ketika sang komandan ini ingin mendapatkan bukti kualitas pasukannya. Ia tidak ingin para pejuangnya berorientasi hanya pada kesenangan hidup. Dan tidak lagi punya semangat ketika hidup tak lagi mampu memberikan kesenangan. Karena itu, mereka harus diuji.
Ujian pun dimulai. Orang yang berkualitas biasanya akan menangkap sebuah isyarat tes. Terlebih ketika kisi-kisi tes itu sudah digambarkan begitu jelas: ketika kita melalui sungai, dilarang meminum airnya kecuali dengan cidukan tangan. Penjelasan yang begitu jelas. Tapi, begitulah orang yang tak berkualitas. Penjelasan tinggallah penjelasan. Kelakuan tak juga berubah. Kenyataannya, sedikit sekali dari pasukan itu yang menikmati air sungai dengan cidukan tangan. Selebihnya, larut dalam kenikmatan. (Al-Baqarah: 249)
Jadi, ketika nikmat Allah diterjemahkan hanya dari satu sisi yaitu kesenangan, di situlah orang terjebak dalam kedangkalan nalarnya sendiri. Mereka akan bersyukur dan berterima kasih kepada Allah, kepada Yang Maha Pencipta, atas segala nikmatNya. Namun, ketika anugerah menempati sisi lain yang tak sesuai harapan, syukur dan terima kasihnya lenyap. Syukurnya menguap bersama kecewanya: Allah menghinakan saya.
Padahal, cocok atau tidaknya sebuah harapan dengan kenyataan yang Allah berikan, kalkulasinya begitu luas. Mungkin, kita pernah kecewa ketika kereta yang kita kejar-kejar sehingga harus ditebus dengan lewatnya sarapan pagi, ternyata harus berlalu mendahului kita. Kita kecewa. Padahal, itulah nikmat Allah. Karena, kereta itu ternyata mengalami kecelakaan. Allah menyelamatkan kita dengan sesuatu yang sebelumnya kita anggap mengecewakan.
Kita mungkin pernah kecewa ketika calon suami atau isteri yang selangkah lagi akan syah menjadi pendamping, menyatakan pembatalan sepihak. Kita kecewa. Padahal, di saat itulah Allah sedang memberikan kebaikan. Karena ternyata, beberapa bulan kemudian sang calon meninggal dunia karena penyakit dalam yang kronis.
Kekecewaan-kekecewaan itu mungkin bisa dianggap wajar. Karena ada sesuatu yang belum kita peroleh. Dan sesuatu itu memang mahal. Bahkan, seorang Nabi Musa a.s. pun harus bersusah payah mendapatkan sesuatu itu. Dan sayangnya, ia sempat gagal di tengah jalan.
Pelajaran itu bisa kita lihat ketika Allah swt mengisahkan dua hambaNya yang mulia: Musa a.s. dan Khidr a.s. Dalam surah Al-Kahfi ayat 65 hingga 82, Allah swt. menggambarkan bagaimana Musa a.s. gagal menangkap maksud tiga tindakan yang tidak menyenangkan Khidr a.s. Yaitu, melubangi perahu-perahu nelayan, membunuh anak kecil, dan menegakkan dinding yang hampir roboh. Padahal, ketiga tindakan Khidr a.s. itu punya maksud yang amat baik. Di situlah Musa a.s. belajar tentang anugerah kebaikan dan keburukan.
Jadi, ridha atas segala sesuatu yang Allah berikan adalah pijakan awal dari lahirnya rasa syukur seorang hamba. Terhadap anugerah apa pun: besar atau kecil. Ridha dengan anugerah yang besar adalah kesiapan diri agar senantiasa menjaga amanah, agar nikmat tidak terselewengkan dalam maksiat. Dan ridha dengan yang kecil adalah kebersihan hati dari buruk sangka atas pemberian Allah.
Seorang sahabat Rasul pernah terperanjat ketika malam pertamanya tiba. Ia seperti hampir tak menerima kenyataan wajah isterinya. Ada keraguan terselip di situ. Bahkan, ketidaksukaan pun nyaris mendominasi hatinya. Seolah, hatinya bicara, “Ah, seperti inikah nikmat yang Allah berikan kepada saya?”
Namun, semua itu sirna seketika saat sang isteri mampu menangkap gelisah itu. Ia langsung membacakan sebuah ayat di surah An-Nisa. “Dan bergaullah dengan mereka (isteri-isteri) secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An-Nisa: 19)
Ketika ridha menutup segala prasangka, syukur terungkap dengan seketika. Ia muncul dari hati yang dalam. Bersih tanpa pamrih. Lahir dari kesadaran bahwa tak seorang pun yang pernah dan akan memiliki sesuatu. Tak semua kesenangan melahirkan bahagia. Dan tak semua kesusahan membawa celaka. Semuanya pinjaman dari Allah. Dan akan kembali kepada-Nya pula.
Jangan hinakan nikmat Allah. Syukurilah anugerah Allah apa adanya. Justru, dalam keridhaan dan syukur itulah kenikmatan terasa ganda. Kita tidak sedang menikmati anugerah fisik saja. Melainkan, belaian kasih sayang Allah yang tak hingga. Nikmatilah warna-warni hidup. Karena hidup memang penuh warna.

