Tampilkan postingan dengan label Alam Sekitar. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alam Sekitar. Tampilkan semua postingan

Rabu, 16 Mei 2012

Sebuah Pandangan Tentang Keseimbangan Air


Air adalah zat yang paling melimpah di permukaan bumi kita. Sekitar tiga perempat permukaan bumi yaitu 70,8% ditutupi oleh air. Selebihnya berupa daratan (29,2%). Volume air di permukaan bumi ini kurang lebih adalah sekitar 1,4 milyar km3, tetapi 97% air tersebut adalah berupa air asin di lautan. Hanya 3% saja air di muka bumi ini yang berupa air tawar.


Dari sekitar 3% air tawar itu, sebanyak 68,7% berupa es yang terdapat di kutub utara dan kutub selatan, serta di puncak gunung-gunung yang tinggi sebagai salju abadi. Sebanyak 30,1% adalah air tawar yang tersimpan dalam tanah sebagai air tanah sampai pada kedalaman 5 km. Sisanya sebanyak 0,9% berupa air tawar yang terdapat di tanaman, uap air di udara dan awan, dan tidak dapat langsung dimanfaatkan secara langsung oleh manusia. Air yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia hanyalah sekitar 0,3% air tawar berupa air permukaan di danau, telaga, waduk, situ, dan sungai.

Manajemen air adalah usaha-usaha menjaga dan mengatur air yang ada di muka bumi ini agar dapat terjaga keberadaannya dan dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Beberapa tahun terakhir, manajemen air menjadisatu isu yang banyak dibahas di berbagai belahan dunia termasuk di negara Indonesia sendiri.

Secara umum, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang memiliki sumberdaya air berlimpah. Berbagai laporan mengenai kondisi neraca air Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami surplus air. Meskipun demikian, terdapat beberapa pulau diIndonesia yang telah mengalami defisit air.

Untuk memenuhi kebutuhan air tawar bersih, secara konvensional masyarakat mendapatkan air dari air sungai, air danau atau mata air. Akan tetapi, jumlah air tawar bersih yang tersedia dari sumber-sumber ini semakin lama semakin berkurang akibat adanya deforestasi, pencemaran air, dan meningkatnya populasi manusia.

Semakin berkurangnya jumlah air di permukaan yang dapat digunakan dibandingkan dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap air tawar bersih terutama dari kalangan industri memaksa dilakukannya pencarian terhadap sumber air tawar bersih yang lain, yaitu dengan melakukan pengeboran sumur untuk mengambil airtanah.

Pengambilan air tanah ini di satu sisi menguntungkan manusia karena masalah kebutuhan air tawar bersih dapat teratasi. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya jumlah populasi manusia dan bertambahnya industri-industri yang membutuhkan air sebagai bahan baku produksi membuat pengambilan airtanah semakin kerap terjadi dengan jumlah pengambilan air yang semakin banyak. Hal ini membuat cadangan airtanah yang ada semakin menipis.

Dari kenyataan-kenyataan tersebut, maka diperlukanlah adanya manajemen terhadap air yang ada agar ketersediaan air dan kebutuhan terhadapnya dapat seimbang. Dengan seimbangnya ketersediaan air dan kebutuhan air, maka kekhawatiran terhadap sulitnya air di masa depan dapat dihilangkan.

Bentuk manajemen air yang dapat diterapkan di Indonesia antara lain adalah menetapkan regulasi terhadap penggunaan air. Dalam hal ini, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Selain itu, bentuk lain dari manajemen air adalah menerapkan diversifikasi sumber air tawar bersih.

Salah satu bentuk diversifikasi yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air tawar yang bersih adalah dengan melakukan rain harvesting atau penadahan air hujan. Dengan menadahkan air hujan dan menyimpannya di suatu kolam penyimpanan, daerah yang mengalami defisit neraca air maupun daerah-daerah yang kesulitan air tawar bersih dapat memenuhi kebutuhannya terhadap air tawar bersih.

Di kota Bandung, manajemen air kurang mendapat perhatian dari pemerintah pada khususnya dan masyarakat kota Bandung pada umumnya. Pemerintah dan masyarakat cenderung tak acuh dengan manajemen air di kota Bandung. Hal ini tercermin salah satunya dari perilaku masyarakat yang membuang sampah ke aliran sungai. Bahkan beberapa industri liar membuang limbah produksinya ke dalam sungai. Hal ini bukan saja mengotori dan mencemari air sungai, tetapi juga membuat jumlah air tawar bersih yang dapat diperoleh dari sungai semakin berkurang.

Selain itu, cerminan akan kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah kota Bandung adalah dari menjamurnya sumur-sumur bor di kota Bandung. Menjamurnya sumur bor ini sampai sekarang belumlah ditindak tegas pemerintah. Entah ada unsur politik atau murni karena kurangnya kesadaran pemerintah. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara airtanah yang masuk ke dalam tanah dari daerah resapan dengan airtanah yang dikuras di daerah limpasan yang ada di perkotaan.

Jika saja menjamurnya sumur bor diiringi dengan perluasan dan pelestarian daerah resapan di daerah Bandung bagian utara, mungkin jumlah air di dalam tanah dapat diseimbangkan antara air yang masuk dan air yang keluar. Tetapi, yang terjadi saat ini adalah daerah resapan kota Bandung semakin sempit dengan dibangunnya gedung-gedung, perumahan, dan pembukaan sawah/perkebunan. Hal ini justru memperparah airtanah yang ada di kota Bandung. Semakin lama semakin sedikit jumlahnya.

Untuk memanajemen air di kota Bandung, diperlukan penyadaran kepada pemerintah dan masyarakat kota Bandung secara umum. Penyadaran ini perlu agar keseimbangan antara air yang masuk dan air yang keluar dapat terjaga dengan baik. Penyadaran ini dapat dilakukan dari diri kita sendiri dengan memberi contoh kepada keluarga kita, teman kita, ataupun tetangga kita.

