Rabu, 22 Desember 2010

SOAL UN MATEMATIKA SMP 2003

1.   Dari 42 siswa kelas IA, 24 siswa mengikuti ekstra kurikuler pramuka, 17 siswa mengikuti ekstrakurikuler PMR, dan 8 siswa tidak mengikuti kedua ekstrakurikuler tersebut.
Banyak siswa yang mengikuti kedua kegiatan ekstrakurikuler adalah ........

A.6 orang
B.7 orang
C.9 orang
D.16 orang

2.   Penduduk suatu perkampungan diketahui ada 182 jiwa berusia kurang dari 40 tahun, 128 jiwa berusia lebih dari 20 tahun, sedangkan 85 jiwa berusia di, antara 20 dan 40 tahun. Banyak penduduk di perkampungan itu adalah ........

A.395 jiwa
B.200 jiwa
C.225 jiwa
D.185 jiwa

3.   Seorang pedagang membeli 2 karung beras masing-masing beratnya 1 kuintal dengan tara 2 %. Harga pembelian setiap karung beras Rp 200.000,00. Jika beras itu dijual dengan harga Rp 2.400,00 per kg, maka besar keuntungan adalah ........

A.Rp 34.000,00
B.Rp 56.000,00
C.Rp 68.000,00
D.Rp 80.000,00

4.   Pada segitiga ABC, diketahui besar sudut C = 50°, sedangkan pelurus sudut B = 100°. Jenis segitiga ABC adalah ........

A.segitiga tumpul
B.segitiga sembarang
C.segitiga sama sisi
D.segitiga sama kaki

5.   Keliling sebuah segitiga sama kaki 36 cm. Jika panjang alasnya 10 cm, maka luas segitiga itu adalah ........

A.360 cm²
B.180 cm²
C.120 cm²
D.60 cm²

6.   Keliling persegi ABCD = 64 cm. Luas persegi tersebut adalah ........

A.256 cm²
B.128 cm²
C.32 cm²
D.16 cm²

7.   Gambar di bawah ini menunjukkan jaring-jaring kubus.

Jika persegi nomor 3 merupakan penutup (atas) kubus, maka yang merupakan alas kubus adalah persegi nomor ........

A.1
B.4
C.5
D.6

8.   Limas T.ABCD diketahui panjang AB = BC = CD = AD = 14 cm.
TA = TB = TC = TD = 25 cm.

Jumlah luas sisi tegak adalah ........

A.336 cm²
B.600cm²
C.672 cm²
D.700cm²

9.   Jari-jari alas sebuah kerucut 3,5 cm dan tingginya 12 cm.
Jika digunakan = , maka luas kerucut itu adalah ........

A.132 cm²
B.154 cm²
C.176 cm²
D.198 cm²

10.   Volume sebuah kubus yang memiliki luas sisi 1.176 cm² adalah ........

A.1.331 cm³
B.2.197 cm³
C.2.744 cm³
D.4.096 cm³

11.   Sebuah limas alasnya berbentuk jajaran genjang yang alas dan tinggi masing-masing 12 cm dan 10 cm. Jika volum limas itu 600 cm³, maka tinggi limas tersebut adalah ........

A.30 cm
B.15 cm
C.10 cm
D.5 cm

12.   
Pada gambar di atas diketahui sudut A2 = 78°.
Besar sudut B3, adalah ........

A.16°
B.780°
C.102°
D.122°

13.   
Diketahui jajargenjang PQRS. Bila luas PQRS =144 cm², panjang PQ =18 cm,
dan QU = 9 cm, maka keliling jajargenjang PQRS adalah ........

A.64 cm
B.68 cm
C.72 cm
D.85 cm

14.   Keliling sebuah belah ketupat 68 cm dan panjang salah satu diagonalnya 30 cm.
Luas belah ketupat tersebut adalah ........

A.240 cm²
B.255 cm²
C.480 cm²
D.510 cm²

15.   Berikut ini sifat-sifat layang-layang yang dimiliki belah ketupat adalah ........

A.mempunyai satu sumbu simetri
B.dapat menempati bingkainya dengan 4 cara
C.diagonalnya berpotongan tegak lurus
D.dapat dibentuk dari dua segitiga sembarang yang kongruen

16.   Ali membeli 12 baju dengan harga Rp 336.000,00. Bila Budi akan membeli 18 baju yang sama dengan baju yang dibeli Ali. maka Budi harus membayar sebesar ........

