Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lingkungan. Tampilkan semua postingan

Senin, 16 Januari 2012

Teknik Mengukur Jumlah Gas Metana yang Dihasilkan Peternakan Sapi


Baru-baru ini, para ilmuwan mengembangkan teknik pengukuran pelepasan metana sebagai cara untuk melacak pembuangan gas tanpa mengganggu manajemen rutin kawanan. Ini merupakan bagian dari studi penelitian kolaboratif yang dilakukan oleh para peneliti dari Agriculture and Agri-Food Canada's Lethbridge Research Centre, the Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, dan the University of Melbourne in Australia


Sapi yang dilengkapi dengan perangkat global positioning untuk melacak pergerakan mereka dan kecepatan angin serta penunjuk pengukur. Tidak seperti studi sebelumnya di mana beberapa ternak ditangani secara harian dan pengukuran metana diambil secara langsung, teknik ini berpusat pada penggunaan laser open-path untuk memperoleh pengukuran jangka pendek pelepasan metana dari seluruh penggembalaan ternak. Misalnya dalam satu studi, teknik ini digunakan untuk melakukan pengukuran berulang konsentrasi metana setiap 10 menit secara langsung lebih dari 18 ternak di paddock. Menurut hasil, teknik yang dikembangkan ini mampu mencapai hasil 77% dari sejumlah metana yang dilepaskan ternak pada satu titik pada sebuah paddock

Sean McGinn, penggagas penelitian ini menggambarkan teknik ini sebagai "kemajuan signifikan dalam menilai emisi gas rumah kaca dari industri ternak." 

Penelitian kolaboratif terus mengukur jumlah metana yang dilepaskan oleh ternak lebih lanjut dari sumber-sumber pertanian lainnya. Hasil penelitian ini telah diterbitkan dalam Journal of Environmental Quality edisi Januari / Februari 2011. (earth-climate.science.org)

Ditemukan Molekul Baru yang Dapat Mengurangi Pemanasan Glogal


Sebuah molekul baru telah terdeteksi di atmosfer bumi yang dapat membantu menghasilkan efek pendinginan, demikian diungkapkan para ilmuwan. Tetapi masih harus diteliti lebih lanjut apakah molekul tersebut dapat memainkan peran utama dalam menangani masalah pemanasan global.

Molekul tersebut dapat mengkonversi polutan, seperti nitrogen dioksida dan sulfur dioksida, menjadi senyawa yang dapat menyebabkan pembentukan awan, membantu untuk melindungi bumi dari matahari, kata para peneliti.

Selama seabad yang lalu, suhu rata-rata bumi telah naik 0,8 derajat Celcius. Para ilmuwan mengatakan peningkatan tersebut harus dibatasi hingga di bawah dua derajat Celcius abad ini untuk mencegah naiknya permukaan laut dan konsekuensi yang tidak diinginkan lainnya.

Tapi beberapa strategi dalam membatasi pemanasan, seperti penggunaan energi energi alternatif dan efisiensi energi, tidak memberikan hasil cukup cepat.

Dalam sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal Science, peneliti dari University of Manchester and Bristol, dan U.S.-based Sandia National Laboratories mendeteksi suatu molekul baru, yang disebut Criegee biradicals, dengan menggunakan sumber cahaya yang sangat kuat, yaitu 100 juta kali lebih kuat dari matahari.

"Kami menemukan Criegee biradicalsbisa mengoksidasi sulfur dioksida, yang akhirnya berubah menjadi asam sulfat, yang memiliki efek pendinginan yang sangat terkenal," kata Carl Percival, salah satu peneliti dan pengamat kimia atmosfer dari Universitas Manchester, Reuters.

Namun, terlalu dini untuk memprediksi berapa banyak molekul harus dibentuk untuk membuat dampak yang besar pada suhu dunia dan aspek keselamatannya pun masih harus diuji.

Efek dari pembentukan awan pada iklim juga masih jauh dari pemahaman.

Pendinginan Bumi
Ketika Gunung Pinatubo di Filipina meletus pada tahun 1991, turut pula tersebar sejumlah besar sulfur dioksida, yang membentuk kabut asam sulfat. Hal ini mengurangi jumlah sinar matahari yang mampu mencapai bumi sekitar 10 persen, menurunkan suhu global sekitar 0,5 derajat Celcius selama dua tahun.