Selain penyadaran, perlu adanya pemberian contoh kepada pemerintah dan masyarakat akan manajemen air yang baik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa salah satu bentuk manajemen air adalah dengan melakukan diversifikasi air. Di sini, pemberian contoh dapat dilakukan dengan membangun gedung-gedung dengan instalasi tadah hujan di atapnya. Air dari atap ini dialirkan ke sebuah tangki besar di bawah tanah untuk menampung air hujan. Air hujan ini kemudian dapat dijadikan sebagai sumber air bersih yang murah dan ramah lingkungan serta tidak mengganggu keseimbangan air sungai maupun airtanah.


Sumber : km.itb.ac.id

Senin, 16 Januari 2012

Teknik Mengukur Jumlah Gas Metana yang Dihasilkan Peternakan Sapi


Baru-baru ini, para ilmuwan mengembangkan teknik pengukuran pelepasan metana sebagai cara untuk melacak pembuangan gas tanpa mengganggu manajemen rutin kawanan. Ini merupakan bagian dari studi penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh para peneliti dari Agriculture and Agri-Food Canada's Lethbridge Research Centre, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, dan the University of Melbourne in Australia. 


Sapi yang dilengkapi dengan perangkat global positioning untuk melacak pergerakan mereka dan kecepatan angin serta penunjuk pengukur. Tidak seperti studi sebelumnya di mana beberapa ternak ditangani secara harian dan pengukuran metana diambil secara langsung, teknik ini berpusat pada penggunaan laser open-path untuk memperoleh pengukuran jangka pendek pelepasan metana dari seluruh penggembalaan ternak. Misalnya dalam satu studi, teknik ini digunakan untuk melakukan pengukuran berulang konsentrasi metana setiap 10 menit secara langsung lebih dari 18 ternak di paddock. Menurut hasil, teknik yang dikembangkan ini mampu mencapai hasil 77% dari sejumlah metana yang dilepaskan ternak pada satu titik pada sebuah paddock. 

Sean McGinn, penggagas penelitian ini menggambarkan teknik ini sebagai "kemajuan signifikan dalam menilai emisi gas rumah kaca dari industri ternak." 

Penelitian kolaboratif terus mengukur jumlah metana yang dilepaskan oleh ternak lebih lanjut dari sumber-sumber pertanian lainnya. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Environmental Quality edisi Januari / Februari 2011. (earth-climate.science.org)

Ditemukan Molekul Baru yang Dapat Mengurangi Pemanasan Glogal


Sebuah molekul baru telah terdeteksi di atmosfer bumi yang dapat membantu menghasilkan efek pendinginan, demikian diungkapkan para ilmuwan. Tetapi masih harus diteliti lebih lanjut apakah molekul tersebut dapat memainkan peran utama dalam menangani masalah pemanasan global.

Molekul tersebut dapat mengkonversi polutan, seperti nitrogen dioksida dan sulfur dioksida, menjadi senyawa yang dapat menyebabkan pembentukan awan, membantu untuk melindungi bumi dari matahari, kata para peneliti.

Selama seabad yang lalu, suhu rata-rata bumi telah naik 0,8 derajat Celcius. Para ilmuwan mengatakan peningkatan tersebut harus dibatasi hingga di bawah dua derajat Celcius abad ini untuk mencegah naiknya permukaan laut dan konsekuensi yang tidak diinginkan lainnya.

Tapi beberapa strategi dalam membatasi pemanasan, seperti penggunaan energi energi alternatif dan efisiensi energi, tidak memberikan hasil cukup cepat.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science, peneliti dari University of Manchester and Bristol, dan U.S.-based Sandia National Laboratories mendeteksi suatu molekul baru, yang disebut Criegee biradicals, dengan menggunakan sumber cahaya yang sangat kuat, yaitu 100 juta kali lebih kuat dari matahari.

"Kami menemukan Criegee biradicalsbisa mengoksidasi sulfur dioksida, yang akhirnya berubah menjadi asam sulfat, yang memiliki efek pendinginan yang sangat terkenal," kata Carl Percival, salah satu peneliti dan pengamat kimia atmosfer dari Universitas Manchester, Reuters.

Namun, terlalu dini untuk memprediksi berapa banyak molekul harus dibentuk untuk membuat dampak yang besar pada suhu dunia dan aspek keselamatannya pun masih harus diuji.

Efek dari pembentukan awan pada iklim juga masih jauh dari pemahaman.

Pendinginan Bumi
Ketika Gunung Pinatubo di Filipina meletus pada tahun 1991, turut pula tersebar sejumlah besar sulfur dioksida, yang membentuk kabut asam sulfat. Hal ini mengurangi jumlah sinar matahari yang mampu mencapai bumi sekitar 10 persen, menurunkan suhu global sekitar 0,5 derajat Celcius selama dua tahun.

Namun, konsentrasi sulfur dioksida yang tinggi disuntikkan ke atmosfer oleh ledakan besar juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru, hujan asam, dan penipisan lapisan ozon pelindung bumi.

"Para biradicals sendiri tidak calon geo-engineering," kata Percival, mengacu pada cara-cara radikal mendinginkan planet ke bawah, seperti gunung berapi buatan atau pemutih awan untuk membuat mereka memantulkan sinar matahari lebih banyak.

Molekul-molekul yang terdeteksi oleh tim peneliti tersebut terjadi secara alami di hadapan alkena, senyawa kimia yang sebagian besar dilepaskan oleh tanaman.

"Tanaman akan merilis senyawa ini, membuat biradicals dan akhirnya membuat asam sulfat, sehingga dalam efek ekosistem dapat meniadakan efek pemanasan dengan memproduksi aerosol pendinginan," kata Percival.