A.Rp 486.000,00
B.Rp 504.000,00
C.Rp 492.00000
D.Rp 528.000,00

17.   Dengan mengendarai sepeda motor, Tono berangkat dari kota A menuju kota B pada pukul. 10.30 dengan kecepatan rata-rata 60 km/jam. Pada saat yang sama Amir mengendarai sebuah mobil dari kota B ke kota A dengan kecepatan rata-rata 80 km/jam. Jika jarak kedua kota tersebut 560 km, maka mereka akan bertemu pada pukul ........

A.13.00
B.13.30
C.14.00
D.14.30

18.   Daerah arsiran yang merupakan tempat kedudukan {(x,y) | ( x + 2y 6 dan x - 3y 3, x, y R} adalah ........

A.
B.
C.
D.

19.   Gradien garis yang tegak lurus dengan garis 3x + 5y + 20 = 0 adalah ........

A.-
B.-
C.
D.

20.   Dari garis-garis dengan persamaan :
I.    y - 5x + 12 = 0
II.   y + 5x -9 = 0
III. 5y - x -12 = 0
IV. 5y + x + 9 = 0
yang sejajar dengan garis yang melalui titik (2, 1) dan (3, 6) adalah ........

A.I
B.II
C.III
D.IV

21.   Jika 3x + 4y = -10 dan 4x - 5y = -34, maka nilai dari 8x +3y adalah ........

A.-54
B.-42
C.42
D.54

22.   Harga 8 buah buku tulis dan 6 buah pensil Rp 14.400,00.
Harga 6 buah buku tulis dan 5 buah pensil Rp 11.200,00.
Jumlah harga 5 buah buku tulis dan 8 buah pensil adalah ........

A.Rp 13.600,00
B.Rp 12.800,00
C.Rp 12.400,00
D.Rp 11.800,00

23.   Rata-rata pendapatan tiap hari 14 orang kuli di suatu terminal bus Rp 7.000,00. Karena ada seorang kuli baru, maka rata-rata pendapatannya menjadi Rp 6.800,00. Besar pendapatan tiap hari kuli yang baru adalah ........

A.Rp 2.800,00
B.Rp 3.000,00
C.Rp 4.000,00
D.Rp 6.800,00

24.   Titik A (5, -3) di translasi , kemudian dilanjutkan oleh rotasi yang pusatnya O dengan besar putaran 90° berlawanan arah jarum jam. Koordinat bayangan titik A adalah ........

A.(10,-15)
B.(-10,-15)
C.(10,15)
D.(-10, 15)

25.   Pada pencerminan terhadap garis x = 6, kemudian dilanjutkan dengan translasi , koordinat bayangan titik (4,-2) adalah ........

A.(7, 7)
B.(7, -21)
C.(11, -7)
D.(11, -11)

26.   Bayangan titik P (12, 6) oleh dilatasi (0, ) yang dilanjutkan translasi adalah ........

A.(6, -2)
B.(6, -1)
C.(2, -6)
D.(-2, -1)

27.   
Trapesium ABCD pada gambar di atas dengan AB = 12 cm, CD = 28 cm, dan
AK= AD. Panjang KL adalah ........

A.15,56 cm
B.18,67 cm
C.22,67 cm
D.26,56 cm

28.   Perhatikan gambar di bawah ini.

Diketahui AC =15 cm, GH = 20 cm. Panjang EB adalah ........

A.19 cm
B.21 cm
C.24 cm
D.25 cm

29.   
Diketahui keliling lingkaran 314 cm, besar POQ = 72°, dan nilai = 3,14.
Luas juring OPQ adalah ........

A.1.470 cm²
B.1.570 cm²
C.2.570 cm²
D.7.850 cm²

30.   Perhatikan gambar di bawa ini !

Bila diketahui: APB + AQB + ARB =144°, maka besar AOB adalah ........