Namun, konsentrasi sulfur dioksida yang tinggi disuntikkan ke atmosfer oleh ledakan besar juga dapat menyebabkan penyakit paru-paru, hujan asam, dan penipisan lapisan ozon pelindung bumi.

"Para biradicals sendiri tidak calon geo-engineering," kata Percival, mengacu pada cara-cara radikal mendinginkan planet ke bawah, seperti gunung berapi buatan atau pemutih awan untuk membuat mereka memantulkan sinar matahari lebih banyak.

Molekul-molekul yang terdeteksi oleh tim peneliti tersebut terjadi secara alami di hadapan alkena, senyawa kimia yang sebagian besar dilepaskan oleh tanaman.

"Tanaman akan merilis senyawa ini, membuat biradicals dan akhirnya membuat asam sulfat, sehingga dalam efek ekosistem dapat meniadakan efek pemanasan dengan memproduksi aerosol pendinginan," kata Percival.

Efek pendinginan terbesar dapat berpotensi dirasakan di daerah dimana terdapat konsentrasi tinggi dari kedua alkena dan polutan, yang memungkinkan biradicals untuk bereaksi.

"(Efeknya) benar-benar akan mengurangi area hot-spot seperti Hong Kong atau Singapura," kata Percival. (Reuters)

Senin, 24 Oktober 2011

Erupsi Vulkanik: Menghancurkan Tetapi Vital


Gunung-gunung berapi adalah bukti nyata dari daya kekuatan mahadahsyat yang disimpan Bumi kita. Erupsi gunung berapi, mulai dari material debu, gas, hingga lava (magma cair) mampu menghancurkan sekaligus suatu kota serta membunuh sejumlah besar orang.
Namun tak bisa dipungkiri, keberadaan gunung berapi pun vital bagi kehidupan di Bumi. Di samping merusak, aktivitas vulkanik gunung berapi punya peranan menambah tingkat kesuburan pada tanah, menciptakan keadaan sempurna untuk banyak vegetasi tanaman. Beberapa jenis gunung berapi dapat membuat wilayah lempeng tektonik baru yang akhirnya ikut mempengaruhi permukaan Bumi. Tanpa gunung berapi dan lempeng ini, tanah yang tandus tidak akan dapat diperbarui.
Secara umum, ada tiga tipikal gunung api. Pertama, gunung api stratovulkanik. Dikenal sebagai gunung berapi paling mematikan ketimbang dua tipe lainnya. Magma gunung api stratovulkanik mengandung silika, yang kental. Kekentalan ini "menyumbat" gunung, dan menyebabkan tekanan ke dalam semakin kuat sehingga sangat potensial memupuk, menghasilkan energi eksplosif berbahaya jika sewaktu-waktu terjadi letusan dan isi perut gunung dimuntahkan.
Selain stratovulkanik, juga ada tipe gunung api perisai (shield volcano) yang sangat luas. Namun gunung api yang berlereng landai karena berasal dari endapan lava saat cair, dan tersusun dari batuan yang bersifat basaltik ini cenderung lebih tidak mematikan.
Sementara gunung api kerucut (cinder cone volcano) merupakan gunung berapi yang terbentuk oleh abu dan pecahan kecil batuan vulkanik menyebar di sekeliling gunung. Sebagian besar gunung jenis ini membentuk mangkuk di puncaknya.
(Sumber: nationalgeographic.co.id)