Efek pendinginan terbesar dapat berpotensi dirasakan di daerah dimana terdapat konsentrasi tinggi dari kedua alkena dan polutan, yang memungkinkan biradicals untuk bereaksi.

"(Efeknya) benar-benar akan mengurangi area hot-spot seperti Hong Kong atau Singapura," kata Percival. (Reuters)

Rabu, 28 Desember 2011

Ilmuwan Temukan Planet Sebesar Bumi


Para ahli astronomi mendeteksi dua planet berukuran sebesar bumi yang mengelilingi bintang serupa dengan matahari kita.

Tim peneliti mengatakan, dulu planet-planet tersebut kemungkinan bisa ditinggali mahluk hidup dan mereka memiliki kondisi yang sama dengan planet bumi.

Mereka menggambarkan temuan itu sebagai kelompok planet terpenting yang pernah ditemukan di luar sistem tata surya bumi.

Rincian hasil penelitian itu diulas di jurnal Nature.

Dr Francois Fressin, dari Pusat Kajian Astrofisika Harvard-Smithsonian di Cambridge, AS, yang memimpin penelitian, mengatakan temuan tersebut adalah awal sebuah "era baru" ditemukannya lebih banyak planet yang sama dengan bumi.

Kedua planet itu saat ini dianggap terlalu panas untuk mendukung sebuah bentuk kehidupan.

Namun menurut Dr Fressin, dahulu planet-planet tersebut terletak jauh dari bintang mereka dan memiliki suhu yang cukup dingin untuk keberadaan air, yang merupakan syarat utama kehidupan.

"Kami tahu bahwa kedua planet ini mungkin telah bergerak mendekati matahari," kata Dr Fressin. "(Planet yang lebih besar) dulu mungkin merupakan kembaran bumi sebab ukurannya sama dengan bumi dan suhunya juga mungkin sama."

Salah satu planet itu, yang dinamakan Kepler 20f, berukuran hampir sama dengan bumi. Sedangkan Kepler 20e sedikit lebih kecil dan lebih dekat dengan bintang yang menjadi orbit mereka.

Letak kedua planet jauh lebih dekat dengan bintang mereka dibandingkan bumi dengan matahari sehingga planet-planet itu memiliki waktu rotasi yang lebih cepat: 20e mengelilingi orbit hanya dalam waktu enam hari, 20f dalam 20 hari sedangkan bumi membutuhkan waktu satu tahun.

Para peneliti mengatakan kedua planet tersebut memiliki permukan berbatu dengan komposisi yang sama seperti bumi.

Fressin mengatakan sepertiga komposisi planet itu mungkin terdiri dari inti besi, seperti bumi. Sisanya mungkin terdiri dari lapisan silikat. Ia juga yakin bahwa planet terluar (Kepler 20f) mungkin telah membentuk atmosfer tebal yang mengandung uap air.

Penemuan ini penting karena ini adalah konfirmasi pertama bahwa planet berukuran sama dan lebih kecil dari bumi ada di luar sistem tata surya kita.

Hal ini juga menunjukkan bahwa teleskop antariksa mampu mendeteksi planet-planet kecil di sekeliling bintang yang terletak ribuan tahun cahaya dari bumi.

Hingga saat ini teleskop Kepler telah menemukan 35 planet yang ukurannya lebih besar dari bumi, kecuali 20e dan 20f. (Media Indonesia) 

Ada Kehidupan di Planet Pluto


Para ahli menermukan hal baru tentang planet Pluto yang terekam teleskop ruang angkasa Hubble. Teleskop tersebut menangkap adanya organisme molekul yang komplek di permukaan planet tersebut. Molekul ini mengandung bangunan karbon kehidupan seperti yang dikenal.

Diketahui, ada sesuatu di permukaan Pluto yang menyerap sinar ultra violet lebih dari yang diperkirakan. Diduga, sesuatu ini adalah organisme, kemungkinan molekul yang mengandung hydrokarbon atau nitrogen yang kompleks.

"Ini penemuan yang mengejutkan. Sebab organisme ini mungkin saja berkaitan dengan warna kemerahan yang dimiliki Pluto," jelas Alan Stern dari Southwest Research Institute, Colorado.

Stern dan koleganya juga menemukan spektrum sinar ultra violet di Pluto pada 1990-an berbeda dengan yang sekarang diketahui. Perbedaan-perbedaan ini mungkin berhubungan dengan perubahan dalam medan planet tersebut.

Ada kemungkinan bahwa peningkatan tajam dalam tekanan atmosfer Pluto telah menyebabkan perubahan di permukaan Pluto. (Media Indonesia) 

Senin, 29 Agustus 2011

EKSPEDISI AMAZON MENEMUKAN SPESIES MONYET JENIS BARU

Sebuah spesies baru yang menyerupai monyet telah ditemukan selama ekspedisi pada daerah yang belum terjamah di Amazon wilayah pertengahan-barat Brasil.
Dari sebuah spesimen, para ilmuwan menyimpulkan bahwa spesies tersebut adalah  jenis Callicebus, atau monyet titi, dan temuan tersebut telah diserahkan kepada para ahli di Museum Emilio Goeldi  di negara bagian Para di Brasil, di mana ia akan dipelajari dan dijelaskan secara resmi. 
"Primata ini memiliki fitur di atas kepalanya dan ekor yang belum pernah diamati sebelumnya pada monyet titi spesies lain yang pernah ditemukan di daerah yang sama, "kata Julio Dalpone, ahli biologi yang menemukan monyet selama ekspedisi yang didukung oleh World Wide Fund for Nature tersebut.
Ekspedisi tersebut menemukan spesies monyet spesies baru tersebut antara Sungai Guariba dan Sungai Roosevelt di bagian barat laut negara bagian Mato Grosso, Brasil.
Ekspedisi 20 hari yang dilakukan pada bulan Desember 2010 tersebut mengekplorasi empat daerah  dilindungi dari Guariba hingga Roosevelt, Tucumã State Park dan Sungai Roosevelt dan Sungai Madeirinha. Hal itu dimaksudkan untuk mengumpulkan informasi dalam rangka meningkatkan pengelolaan daerah-daerah.
Tim menemukan 48 spesies mamalia, termasuk armadillos, trenggiling, rusa dan monyet, serta 313 spesies burung, termasuk beberapa yang sebelumnya hanya terlihat di negara-negara Amerika Selatan lainnya. Survei mereka juga menemukan spesies ikan spesies baru, termasuk ikan lele, kecil, tetra berwarna cerah, dan ikan yang sangat kecil dikenal secara lokal sebagai 'piaus.
Mereka juga menemukan spesies yang terancam, termasuk trenggiling raksasa, armadillo raksasa, berang-berang raksasa, jaguar dan Ocelot.
Sumber : livescience.com