Keluhan Si Wanita Tukang Keluh


Saya hanya ingin menangis kali ini. Sekali lagi. Yang entah tangisan ke berapa. Dan entah kapan akan berakhirnya. Tangisan atas nama kekecewaan yang seharusnya tak ada dalam kamus manusia yang mukhlisin, yang menyerahkan semua urusannya hanya kepada-Nya. Tapi bukankah wanita ini baru belajar untuk menggapainya? Tertatih, berjalan pelan, meraup ilmu, dan mencoba membingkainya dalam laku akhlak yang bersumber pada aturan-Nya berbekal ittiba’ pada Rasul-Nya, Sang Pemilik kesempurnaan akhlaq yang mulia.
Seharusnya airmata ini memang tak membanjir sekarang. Hanya karena komitmen dari orang-orang yang bergelar kader mulai mengalami kefuturan. Hanya karena mereka yang di awal seia sekata untuk berjuang dengan segenap potensi yang mereka miliki untuk membingkai hari-hari indah dalam dunia birokrasi, mengalami kejenuhan. Tergerus dengan kesibukan kerja dunia para birokrat yang menuntut profesionalisme di segala lininya, hingga tak ada waktu yang tersisa untuk pekerjaan utama: ‘dakwah untuk meninggikan kalimat-Nya’.
Apakah mereka salah? Tentu tidak. Lalu siapakah yang salah? Mungkin saya yang salah karena tak pandai menjaga ukhuwah dan mengobarkan semangat mereka agar tetap menyala. Ya mungkin sayalah yang salah, yang kadang mengendur rengkuhannya hingga mereka mulai tidak mendapatkan kehangatan dalam pekerjaan berat yang harus mereka tanggung selain pekerjaan rutin kantor yang seakan tak ada hentinya.
Tapi Ya Rabb, bukankah hamba juga sama seperti mereka? Ada kalanya hamba futur dan ingin mendapatkan rengkuhan dari mereka. Menyemangati hamba. Mengobarkan kembali semangat hamba. Saat semangat hamba sedang tinggi mungkin hamba mampu mengemban amanah itu sendiri, memberikan ruang bagi mereka untuk fokus terhadap pekerjaan rutinnya. Karena hamba sadar, seorang muslim adalah seorang yang memiliki etos kerja yang tinggi, profesional, dan dapat dipercaya dalam semua amanah yang diembankan kepadanya. Dan termasuk di dalamnya amanah pekerjaan kantor mereka. Tapi saat hamba sedang merasa keletihan, hamba ingin ada yang mengambil beban itu dari pundak hamba. Membawanya bersama-sama. Karena bukankah ini hakikat kerja dalam jamaah? Saling berbagi beban. Berbagi senyum. Berbagi air mata. Saling menguatkan, karena dua kaki saja tak kan cukup kokoh untuk menopangnya.
Ya Rahman, sungguh rasa sakit yang hamba rasai dalam hati ini belumlah seberapa jika dibandingkan dengan yang Kau ujikan pada Rasul-Mu. Sungguh, hamba belum beroleh cacian, makian, dan siksaan seperti manusia-manusia mulia itu dalam mengemban Risalah-Mu. Namun ternyata airmata ini tak kunjung juga mau menghentikan alirnya. Bukankah seharusnya tidak ada kesedihan dalam perjuangan yang bermuara pada-Mu? Bukankah semestinya semua lelah yang hamba rasai akan berujung pada nikmat-Nya bermunajat kepada-Mu? Hamba tau hamba yang salah Ya Rabbiy.. Hati ini terlalu sempit, sehingga riak kecil dalam kerja dakwah saja mampu menderaskan airmata. Diri ini yang terlalu rapuh, sehingga kadang tak sabar dalam kerja lintas generasi yang penuh peluh. Mungkin niat ini yang tak lagi lurus. Mungkin keikhlasan ini telah tercemari dengan segala polusi dari maksiat diri. Astaghfirullah hal ‘adzim… Ampuni diri ini Ya Rabbiy..