A.37°
B.48°
C.72°
D.96°

31.   Perhatikan gambar di bawah ini !

Panjang PQ = 20 cm, AB = 25 cm, dan AP = 9 cm. Perbandingan luas lingkaran berpusat di A dengan luas lingkaran berpusat di B adalah ........

A.3 : 2
B.5 : 3
C.9 : 4
D.9 : 7

32.   Pemfaktoran dari 9x4 -144y4 = ........

A.(3x² + 12y²) (3x² -12y²)
B.9(x² + 4y²) (x² -4y²)
C.9(x² +2y²) (x² - 2y²)
D.9(x² + 4y²) (x + 2y) (x - 2y)

33.   Bentuk disederhanakan menjadi ........

A.
B.
C.
D.

34.   Suatu fungsi kuadrat f(x) = x²+ 2x -3 dengan daerah asal: D = { x | -4 x 2; x R). Grafik fungsinya adalah ........

A.
B.
C.
D.

35.   Nilai minimum dari f(x) = 2x² + 14x + 24 adalah ........

A.-
B.-12
C.-24
D.-26

36.   Suatu persegipanjang ABCD panjangnya (3x + 2) cm, lebar (2x + 3) cm dan
luas 300 cm². Panjang diagonal AC adalah ........

A.25 cm
B.24 cm
C.20 cm
D.15 cm

37.   Salah satu koordinat titik potong grafik fungsi yang dinyatakan dengan rumus
f(x) = x² - 2x - 24 dengan garis yang memiliki persamaan 4y- 3x -12 = 0 adalah ........

A.(0,4)
B.(0.-4)
C.(4, 0)
D.(-4, 0)

38.   
Gambar di.atas menunjukkan daerah yang dibentuk oleh tali busur dalam lingkaran, 1 buah tali busur membentuk 2 daerah, 2 buah tali busur, membentuk 4 daerah, 3 buah tali busur membentuk 6 daerah. Berapa daerah yang dapat dibentuk bila dibuat 25 buah tali busur ?

A.25
B.35
C.49
D.50

39.   
Luas daerah persegipanjang ABCD adalah ........

A.18
B.18
C.36
D.36

40.   Diketahui log 9 = 0,954. Nilai dari log 27 adalah ........

A.1,431
B.1,908
C.1,9541
D.2,863

Kamis, 09 Desember 2010

Memperbaiki Paradigma Keberhasilan Pendidikan Kita

Memperbaiki  Paradigma  Keberhasilan Pendidikan Kita


Oleh  Drs. MARIJAN
Praktisi Pendidikan di SMPN 5 Wates Kulon Progo Yogyakarta


PEMBANGUNAN bidang pendidikan merupakan salah satu dari sekian banyak indikator keberhasilan pembangunan nasional.  Sampai detik ini masyarakat belum  merasa bangga  dengan hasil pendidikan kita. Kemampuan membaca siswa  SD di urutan 38 dari 39 negara yang diteliti. Kemampuan dibidang IPA siswa SMP di urutan 32 dan matematika 34  dari 38 negara. Hasil laporan  UNDP  tentang Human Development Index ( HDI ) tahun 2002 di ranking 110 dari 173 negara  (Bernas, 26 Juli 2003).
Perilaku oknum  politik yang mementingkan partainya, penguasa dan konglomerat yang mengabaikan ekonomi rakyat, anak jalanan makin bertambah jumlahnya, proporsi pengangguraan mengangkangi  jumlah penduduk negara, tawuran pelajar menjadi persoalan yang biasa dan kejahatan yang makin meneror kenyamanan masyarakat  adalah deretan fakta yang menggambarkan betapa tidak berhasilnya  pembangunan pendidikan kita. Apabila kita cermati titik lemah pendidikan makin terbaca. Ketidakberhasilan pembangunan pendidikan adalah akibat kesalahan arah dan prosesnya.