Kamis, 25 Agustus 2011

Hyena Menghitung Musuh untuk Bertahan

Hyena mampu bertahan di belantara dengan mengandalkan kemampuan mendengar dan menentukan jumlah musuh yang datang.

Hewan hyena dapat mendeteksi suara-suara asing di sekitarnya, serta memperkirakan jumlah ancaman dari suara itu. Kemampuan ini diperoleh dari evolusi otak besarnya.

Ia mengembangkan kemampuan otak besar karena hidup di tengah lingkungan sosial yang kompleks, seperti halnya singa dan simpanse. Kemampuan ini sangat penting untuk pertahanan diri, ia akan mutuskan untuk pergi dari tempat itu atau bertahan.

Penelitian tentang ini dilaporkan di jurnal Animal Behavior seperti dikutip dari Futurity.

"Hewan ini lebih waspada jika kawanannya berjumlah sedikit, dan lebih berani jika ramai-ramai,” ungkap Sarah Benson-Amram dari studi zoologi Michigan State University.

Ia juga mengatakan, hyena biasa hidup di tengah kurang dari 90 ekor kawanannya. Sehingga, jika ada musuh datang, ia akan mendengar dan memperkirakan jumlah lawannya itu.

Jika ia merasa ancaman yang datang jumlahnya lebih banyak daripada jumlah kawanannya sendiri, mereka akan merasa rentan.

Sumber :
 

Rabu, 24 Agustus 2011

Wanara yang Tak Kenal Batas

Langur india pelompat ini dikeramatkan, jadi penolong, tapi juga mengganggu.
Di India, langur Hanoman dilatih di New Delhi untuk menakuti-nakuti monyet rhesus  dan hewan liar yang mengacau di tempat umum. Saat menjadi tuan rumah Pesta Olah Raga Persemakmuran 2010 Oktober lalu, dewan kota memanfaatkan 38 langur untuk mengendalikan hewan liar.

Kaum Hindu menghormatinya sebagai simbol dewa Hanoman yang pasukan wanaranya membantu menyelamatkan Sinta, istri dewa Rama, dari Rahwana. Wajah, tangan, serta kaki langur yang hitam mengingatkan luka bakar yang diderita Hanoman.

Di kota Jodhpur di tepi Gurun Thar, atau Great Indian, sekitar 2.100 langur liar biasa memasuki permukiman manusia untuk menikmati sesajen. Kaum Hindu setempat berbagi makanan yang disantap saat piknik di taman dan memenuhi kuil dengan sesajen untuk langur tersebut. Orang-orang pun membiarkan makhluk suci itu memasuki kebun mereka.

Ini selingan bagus bagi kehidupan di Thar yang panas dan kering, membuat hewan sulit bertahan hidup. Langur pun harus berkeliling mencari tanaman dan sesekali serangga untuk makan. Kebanyakan langur hidup di pohon dan sering berlarian di tebing gurun atau bercokol di atap bangunan.

Namun, kini populasi manusia berkembang pesat di kawasan itu. Orang mungkin tergoda untuk membalas jika serbuan langur ke kebun meludeskan hasil tanaman. Bahkan hewan yang dekat di hati ini pun lama-lama tak lagi bisa dicintai.

86 Persen Spesies di Bumi Belum Dikenal

Sebanyak 86 persen spesies di Bumi belum dideskripsikan. Sebuah studi baru memprediksikan jumlah spesies di Bumi adalah 8,7 juta.

"Apakah kita sudah hampir mengenali semua spesies atau masih jauh?" Boris Worm  peneliti dari Dalhousie University, Canada, menjelaskan latar belakang diadakannya studi. "Jawabannya, kita masih jauh," tambah Worm.

Setelah 250 tahun sejak ahli botani Carl Linnaeus merancang sistem taksonomi, katalog untuk beberapa kelas, seperti mamalia dan burung, sudah hampir lengkap. Akan tetapi di kelas lain, katalognya masih jauh dari lengkap.

Misalnya, hanya tujuh persen fungi yang sudah dideskripsikan dan kurang dari 10 persen kehidupan di laut yang berhasil diidentifikasi. "Hewan yang sudah tercatat sekarang adalah hewan yang mudah ditemui, mencolok, dan berukuran besar," jelas Worm.

Sejauh ini, sudah 1,2 juta spesies tercatat. Menurut prediksi berdasarkan sebuah studi baru, Bumi menjadi tempat hidup bagi 8,7 juta spesies. Angka itu didapat setelah para peneliti mengamati pengelompokan spesies dan menggunakan statistik yang rumit.

Beberapa peneliti yang tidak terlibat menganggap studi yang terbit di jurnal PLoS Biology ini masuk akal. "Pendekatannya cerdas. Studi ini akan jadi penelitian yang penting," kata Lucas Joppa, seorang ahli konservasi ekologi dari Microsoft Research.