Ya Mujib, kuatkan kaki hamba untuk menapaki jalan dakwah ini. Tetap di sana, walau dalam keletihan yang bagaimanapun juga. Karena hamba yakin akan jual beli ini. Karena hamba telah memutus dan hamba harus menerima segala konsekuensi. Menjadi wanita yang menceburkan diri dalam kawah panas dakwah birokrasi. Yang ternyata tak cukup dengan sekedar waktu dan tenaga sisa. Tetap menjadi prioritas utama walaupun diselipkan dalam beban tugas menjadi Abdi Negara. Yang semakin ke sini hamba rasai semakin memberati punggung hamba. Ternyata tidak mudah mensikronkan menjadi pegawai yang profesional sekaligus pendakwah di hitam putih abu-abunya dunia birokrasi negeri ini.
Kadang kala terpikir untuk melepasnya saja. Sebagaimana yang lainnya. Di kantor ya hanya sekedar untuk bekerja. Karena untuk mengerjakan pekerjaan profesional saja kadang tak cukup waktu. Apalagi ditambah berpikir untuk dakwah dan sebagainya. Mau meminjam waktu dan tenaga siapa? Sebenarnya hamba ingin berkata, hamba tak sanggup Ya Rabb… Hamba tak sanggup… Namun hamba malu… Hamba malu kepada-Mu, yang telah memberikan hamba segala potensi yang seharusnya bisa hamba optimalisasi. Hamba juga malu kepada para muslimah mujahidah pengukir tinta emas sejarah.
Sumayyah mujahidah pertama yang menggadai jiwa demi imannya. Khadijah, pembenar kerasulan Muhammad saw disaat semua orang mendustakan dan telah meridhakan semua hartanya demi tegaknya dakwah islam. ‘Aisyah, si cerdas yang bagai telaga bagi para musafir ilmu yang dahaga. Nasibah dan Ummu Ammarah yang rela berlelah dalam perjalanan panjang mengikuti baiat aqabah. Asma’, Nusaibah, Ummu Sulaim dan puluhan shahabiyah lain yang telah menggadai sempurna seluruh potensi yang ada pada dirinya demi bersinarnya cahaya Islam di penjuru dunia. Dan mereka melakukannya jelas bukan untuk menyimpang dari fitrah kewanitaannya. Namun, itulah bukti cinta yang bergelora dalam hati mereka. Itulah bukti syukur atas segala karunia yang telah Allah berikan kepada mereka. Itulah bekal yang akan mereka bawa untuk menghadap Rabb-Nya.
Lalu apakah wanita ini akan menyerah kalah begitu saja? Hanya karena satu dua hal kecil yang menelikung langkah dakwahnya. Yang menjatuhkannya. Yang kadang membuatnya tergugu dalam shalat malamnya. Tapi bukankah Kau masih mengaruniai hamba kaki yang utuh Ya Rahman? Yang seberapa kalipun hamba jatuh, hamba masih bisa berdiri lagi. Berdiri dan terus berdiri… Sampai nanti hamba tak mampu lagi…