Kamis, 25 Agustus 2011

Tas Plastik untuk Daur Ulang Kehidupan

Kantong plastik itu kadang gak terlalu kita peduliin, makanya kita sering kaget waktu ngebuka lemari, tau-tau banyak kantong plastik berguguran. Kantong plastik itu emang ngebantu bawain barang dari toko, tapi dia nyampahin dan berbahaya juga buat kehidupan laut. Jadi kita gembira saat umat manusia menemukan alternatif: kantong daur ulang. Bukannya membuang miliaran kantong plastik tiap tahun, konsumen cukup membeli tas belanja anyaman plastik. Tas ini bisa dicuci dan dipakai lagi ratusan kali dan pembelanja bisa pergi pulang membawa tas gituan. Kantong plastik akan lenyap, lingkungan akan jauh lebih baik. Ya nggak?
Dia dibuat di China, dikapalkan ribuan mil ke seberang lautan, dibuat dari plastik dan perlu waktu bertahun-tahun untuk meluruh. Ia juga diharapkan menjadi pelarian kita dari sampah: tas belanja yang dapat dipakai lagi.
Ternyata, studi dinas lingkungan AS menemukan kalau kantong plastik atau HDPE (High density Polythene) yang kita peroleh dari belanja, yang hanya sekali pakai itu, hampir 200 kali lebih ramah lingkungan daripada tas belanja yang dikampanyekan ahli lingkungan, dan memiliki kurang dari sepertiga emisi CO2 daripada kantong kertas.
Di AS, supermarket kadang memberi potongan pada pelanggan jika mereka membawa sendiri kantong mereka dari rumah. Trend ini membuat penggunaan kantong plastik biasa menurun dan tas belanja plastik anyaman murah meriah meningkat. Tapi parahnya, hanya 10% pelanggan yang secara teratur membawa tas belanja anyaman pastiknya saat belanja kembali dan 60% bahkan mengaku tidak pernah sekalipun dua kali membawa tas belanja anyaman plastik yang sama saat belanja. Begitu pulang, tas itu diperlakukan sama dengan kantong plastik biasa. Dan karena tas tersebut 200 kali lebih boros CO2(karena proses produksi yang lebih lama dan proses peluruhan yang juga lebih lama di tempat sampah) maka tujuan awalnya untuk menurunkan pemanasan global justru berbalik menjadi ikut menambah parahnya pemanasan global.
Ironis yah?
Referensi
Associated Press. 1 February 2011. Some Grocers Abandon Rebates for Reusable Bags.
Cracked. http://www.cracked.com/article_19123_6-socially-conscious-actions-that-only-look-like-they-help_p2.html#ixzz1IBIWwqQJ
Gamerman, E. An Inconvenient Bag.
Hickman, M. 20 February 2011. Plastic Fantastic! Carrier Bags ‘Not Eco-Villains After All’
Ram, R.S. 4 February 2010. Reusable Bags are an Environmental Solution – Not a Problem. The Guardian

Selasa, 16 Agustus 2011

Bagaimana Ilmuan Merekonstruksi Lingkungan Purba

Australopithecus africanus di sabana afrika
Peneliti mempelajari hubungan lingkungan dan ekologi prasejarah sehingga mereka bisa merekonstruksi interaksi masa lalu antara tanaman, hewan dan leluhur kita. Penelitian ini juga membantu mencipta ulang manusia purba dan pola makan manusia purba dengan menemukan makanan yang tersedia dalam lingkungan dimana mereka hidup.

Hewan adalah sumber informasi yang baik mengenai lingkungan masa lalu. Studi pada anatomi mereka mengungkapkan apakah mereka pemakan rumput atau buah. Informasi ini dapat membantu merekonstruksi lingkungan. Isotop karbon 13 dalam gigi hewan juga memberi petunjuk mengenai apa yang dimakan sang hewan.