Sementara itu, Dan Bebber, ahli ekologi dari Earthwatch Institute, mengatakan bahwa studi ini menggunakan metode statistika yang kurang cocok. Tim peneliti menggunakan regresi linear untuk menghitung jumlah spesies. "Metode itu metode yang salah untuk data spesies. Mereka harusnya menggunakan teknik regresi ordinal," kata Bebber yang juga mengatakan jumlah spesies harusnya jauh lebih besar atau lebih sedikit dari perkiraan studi ini.

Terlepas dari metode yang digunakan, Worm mengakui bahwa membuat kategori organisme baru lebih sulit daripada menemukannya. Ilmuwan harus membandingkan temuan mereka dengan sampel-sampel yang ada di museum, menganalisis DNA, dan melengkapi berbagai dokumen. "Prosesnya panjang. Seorang ilmuwan dapat menemukan lusinan spesies sepanjang hidupnya, jika benar-benar beruntung," kata Worm.

Sayangnya, laju kepunahan spesies saat ini sangat cepat. Menurut Worm, lajunya sepuluh hingga ratusan kali lebih cepat dibandingkan laju alami akibat aktivitas manusia. Banyak spesies mungkin sudah punah sebelum berhasil dicatat. "Kalau alam adalah perpustakaan, kita baru menafsirkan 10 buku saja," ujar Worm. (Sumber: National Geographic News)

Minggu, 14 Agustus 2011

Zona Mati Teluk Meksiko tahun 2011 memecahkan rekor Ukuran

Para peneliti dari Texas A&M University telah pulang dari sebuah perjalanan untuk memeriksa keluasan dan ukuran zona mati tahun ini di teluk Meksiko dan mengukurnya sekitar 8,500 km persegi, namun para peneliti menduga luas ini akan semakin besar.
Profesor oseanografi, Steve DiMarco, salah satu otoritas terdepan mengenai zona mati di AS, mengatakan timn penelitinya menempuh lebih dari 2,200 km di daeah Teluk dalam periode lima hari, pertama kali yang berfokus pada bulan juni.
Hipoksia terjadi ketika tingkat oksigen di air laut jatuh ke level rendah yang berbahaya, dan hipoksia parah dapat menghasilkan kematian ikan dan kehidupan laut, menciptakan zona mati kehidupan di daerah tersebut.
DiMarco mengatakan ia akan memeriksa daerah ini lagi tanggal 8 agustus dan akan mengunjungi banyak lokasi yang sama untuk mengambil data tambahan. Secara keseluruhan, 10 peneliti, termasuk enam mahasiswa pasca sarjana, membantu mengumpulkan data pada pelayaran terbaru, yang didanai oleh NOAA Center for Sponsored Coastal Ocean Research and Texas Sea Grant.
 “Daerah hipoksia terbesar masih di sekitar pesisir Lousiana, dimana kita sudah menduganya karena sejumlah besar air tawar masih turun dari sungai Mississippi,” tambahnya. “Daerah hipoksik meluas hingga 80 km lepas pantai. Semakin jauh ke barat menuju Texas, masih ada hipoksia, namun tidak terlalu parah. Walau begitu, kami melihat sejumlah hipoksia juga di daerah Galveston.”
Mississippi adalah sungai terbesar di Amerika Serikat, mengairi 40 persen lahan di negara tersebut. Ia juga bertanggung jawab atas hampir 90 persen buangan air tawar ke Teluk Meksiko.
Sumber berita:

Rabu, 03 Agustus 2011

Inilah Asal Muasal Panas Bumi

Panas sebesar 44 triliun watt terus mengalir dari interior Bumi ke ruang angkasa. Namun, tahukah Anda asal muasal panas ini?
Para geolog mengandalkan pengukuran suhu di lebih dari 20 ribu sumur bor di seluruh dunia. Jurnal Nature Geoscience melaporkan, peluruhan radioaktif uranium, torium, dan kalium dalam kerak bumi dan mantel merupakan sumber utama panas ini.
Pada 2005, kolaborasi pertama ilmuwan di KamLAND (Kamioka Liquid-scintillator Antineutrino Detector) yang berbasis di Jepang ini menunjukkan seperti dikutip thaindian, ada cara mengukur kontribusi itu secara langsung.
Sebuah neutrino, mirip elektron, merupakan partikel dasar yang bergerak mendekati kecepatan cahaya. Namun menurut Berkeley Lab, penyumbang utama KamLAND, berbeda dengan elektron, partikel ini tak membawa muatan listrik.
Kuncinya terletak pada penangkapan apa yang dijuluki KamLAND geoneutrino (geo-antineutrinos) yang dipancarkan saat isotop radioaktif (unsur kimia yang sama dengan massa berbeda) membusuk.
"Sebagai detektor, KamLAND punya kelebihan berbeda," ujar anggota Kementerian Energi Amerika Serikat (AS) di Berkeley Lab Stuart Freedman.
Freedman yang juga merupakan profesor fisika di University of California, Berkeley, mengatakan, “KamLAND secara khusus dirancang guna mempelajari antineutrinos. Kami mampu membedakannya dari gangguan di latar dan mendeteksinya menggunakan sensitivitas sangat tinggi."
Satu hal yang setidaknya 97% pasti adalah peluruhan pasokan radioaktif hanya menyumbang setengah panas bumi. Sumber-sumber lain juga harus diperhitungkan. Antineutrinos dihasilkan tak hanya dalam peluruhan uranium, torium, dan isotop kalium juga dalam variasi lain, termasuk produk fisi dalam reaktor nuklir.