Ujian Kehidupan


Mungkin banyak yang begitu down, atau begitu terpuruk ketika ujian-Nya datang beruntun. Kadang, kita seperti tak punya kesempatan untuk bernafas lebih panjang, menggenapkan energi yang kita punya, untuk menghadapi berbagai terpaan itu. Kadang, terasa begitu berat, bahkan ingin melarikan diri dari itu semua.
Tapi kemudian kita belajar, bahwa hadirnya ujian, hadirnya terpaan yang begitu bertubi, sesungguhnya adalah tempaan. Tempaan agar kita menjadi lebih tangguh. Ini juga menyoal training kesabaran, yang mungkin terlalu mudah untuk digumamkan. Yah, kita mungkin begitu mudah untuk mengatakan, “Sabar….sabar….”, tapi pada kenyataannya, sabar itu tak semudah pengucapannya. Ia butuh latihan. Ia butuh training. Dan ujian lah yang menjadi trainingnya.
Sesungguhnya, beruntunglah orang-orang yang Allah berikan ujian lebih banyak. Sebab ia punya lebih banyak kesempatan untuk naik kelas. Naik ke kelas yang lebih berkualitas. Bukankah jika kita hendak naik kelas, kita harus melewati ujian terlebih dahulu? Dan bukankah, tinggi rendahnya tingkatan kelas itu amat linear dengan tingkat kesulitan ujian ia dihadapi? Tentu saja!
Dan yang jelas, Allah tidak akan membiarkan kita mengatakan diri kita beriman, sebelum Allah memberikan ujian-ujian untuk diri kita. Dan hanya orang beriman pulalah yang baginya semua keadaan adalah kebaikan belaka. Jika itu menyenangkan, ia bersyukur. Dan jika itu tidak mengenakkan, ia bersabar.
Sungguh, jika kita memandang ujian sebagai suatu bentuk in process control, maka insya Allah akan memberikan quality assurance atau jaminan kualitas diri yang lebih mumpuni dari pada memilih untuk melarikan diri dari ujian-ujian itu. Melarikan diri dari ujian-ujian, memiliki arti yang sama dengan membuang kesempatan untuk naik kelas ke tingkat yang lebih berkualitas. Selain itu, jikapun kita bisa melarikan diri dari ujian itu, tetap saja akan berjumpa dengan ujian-ujian lain yang serupa atau dengan tingkat yang sama, hingga kita berhasil lulus dari ujian itu.
Sungguh, Allah maha teliti dalam meletakkan beban ujian di pundak kita. Jikalau ada alat ultra cangggih yang dapat mengukur kadar kemampuan dalam memikul suatu ujian, tentulah skalanya hanyalah akan berada pada batas nilai kesanggupan kita. Jadi, beruntunglah jika ujiannya lebih berat, lebih bertubi, sebab, itu menjadi indikasi bahwa kita memiliki kualitas tinggi untuk memikulnya. Sebab kita sangguplah, maka Allah memilih kita untuk memikulnya. Jadi, kita memang tak punya alasan untuk tidak menaklukkan setiap ujian-ujian yang dipikulkan di pundak kita.

Jika pada hati kita sempat terlintas pikiran-pikiran, “Kenapa hanya saya saja yang Allah beri ujian. Si A, si B dan si C, hidupnya tak seperti saya. Mereka pun tak ada ujian-ujian yang memberatkan pundak mereka. Tapi, mengapa saya harus menghadapi ini?”, maka cepat-cepatlah kita melenyapkannya pikiran itu. Sesungguhnya beruntunglah! Beruntunglah Allah memilih kita, sebab Allah telah meluluskan kita pada uji kelayakan untuk memikulnya. Artinya, kita punya kadar kesanggupan untuk melewatinya. Taklukkan ujian ini, dan Dia akan memberi kesempatan kepada kita untuk meningkatkan kualitas diri.
Bersemangatlah!
Sebab, tiadalah yang Allah inginkan pada diri hamba-Nya, melainkan kebaikan belaka…sesulit apapun itu.

Jumat, 01 April 2011

Penyakit Akibat Kurang Tidur



Para dokter di National Taiwan Hospital baru-baru ini mengejutkan dunia kedokteran karena ditemukannya kasus seorang dokter muda berusia 37 tahun yang selama ini sangat mempercayai hasil pemeriksaan fungsi hati (GOT, GPT), tetapi ternyata saat menjelang Hari Raya Imlek diketahui positif menderita kanker hati sepanjang 10 cm!



Selama ini hampir semua orang sangat bergantung pada hasil indeks pemeriksaan fungsi hati (Liver Function Index). Mereka menganggap bila pemeriksaan menunjukkan hasil index yang normal berarti semua OK. Kesalahpahaman macam ini ternyata juga dilakukan oleh banyak dokter spesialis.

Benar-benar mengejutkan, para dokter yang seharusnya memberikan pengetahuan yang benar pada masyarakat umum, ternyata memiliki pengetahuan yang tidak benar. Pencegahan kanker hati harus dilakukan dengan cara yang benar. Tidak ada jalan lain kecuali mendeteksi dan mengobatinya sedini mungkin, demikian kata dokter Hsu Chin Chuan

Tetapi ironisnya, ternyata dokter yang menangani kanker hati juga bisa memiliki pandangan yang salah, bahkan menyesatkan masyarakat, inilah penyebab terbesar kenapa kanker hati sulit untuk disembuhkan.