Tanaman digolongkan pada dua tipe yang berbeda secara kimia: tipe C3 dan tipe C4. Tanaman tipe C3 termasuklah pohon, perdu dan tanaman berkayu lainnya; tanaman C4 sebagian besar rerumputan. Karena tanaman C3 mengandung lebih sedikit isotop karbon 13 daripada tanaman C4, para peneliti dapat mengukur rasio karbon-12 terhadap karbon-13 dalam gigi hewan. Tingginya level karbon-13 menunjukkan kalau hewan ini memakan rumput – atau memakan hewan lain yang memakan rumput.
Karena tanaman lebih jarang menjadi fosil ketimbang hewan, kehidupan tanaman prasejarah lebih sulit di rekonstruksi. Untungnya, hal yang sama tidak berlaku pada serbuk sari tanaman, yang sering terjebak dalam tanah dan terlestarikan selama berjuta tahun. Studi serbuk sari yang memfosil disebut palinologi. Karena tiap tanaman memiliki serbuk sari yang unik bentuknya, tanaman purba dapat ditentukan dari fosil serbuk sarinya. Tanaman yang memang memfosil disebut fitolit; cetakan bentuk daun atau batang juga sering ditemukan.
Perubahan iklim purba dapat ditentukan dengan memeriksa isotop oksigen. Oksigen 16 menguap dengan mudah dari samudera dan masuk ke dalam es glasial; ketika es glasial meleleh, isotop ini kembali ke samudera. Oksigen 18 lebih berat dan cenderung tetap berada di samudera. Foraminifera, protozoa laut yang hidup di samudera, memakan oksigen apapun yang ada di sekitarnya kedalam selnya. Pada saat dingin, cangkang foraminifera mengandung lebih banyak oksigen 18; pada saat hangat, mereka mengandung lebih banyak oksigen 16.
Bukti geologi juga berperan penting dalam mempelajari lingkungan masa lalu. Perekaman stratigrafi atau pelapisan, dari endapan danau dan sungai membantu para peneliti melacak perubahan seiring waktu pada tanaman, hewan dan sumber air setempat. Tampilan permukaan seperti bentuk daratan dan pola erosi dapat mengungkapkan keberadaan air di masa lalu. Variasi dalam bahan organis yang ada dalam tanah menyediakan informasi mengenai iklim prasejarah. Dan akhirnya, peristiwa prasejarah besar seperti aktivitas vulkanis merupakan indikator perubahan iklim besar-besaran, baik lokal maupun global.
Referensi
Donald Johansson. Becoming Human

Sumber Lithium terbesar di dunia, Salar de Uyuni

Dataran garam Salar de Uyuni di Bolivia, mencakup lebih dari 10 ribu km persegi, adalah yang paling luas di dunia, dan begitu datar sehingga permukaannya dipakai untuk mengkalibrasi altimeter di satelit. Pada hari yang tenang, lapisan tipis air menutupi garam membentuk cermin besar yang memantulkan langit.
Masyarakat desa Colchani menumpuk garam-garam dalam bentuk piramida sebagai sumber mata pencaharian. Namun dibawah kecemerlangan ini adalah garam yang kaya lithium dengan potensi komersial besar. Menurut laporan terbaru IS Geological Survey, Salar de Uyuni mengandung 9 juta ton litium, lebih dari seperempat sumber daya yang sudah di tambang di dunia. Jumlah ini lebih besr lagi menjadi 50 persen bila mempertimbangkan 30 salar dan laguna lain yang ada di Bolivia barat daya.
Lithium semakin dibutuhkan sebagai bahan baterai yang mentenagai ponsel, laptop, piranti nirkabel, dan sejumlah kendaraan hibrid dan elektrik, sedemikian hingga dikhawatirkan kebutuhannya akan segera menghabisi sumber daya. Dengan cara ini, Bolivia dapat menjadi Saudi Arabia untuk lithium, sehingga presiden sosialisnya, Evo Morales, segera mengamankan lokasi ini di bawah pengendalian pemerintah. Negara ini telah menghabiskan tiga tahun dan lebih dari 10 juta USD dalam pembangunan instalasi perdana untuk mengekstrak litihium. Namun menurut Juan Carlos Zuleta, seorang analis ekonomi lithium yang berbasis di ibu kota La Paz, ini memberi hasil yang kasar.
Eksploitasi lithium di Salar de Uyuni dapat memberi dampak.  Salah satunya adalah kehidupan liar: daerah ini adalah lahan perkembang biakan flamingo yang langka. Masalah lain adalah kesehatan masyarakat. Sebuah studi oleh Karin Broberg dari Universitas Lund di Swedia, dalam empat desa pegunungan di Andes Argentina menemukan kalau wanita disana mencerna begitu banyak lithium dari air tanah sehingga mereka menderita gejala yang sama dengan hipotiroidisme: kehilangan berat, kaku, depresi, dan lupa ingatan. Kondisi juga dapat dialami oleh mereka yang dirawat dengan lithium pada penderita gangguan bipolar. “Sekarang kita sangat ingin mempelajari masalah paparan lithium pada air minum di Bolivia,” kata Broberg.
Sumber
New Scientist, 11 Juni 2011
Referensi lanjut
Broberg K, Concha G, Engström K, Lindvall M, Grandér M, Vahter M 2011. Lithium in Drinking Water and Thyroid Function. Environ Health Perspect 119:827-830. doi:10.1289/ehp.1002678