Rabu, 27 Juli 2011

Kadal Ternyata Cerdas

KOMPAS.com — Peneliti dari Duke University, AS, menemukan fakta bahwa kadal tropis Anolis evermanni memiliki kemampuan memecahkan masalah. Kadal berwarna hijau ini memiliki kecerdasan tinggi.
Berdasarkan percobaan yang dilakukan Prof Manual Lead dari Duke University, kadal ini mampu membalikkan semacam piringan. Di balik piringan tersembunyi cacing, makanan kesukaan kadal.
Salah satu caranya dengan menabrak piringan itu hingga terbalik. "Saya terkejut dengan metode ini," kata Lead, Rabu (13/7/2011), kepada BBC. 

Keragaman Spesies Mekongga Memukau Dunia

Tim peneliti dari University of California-Davis, Amerika Serikat, terpukau dengan beragamnya keanekaragaman hayati yang mereka temukan di Pegunungan Mekongga, Sulawesi Tenggara. Dari hasil penelitian sementara, tim tersebut menyimpulkan bahwa Pegunungan Mekongga merupakan salah satu wilayah dengan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.
"Selama penelitian di Mekongga, kami menyaksikan keanekaragaman (hayati) yang luar biasa," kata Professor Lynn Kimsey, Sabtu (23/7/2011). Lynn merupakan salah satu ahli entomologi (serangga) yang selama sebulan terakhir melakukan penelitian bersama tim dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Pegunungan Mekongga.
Lynn menambahkan, selama meneliti di pegunungan yang terletak di Kabupaten Kolaka dan Kolaka Utara, Sultra, itu ia berhasil mengumpulkan 100.000 sampel serangga. Dari jumlah itu, Lynn memprediksi separuhnya merupakan jenis baru yang belum pernah ditemukan sebelumnya.
Direktur Bohart Museum UC-Davis tersebut juga menambahkan, dibandingkan beberapa tempat yang pernah ditelitinya, seperti Cile, Panama, Papua, dan Australia, serangga-serangga yang ditemukan di Mekongga memiliki karakter unik. "Misalnya, kami menemukan lebah raksasa terbesar di dunia (sepanjang 4 cm) yang tak ditemukan di tempat lain," ujarnya.
Selama sebulan terakhir, tim gabungan LIPI dan UC-Davis ini melakukan penelitian lanjutan di Pegunungan Mekongga dalam kerangka International Cooperative Biodiversity Group-Indonesia yang telah berlangsung sejak 2009. Penelitian ini dimaksudkan untuk mendata keanekaragaman hayati Pegunungan Mekongga dan melihat prospek flora dan fauna yang bisa dimanfaatkan untuk obat-obatan, sumber energi, ataupun penanganan hama penyakit.
Selain Lynn, terdapat dua ahli lainnya dari UC-Davis, yakni Bob Kimsey (entomologi) dan Alan Thomas Hitch (ekologi vertebrata). Adapun tim dari LIPI terdiri dari 18 ahli flora dan fauna, seperti ahli mamalia, tumbuhan, reptil, burung, dan ikan, yang salah satu pemimpin timnya adalah ahli botani LIPI, Elizabeth A Widjaja.
KOMPAS.com

Kamis, 21 Juli 2011

Wajah Dunia Pada 2050 Tak Bisa Dikenali

Pertambahan penduduk yang lebih makmur dan bersaing untuk memperoleh sumber daya yang kian langka dapat membuat dunia "tak bisa dikenali" paling lambat pada 2050, demikian peringatan beberapa peneliti dalam konferensi utama ilmu pengetahuan di AS, Ahad (20/2).
PBB telah meramalkan penduduk global akan mencapai tujuh miliar pada tahun ini, dan bertambah jadi sembilan miliar pada 2050. "Kebanyakan pertumbuhan justru terjadi di negara miskin, terutama di Afrika dan Asia Selatan," kata John Bongaarts dari organisasi nirlaba Population Council.
Untuk memberi makan semua mulut itu, "kita nantinya perlu menghasilkan sebanyak mungkin pangan dalam 40 tahun ke depan sebagaimana telah kita lakukan dalam 8.000 tahun belakangan", kata Jason Clay dari World Wildlife Fund dalam pertemuan tahunan tersebut yang diselenggarakan oleh American Association for the Advancement of Science (AAAS).
"Hingga 2050 takkan ada sisa planet yang bisa dikenali", jika kecenderungan saat ini berlanjut, kata Clay. Penduduk yang bertambah akan memparah masalah, seperti berkurangnya sumber daya, kata John Casterline, Direktur Initiative in Population Research di Ohio State University.
Namun penghasilan manusia juga diperkirakan akan naik selama 40 tahun ke depan --tiga kali lipat secara global dan jadi delapan kali lipat di negara berkembang. Kondisi itu justru menambah berat beban bagi pasokan makanan global.
Orang cenderung mendatangi rangkaian gerai makanan saat penghasilan mereka meningkat. Mereka mengkonsumsi makin banyak daging dibandingkan dengan ketika penghasilan mereka lebih sedikit, kata para ahli tersebut.
Diperlukan sebanyak 3,4 kilogram padi-padian untuk menghasilkan satu pon daging, dan sebanyak tiga sampai empat pon padi-padian untuk menghasilkan satu pon keju atau beberapa telur, kata para ahli itu.
"Makin banyak orang, makin banyak uang, makin banyak konsumsi, tapi planetnya tetap yang lama," kata Clay kepada AFP. Ia mendesak para ilmuwan dan pemerintah untuk mulai melakukan perubahan sekarang untuk menghasilkan makanan.
Sementara itu, ahli kependudukan menyerukan pendanaan lebih banyak buat program keluarga berencana guna membantu mengendalikan pertumbuhan jumlah manusia, terutama di negara berkembang.
"Selama 20 tahun, sangat sedikit penanaman modal di sektor keluarga berencana, tapi perhatian mulai balik lagi sekarang, sebagian gara-gara faktor lingkungan hidup seperti pemanasan global dan harga pangan," kata Bongaarts.
"Kami ingin meminimkan pertumbuhan penduduk, dan satu-satunya cara yang tersedia untuk melakukan itu ialah melalui program keluarga berencana yang lebih efektif," kata Casterline.
Meningkatnya suhu global diperkirakan akan menyebabkan perubahan-perubahan lain seperti naiknya permukaan air laut, meningkatnya intensitas fenomena cuaca yang ekstrim, serta perubahan jumlah dan pola pengendapan. Akibat-akibat pemanasan global yang lain adalah terpengaruhnya hasil pertanian, hilangnya gletser, dan punahnya berbagai jenis hewan.
Akibat pemanasan global dan kebutuhan akan perut manusia sangat menekan spesies ikan besar di lautan. Penangkapan ikan secara berlebihan oleh manusia membuat makin sedikit ikan besar pemangsa yang berenang di berbagai samudra di dunia, kata beberapa ilmuwan Jumat (18/2).
"Penangkapan ikan secara berlebihan tentu saja telah berlangsung dan menimbulkan dampak 'ketika kucing tak ada, tikus berkeliaran' terhadap lautan kita," kata Villy Christensen, profesor di UBC Fisheries Centre.
Para peneliti itu juga mendapati lebih dari separuh (54 persen) kemerosotan populasi ikan pemangsa telah terjadi selama 40 tahun terakhir. Sebanyak 76 juta ton makanan laut komersial dilaporkan telah ditangkap pada 2006. Itu berarti "tujuh triliun hewan dibunuh dan dikonsumsi oleh kita atau ternak kita", kata ilmuwan UBC Reg Watson.
Watson mengatakan kegiatan penangkapan ikan telah berkembang selama beberapa dasawarsa belakangan, sehingga secara keseluruhan mencapai posisi 1,7 miliar watt, atau 22,6 juta tenaga kuda, di seluruh dunia tahun itu. (republika.co.id)