Penyebab utama kerusakan hati adalah :
  1. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang adalah penyebab paling utama
  2. Tidak buang air di pagi hari
  3. Pola makan yang tidak beraturan
  4. Tidak makan pagi
  5. Terlalu banyak mengkonsumsi obat-obatan
  6. Terlalu banyak mengkonsumsi bahan pengawet, zat tambahan, zat pewarna, pemanis buatan
  7. Minyak goreng yang tidak sehat! Sedapat mungkin kurangi penggunaan minyak goreng saat menggoreng makanan hal ini juga berlaku meski menggunakan minyak goreng terbaik sekalipun seperti olive oil. Jangan mengkonsumsi makanan yang digoreng bila kita dalam kondisi penat, kecuali dalam kondisi tubuh yang fit.
  8. Mengkonsumsi masakan mentah (sangat matang) juga menambah beban hati. Sayur mayur dimakan mentah atau dimasak matang 3/ 5 bagian. Sayur yang digoreng harus dimakan habis saat itu juga, jangan disimpan.
geri ya! ayo siapa yang sering bergadang?. Lebih baik mencegah dari pada mengobati, cukup atur gaya hidup dan pola makanan kita sehari-hari. Mengatur pola makan dan waktu tidur Itu sangat diperlukan agar tubuh kita dapat melakukan pengobatan, penyerapan dan pembuangan zat-zat yang tidak berguna sesuai dengan jadwalnya.


Kapan sebaiknya kita beraktifitas dan beristirahat?
  1. Pukul 21.00 – 23.00 : Adalah pembuangan zat-zat / beracun (de-toxin) di bagian sistem antibodi (kelenjar getah bening). Selama durasi waktu ini sebaiknya dilalui dengan suasana tenang atau mendengarkan musik. Bila pada saat waktu ini Anda tidak sedang santai, jengkel dan bekerja hal ini akan tidak baik untuk kesehatan tubuh kita.
  2. Pukul 23.00 – 01.00 :  Saat proses de-toxin di bagian hati, Anda harus berlangsung dalam kondisi tidur pulas.
  3. Dini hari Pukul 01.00 – 03.00 : Proses de-toxin di bagian empedu, masih dalam keadaan tidur pulas.
  4. Dini hari pukul 03.00 – 05.00 : De-toxin di bagian paru-paru. Sebab itu akan terjadi batuk yang hebat bagi penderita batuk selama durasi waktu ini. Karena proses pembersihan (de-toxin) telah mencapai saluran pernafasan, maka tak perlu minum obat batuk agar supaya tidak merintangi proses pembuangan kotoran. Alangkah baiknya kita bangun dan menghirup udara subuh, karena masih bersih dan belum tercemari, hal ini di contohkan oleh Rosul
  5. Pagi pukul 05.00 – 07.00 : De-toxin di bagian usus besar, Sebaikmua Anda harus buang air di kamar kecil.
  6. Pagi pukul 07.00 – 09.00 : Waktu penyerapan gizi makanan bagi usus kecil, harus makan pagi. Bagi orang yang sakit sebaiknya makan lebih pagi yaitu sebelum pukul 06:30. Dianjurkan untuk makan pagi sebelum pukul 07:30 sangat baik bagi mereka yang ingin menjaga kesehatannya tetap prima. Jika Anda jarang sarapan pagi, segeralah merubah kebiasaan ini, usahakan untuk makan pagi, jadi usahakanlah untuk sarapan pagi agar tubuh sehat.
  7. Tidur terlalu malam dan bangun terlalu siang akan mengacaukan proses pembuangan zat-zat tidak berguna. Selain itu, dari tengah malam hingga pukul 04.00 dini hari adalah waktu bagi sumsum tulang belakang untuk memproduksi darah.
Perhatikan petikan hadits dibawah:
“Sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal darah. jika segumpal darah tersebut baik maka akan baik pulalah seluruh tubuhnya, adapun jika segumpal darah tersebut rusak maka akan rusak pulalah seluruh tubuhnya, ketahuilah segumpal darah tersebut adalah hati.” (HR. Imam Bukhari dan Muslim)