Jumat, 05 Agustus 2011

Tanaman Unik yang Bisa Memandu Kelelawar

Sejenis tanaman merambat yang hidup di wilayah Kuba, Marcgravia evenia, kiranya merupakan tanaman yang paling menarik. Tanaman ini memiliki bentuk daun seperti piringan parabola sehingga mampu menggemakan gelombang bunyi ultrasonik yang memandu kelelawar untuk lebih mudah mengenali mangsa.
"Tanaman ini bisa menghasilkan gema yang sangat spesial. Gema yang dihasilkan sangat keras dan konstan dari berbagai sisi," Ralph Simon, ahli biologi dari University of Ulm di Jerman, seperti dikutip dari situs web The New York Times, Jumat (29/7/2011) lalu.
Berdasarkan penelitian Simon yang dipublikasikan di jurnal Science bulan lalu, daun tanaman ini bisa membantu kelelawar menemukan feeder atau buruannya 50 persen lebih cepat. Jika feeder diletakkan di daun lain, maka kecepatan berkurang 6 persen.
Daun berbentuk piring ini rupanya juga memberi keuntungan tersendiri bagi Marcgravia evenia. "Bagi tanaman, daun yang dimiliki juga membantu meningkatkan kesuksesan penyerbukan," kata Simon. Kelelawar yang datang bisa membantu menjatuhkan serbuk sari.
Diketahui, saat ini ada ratusan spesies di zona Neotropical yang bergantung pada 40 jenis kelelawar untuk membantu penyerbukannya. Masing-masing memiliki adaptasi morfologi dengan mengembangkan ciri-ciri yang mengundang kelelawar datang.
Karakteristik daun Marcgravia evenia adalah ciri pertama yang berhasil diidentifikasi berkaitan dengan adaptasi morfologi untuk mengundang kelelawar.
Sumber :
New York Times

Rabu, 27 Juli 2011

Pohon Lebih Merana di Musim Dingin

KOMPAS.com - Pepohonan di kawasan barat laut Amerika Utara, yang merupakan kawasan dengan ukuran batang tertinggi di dunia, menghadapi ancaman besar, justru di musim dingin. Hal ini tidak sesuai dengan anggapan ilmuwan bahwa pohon lebih merana di musim panas.
Dari sebuah studi yang dilakukan, terungkap bahwa pepohonan di sana mengalami krisis air di musim dingin. Menurut peneliti dari Oregon State University dan US Forest Service, meski pepohonan itu berdiri tegak di sekitar kawasan danau, namun mereka tidak mendapatkan pasokan air karena aliran air membeku. Meski penyebabnya berbeda dengan krisis air di musim kering, hasil akhir krisis tersebut serupa.
"Semua orang mengira bahwa musim panas merupakan musim yang paling berat bagi pepohonan. Tetapi dari sisi air, musim dingin bahkan lebih menyulitkan para pohon," kata Katherine McCulloch, peneliti dari Oregon State University.
Pohon punya kemampuan lebih baik mengatasi kesulitan air di musim panas dibandingkan musim dingin. Saat musim panas, mereka menutup stomata (lubang pori-pori di daun atau bagian pohon lainnya), menyimpan air, dan mengurangi fotosintesis serta pertumbuhan.
Di kawasan perairan dengan curah hujan mencapai 2 meter per tahun, McCulloch dan timnya melihat pohon dengan xilem (selaput kayu) di cabang-cabang kecil di bagian atas tidak bisa menyalurkan air sebanyak ketika di musim panas. Ternyata siklus pembekuan dan pencairan air merupakan masalah terbesar dari transportasi air di dalam pohon.
Peneliti menyebutkan, studi semacam ini dinilai sangat penting untuk lebih memahami cara hutan bisa merespons iklim yang lebih hangat atau kering di masa depan. Meski kini peneliti mengetahui bahwa pohon lebih mampu bertahan dalam menghadapi musim kemarau dibanding perkiraan sebelumnya, namun belum tentu pohon bisa bertahan di masa yang akan datang.
"Jika iklim menghangat, kita kemungkinan akan mengalami siklus musim dingin yang lebih dingin," kata McCulloch. "Ada banyak variabel efek dari perubahan iklim yang sejauh ini belum bisa kita pahami," ucapnya.
Penelitian itu sendiri dilakukan di fasilitas penelitian Wind River Canopy Crane, dan hasilnya telah dipublikasikan di American Journal of Botany. (National Geographic Indonesia/Abiyu Pradipa)