Selasa, 19 Juli 2011

Olympus, Inilah Gunung Tertinggi dan Terbesar di Galaxi Kita (3 Kali Mount Everest)

Inilah Dia Gunung Terbesar di Tatasurya. Olympus Mons, adalah gunung terbesar di planet Mars yang juga merupakan gunung terbesar di tatasurya kita. Gunung Olympus Mons ini menjulang dengan tinggi hingga mencapai 27 km dan memiliki diameter 550 km. Di bagian kakinya, Olympus Mons dikelilingi oleh tebing terjal dengan ketinggian minimum 6 km. Di bagian puncaknya, gunung ini memiliki kawah berdiameter 85 km.

Olympus Mons1

Olympus Mons2

Olympus Mons bahkan lebih tinggi daripada tumpukan mount everest. Kita bisa menumpukkan tiga buah Mount Everest, suatu titik tertinggi di bumi ini, dan gunung olympus mons masih jauh lebih tinggi dari tumpukan mount everest.

perbandingan tinggi antara olympus mons dengan tinggi mount everest

Olympus Mons4

Gunung berdiameter terbesar di bumi adalah pegunungan Mauna Loa (Hawai) yang memiliki diameter sepanjang 120 km. Bandingkan dengan diameter Olympus Mons (550 km). 

5 Gunung Api Paling Mematikan di Era Modern

Mengelegar dahsyat seperti ”trompet sangkakala”, mungkin yang terlintas di benak orang-orang yang menjadi korban dari letusan gunung-gunung di bawah ini. Kerusakan dan korban jiwa yang ditimbulkan memang demikian luar biasanya. Bumi mengharu biru seketika itu. Ada masa yang dikenal sebagai “Tahun Tanpa Musim Panas” akibat erupsi yang ditimbulkannya. Dan tahukah? Kedua gunung berapi yang menyebabkan kondisi itu, terletak di negeri tercinta kita Indonesia. Berikut adalah 5 Letusan Gunung Paling Mematikan di Dunia:

1. Gunung Tambora, Indonesia (92.000 tewas)


Gunung Tambora adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di pulau Sumbawa, Indonesia. Aktivitas vulkanik gunung berapi ini mencapai puncaknya pada bulan April tahun 1815 ketika meletus dalam skala tujuh pada Volcanic Explosivity Index. Letusan tersebut menjadi letusan tebesar sejak letusan danau Taupo pada tahun 181. Letusan gunung ini terdengar hingga pulau Sumatra (lebih dari 2.000 km).
Abu vulkanik jatuh di Kalimantan, Sulawesi, Jawa dan Maluku. Letusan gunung ini menyebabkan kematian hingga tidak kurang dari 71.000 orang dengan 11.000-12.000 di antaranya terbunuh secara langsung akibat dari letusan tersebut. Bahkan beberapa peneliti memperkirakan sampai 92.000 orang terbunuh, tetapi angka ini diragukan karena berdasarkan atas perkiraan yang terlalu tinggi. Lebih dari itu, letusan gunung ini menyebabkan perubahan iklim dunia.
Satu tahun berikutnya (1816) sering disebut sebagai Tahun tanpa musim panas karena perubahan drastis dari cuaca Amerika Utara dan Eropa karena debu yang dihasilkan dari letusan Tambora ini. Akibat perubahan iklim yang drastis ini banyak panen yang gagal dan kematian ternak di Belahan Utara yang menyebabkan terjadinya kelaparan terburuk pada abad ke-19.

Selama penggalian arkeologi tahun 2004, tim arkeolog menemukan sisa kebudayaan yang terkubur oleh letusan tahun 1815 di kedalaman 3 meter pada endapan piroklastik. Artifak-artifak tersebut ditemukan pada posisi yang sama ketika terjadi letusan di tahun 1815. Karena ciri-ciri yang serupa inilah, temuan tersebut sering disebut sebagai Pompei dari timur.