Pertama, Keberhasilan pendidikan hanya diukur dari keunggulan ranah kognitif saja. Ranah afektif dan psikomotorik  nyaris terabaikan. Masyarakat terlena dengan anggapan bahwa angka (nilai rapor, dan nem) yang tinggi adalah pengantar kesuksesan hidup masa depan. Benarkah anggapan seperti itu ? Tidak seluruhnya.
Menurut penelitian terakhir (Goleman : 1996) ditunjukkan bahwa IQ (Intellectual Quotient) hanya berperan 20 %  menunjang kesuksesan seseorang, sedangkan 80 % sisanya justru EQ (Emotional Quotient) dan SP (Spiritual Quotient)
Kedua, Proses pendidikan berubah menjadi proses pengajaran. Maksudnya, siswa di sekolah menjadi obyek penerima seabrek materi teori tentang sesuatu (materi ajar) bukan dibelajarkan untuk belajar hidup. Siswa hafal dengan banyak materi akan tetapi tidak bisa berbuat tentang materi tersebut. Misalnya siswa dituntut hafal menyebutkan penyair-penyair terkenal dan hasil karyanya tetapi ia sendiri tidak belajar untuk bisa membuat syair/puisi.
Ketiga, Instrumen evaluasi pendidikan mengesampingkan pola berpikir convergen (Arif Rahman : 2003).  Soal-soal ujian selalu berbentuk pilihan ganda tertutup.  Siswa dihadapkan dengan jawaban-jawaban  yang telah ditentukan oleh pembuat soal sehingga nyaris tidak pernah berpikir kreatif, imaginatif dan inovatif.
Kelemahan pengaruh soal pilihan ganda ini masih diperparah oleh penilaian yang tidak menerapkan sistem denda/sanksi. Jawaban yang salah diberi nilai nol padahal jawaban salah pada soal pilihan ganda merupakan bukti bahwa siswa bertindak spekulatif  atau ngawur, asal menjawab. Kalau untung jawaban bisa benar diberi nilai sesuai dengan bobot yang telah ditentukan tetapi kalau salah tidak didenda. Hal inilah menyebabkan siswa tidak terpacu untuk belajar memahami materi.
Keempat, Kemampuan menguasai pengetahuan tidak disertai dengan pembinaan kegemaran belajar. Budaya belajar jika mau ada ujian mewabah pada siswa kita. Belajar menghafalkan materi ajar hanya sepotong-sepotong  adalah budaya yang tak terpisahkan. Lembaga pendidikan (persekolahan) tidak memberikan pembinaan kegemaran belajar secara optimal.
Kelima, Materi pendidikan dan buku – buku pelajaran miskin akan upaya-upaya menyeimbangkan faktor praktek dan teori, faktor iptek dan imtaq, faktor  lembaga pendidikan  dan dunia kerja, faktor kurikulum dan kebutuhan, faktor soal ujian dan pengembangan pola berpikir dan lain-lain.
Keenam, Manajemen pendidikan menekankan tanggung jawab penyelenggaraan pendidikan kepada pemerintah dan bukan kepada seluruh “stake holder“ pendidikan  (masyarakat, orang tua,guru dan siswa sendiri). Alur tanggung  jawab yang demikian ini menuntun pengelola sekolah (kepala sekolah dan guru)  lebih bersikap patuh kepada atasan daripada kepada masyarakat. Akibatnya, menanti petunjuk teknis dan petunjuk pelaksanaan pendidikan dari atasan menjadi budaya yang tak dapat ditinggalkan. Keterlambatan petunjuk dari atasan berpengaruh pada keterlambatan sekolah bertindak.
Ketujuh, Profesi guru yang terkesan menjadi profesi ilmiah saja dan kurang disertai bobot profesi kemanusiaan. Hal ini berakibat suara guru kurang bergema di masyarakat manakala berbicara selain materi ajar. Berbeda dengan seorang dai yang setiap kata dari bibirnya dapat mempengaruhi banyak orang.
Kedelapan, Titel dan gelar menjadi target pendidikan. Akibatnya, terjadi pengejaran gelar dan bukan ilmu pengetahuan. Kondisi pengejaran gelar ini sering  diraih secara tidak sehat. Muaranya, dunia pendidikan pun menjadi ajang bisnis.
Kesembilan, Lemahnya political will pemerintah yang  menempatkan anggaran dan isu pendidikan pada papan bawah. Akibat yang terjadi adalah sarana dan prasarana pendidikan yang kurang memadai, gaji guru tidak merangsang kaum muda yang cerdas. Ujung-ujungnya, guru bukan berasal dari kaum cerdik pandai.  Masih diperparah  oleh kurangnya  sarana dan prasarana pendidikan  maka kualitas pendidikan yang rendah tak terhindarkan adanya.
Bagaimana memperbaiki paradigma keberhasilan pendidikan  ?
Untuk memperbaiki paradigma keberhasilan pendidikan perlu mengacu beberapa titik lemah yang mengangkangi dunia pendidikan kita. Tujuan  belajar di sekolah hendaknya tidak lagi berkutat pada perolehan NEM semata akan tetapi nilai-nilai hidup yang dikendalikan  EQ (Emotional Quotient) dan SP (Spiritual Quotient) perlu dikembangkan . Sebab, dalam menghadapi hidup bermasyarakat, nilai-nilai hidup lebih penting daripada  sekedar NEM yang tinggi.
Nilai semacam menahan diri, mengendalikan emosi, memahami emosi orang lain, memiliki ketahanan menghadapi kegagalan, bersikap sabar, memiliki motivasi diri yang tinggi, kreatif, berempati, bersikap toleran adalah contoh nilai-nilai yang tak dapat dipisahkan dari kehidupan. Untuk itulah lewat pendidikan di sekolah nilai-nilai itu perlu dikembangkan.
Sekolah memang harus memiliki kemampuan memanajemen untuk mengelola berbagai perangkat dan kondisi agar siswa mencapai tujuan belajar. Sebagaimana dikemukakan Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam bukunya, The Learning Revolution (1994 ) bahwa tujuan belajar adalah  pertama, mempelajari  keterampilan dan pengetahuan tentang materi-materi pelajaran spesifik. Kedua , mengembangkan konseptual umum. Ketiga, mengembangkan kemampuan dan sikap pribadi secara mudah dapat digunakan dalam segala tindakan.
Pembaharuan sistem proses belajar mengajar, agaknya menjadi kunci dalam memperbaiki keberhasilan pendidikan. Menumbuhkan kegemaran belajar pada siswa dengan memanfaatkan temuan-temuan terbaru dalam pendidikan  sudah waktunya untuk disampaikan. Konsep discovery dan entertainment, sebaiknya menjadi kiblat arah dan proses pendidikan. Untuk menyiasatinya, perlu adanya keseimbangan antara praktek dan teori di dalam pembelajaran. Hal ini bertujuan agar peserta didik mampu  mengapresiasi ilmu yang diperolehnya dan menemukan relevansi ilmu tersebut dengan kehidupan sehari-hari.
Hal lain yang tak kalah pentingnya untuk memperbaiki paradigma keberhasilan pendidikan ialah kesungguhan  pemberian otonomi kepada lembaga-lembaga pendidikan. Dengan melibatkan secara aktif seluruh stake holder lembaga pendidikan maka akan  terbentuk lembaga pendidikan yang mandiri.  Seiring  dengan kesungguhan pemberian otonomi  ini, pengelola sekolah hendaknya bertanggung jawab mengenai penyelenggaraan pendidikan lebih menguatamakan kepada stake holder daripada kepada pemerintah.
Perbaikan paradigma keberhasilan pendidikan  tentu menyangkut materi pembelajaran itu sendiri. Ini berarti materi pembelajaran perlu revisi.  Untuk menjawab tantangan dunia kerja sehingga terjadi link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja perlu materi ajar yang bisa diterapkan. Prinsipnya, materi ajar bisa dipraktekkan oleh peserta didik. Bersamaan dengan ini upaya peningkatan profesionalisme  guru menjadi suatu keharusan. Sebab, semua ini tanpa didukung oleh guru berkualitas hanya akan sia-sia, tak berjalan.
Untuk inilah pengetahuan guru perlu dipupuk hingga sesubur mungkin. Frederik , dalam buku Sekolah Unggul untuk Meningkatkan Kualitas Pendidikan (2002) berpendapat bahwa guru harus didorong untuk meningkatkan pengetahuannya tentang  perkembangan masalah-masalah  pendidikan. Perlu diadakan program pendidikan  dan penataran secara kontinyu yang memfokus pada kebutuhan-kebutuhan guru. Hal ini untuk menghindari kemungkinan, bahwa guru akan ketinggalan dari kemajuan-kemajuan di bidang pendidikan.
——–