2. Gunung Krakatau, Indonesia (36.000 tewas)


Pada hari Senin, 27 Agustus 1883, tepat jam 10.20, meledaklah gunung Krakatau.  National Geographic mengatakan bahwa ledakan itu adalah yang paling besar, suara paling keras dan peristiwa vulkanik yang paling meluluhlantakkan dalam sejarah manusia modern. Suara letusannya terdengar sampai 4.600 km dari pusat letusan dan bahkan dapat didengar oleh 1/8 penduduk bumi saat itu.

Menurut para peneliti di University of North Dakota, ledakan Krakatau bersama ledakan Tambora (1815) mencatatkan nilai Volcanic Explosivity Index (VEI) terbesar dalam sejarah modern. The Guiness Book of Records mencatat ledakan Anak Krakatau sebagai ledakan yang paling hebat yang terekam dalam sejarah.

Ledakan Krakatau telah melemparkan batu-batu apung dan abu vulkanik dengan volume 18 kilometer kubik. Semburan debu vulkanisnya mencapai 80 km. Benda-benda keras yang berhamburan ke udara itu jatuh di dataran pulau Jawa dan Sumatera bahkan sampai ke Sri Lanka, India, Pakistan, Australia dan Selandia Baru.

Letusan itu menghancurkan Gunung Danan, Gunung Perbuwatan serta sebagian Gunung Rakata dimana setengah kerucutnya hilang, membuat cekungan selebar 7 km dan sedalam 250 meter. Gelombang laut naik setinggi 40 meter menghancurkan desa-desa dan apa saja yang berada di pesisir pantai. Tsunami ini timbul bukan hanya karena letusan tetapi juga longsoran bawah laut.

Tercatat jumlah korban yang tewas mencapai 36.417 orang berasal dari 295 kampung kawasan pantai mulai dari Merak (Serang) hingga Cilamaya di Karawang, pantai barat Banten hingga Tanjung Layar di Pulau Panaitan, Ujung Kulon serta Sumatera Bagian selatan. Di Ujungkulon, air bah masuk sampai 15 km ke arah barat. Keesokan harinya sampai beberapa hari kemudian, penduduk Jakarta dan Lampung pedalaman tidak lagi melihat matahari. Gelombang Tsunami yang ditimbulkan bahkan merambat hingga ke pantai Hawaii, pantai barat Amerika Tengah dan Semenanjung Arab yang jauhnya 7000 kilometer.


3. Gunung Vesuvius, Italia (33.000 tewas)


Gunung Vesuvius adalah satu-satunya gunung berapi aktif di Daratan Eropa yang terletak di sebelah timur Napoli, Italia. Pada tahun 79 M, letusan gunung ini menghancurkan kota Pompeii. Pompeii adalah sebuah kota zaman Romawi kuno yang telah menjadi puing dekat kota Napoli dan sekarang berada di wilayah Campania, Italia.

Debu letusan gunung Vesuvius menimbun kota Pompeii dengan segala isinya sedalam beberapa kaki menyebabkan kota ini hilang selama 1.600 tahun sebelum ditemukan kembali dengan tidak sengaja. Semenjak itu penggalian kembali kota ini memberikan pemandangan yang luar biasa terinci mengenai kehidupan sebuah kota di puncak kejayaan Kekaisaran Romawi. Saat ini kota Pompeii merupakan salah satu dari Situs Warisan Dunia UNESCO.

Gunung ini diperkirakan telah meletus beberapa kali dan saat ini dianggap sebagai salah satu gunung berapi yang paling berbahaya di dunia karena terdapat penduduk sebesar 3.000.000 orang yang tinggal di dekatnya, dengan kecenderungan mereka tinggal ke arah ledakan (Plinian) letusan.


4. Gunung Mont Pelee, Prancis (29.000 tewas)


Gunung Mont Pelee adalah sebuah gunung di Prancis yang meletus dan menghancurkan Kota St. Pierre beserta 30.000 warganya pada tahun 1902. Gunung berapi itu meletus pada pagi hari dan tercatat sebagai salah satu letusan gunung terbesar yang paling banyak menimbulkan korban jiwa dalam sejarah selain letusan Gunung Krakatau dan Tambora di Indonesia. St. Pierre adalah sebuah desa di Pulau Martinique dan kini menjadi daerah pariwisata.


5. Gunung Nevado del Ruiz, Kolombia (23.000 tewas)


Nevado del Ruiz adalah sebuah stratovolcano yang terletak di Kolombia. Gunung ini merupakan gunung yang terletak di bagian paling utara Sabuk vulkanik Andes dan terbentang sekitar 15 mil sebelah tenggara dari Manizales, dengan kota Armero di lembah dekat gunung ini. Nevado del Ruiz  adalah gunung tertinggi dan gunung yang terletak paling utara di Kolombia. Letusannya pada tahun 1985 memproduksi lahar yang mengubur kota dan menyebabkan kematian sebesar 23.000 orang. Peristiwa ini disebut tragedi Armero. Nevado del Ruiz disebut juga sebagai  “singa tidur” oleh penduduk setempat.

Itulah beberapa gunung api paling mematikan di era modern, sebenarnya ada beberapa gunung api maha dasyat yang terjadi ribuan tahun yang lalu contohnya Toba super volcano yang memusnahkan 70% umat manusia saat itu dan Mount Batur super vulcano yang menciptakan pulau bali, dan masih banyak lagi, mengapa tidak ada didaftar? alasan satu-satunya adalah  kelima gunung api inilah yang bisa dicatat oleh umat manusia, sedangkan sebelum-sebelumnya peradaban manusia belum terbentuk.

oh ya, satu-satunya super vulcano yang masih tersisa saat ini adalah "Yellow stone park" yang berada di amerika serikat, jika super vulcano itu meletus, kekuatannya hampir sama mematikan dengan Toba super vulcano yang meletus 30.000 tahun yang lalu, dan cukup untuk membelah amerika menjadi dua bagian.. hiii.. ngeri... kapan itu terjadi? no body knows..

sumber:
uniknya and apasih.com