Senin, 18 Juli 2011

Ganggang Kuno Jadi Sumber Energi

Ganggang Kuno Jadi Sumber Energi
Ganggang kuno yang ditemukan sebuah tim peneliti bisa menjadi sumber energi masa depan. Pasalnya, ganggang tersebut bisa memproduksi bahan bakar nabati secara mandiri. Hal ini dilaporkan oleh tim peneliti pimpinan Joe Chappell dari University of Kentucky College of Agriculture.

Chappell dan timnya menemukan spesies ganggang yang dinamakan Botryococcus braunii yang jejak kimianya, yang berupa minyak, berubah menjadi kepingan deposit batu bara dan minyak bumi. Organisme ini hidup di bumi sejak lebih dari 500 tahun lalu dan masih hidup hingga saat ini. "Perusahaan kimia dan petrokimia besar pun telah mempelajarinya," kata Chappell. Apabila para ilmuwan berhasil menangkap cetak biru genetis dari proses biosintesis minyak bernilai tinggi ini, mereka akan dapat mengembangkan gen untuk membuat produksi bahan bakar alternatif.

Saat ini, para ilmuwan berupaya mengisolasi gen yang diperlukan, melakukan karakterisasi sifat-sifat biokimia yang terdapat dalam gen itu, untuk selanjutnya membuat ragi yang bisa menghasilkan minyak bernilai tinggi ini.

Menurut profesor Tim Devarenne, salah satu anggota tim yang berasal dari Texas A&M University, studi ini berhasil mengenali mekanisme molekular pembentukan hidrokarbon yang tidak ditemui pada organisme lain. Studi ini juga membuka wawasan mengenai proses pembentukan hidrokarbon. (Sumber: Science Daily)

Minggu, 17 Juli 2011

Predator Hilang, Ekosistem Berubah

Lenyapnya sejumlah binatang pemangsa pada rantai mekanan teratas, seperti singa, serigala, dan hiu menyebabkan perubahan yang tak terduga pada rantai makanan di seluruh dunia. Sebuah kajian yang ditulis oleh 24 ilmuwan menyatakan bahwa binatang pemangsa tersebut, yang disebut apex predator, memainkan peran krusial dalam ekosistem. 

Tim yang dipimpin oleh James Estes, dosen ekologi dan biologi evolusioner di University of California, Santa Cruz, mengungkap bahwa menghilangnya predator dapat menyebabkan terjadinya perubahan pada vegetasi, frekuensi kebakaran hutan, penyakit menular, spesies invasif, kualitas air, hingga siklus nutrisi. Perburuan dan hilangnya habitat karena pelmbalakan dan perubahan fungsi hutan menyebabkan penurunan populasi binatang tersebut. 

“Hilangnya pemangsa puncak bisa dikatakan sebagai pengaruh umat manusia yang paling luas terhadap alam,” kata tim itu dalam kesimpulan kajian yang dipublikasikan dalam jurnalScience, Jumat, 15 Juli 2011. 

Dalam kajian itu, para peneliti memeriksa berbagai temuan studi ekosistem darat, laut, maupun sungai dan danau. Hilangnya predator di bagian teratas rantai makanan akan menyebabkan dampak yang mengalir terus hingga ke rantai paling bawah. 

Mereka memberi beragam contoh, seperti menyusutnya populasi serigala menyebabkan meledaknya populasi rusa elk di Taman Nasional Yellowstone dan pada akhirnya membuat vegetasi rumput dan semak menipis tajam. Penurunan jumlah singa dan leopard di beberapa tempat di Afrika telah mengubah populasi olive baboon (Papio anubis) dan meningkatkan kontak mereka dengan manusia. Hal ini akhirnya menyebabkan peningkatan parasit usus baik pada manusia maupun kera itu.

tempointeraktif

Rabu, 22 Juni 2011

Ini Dia, Pemandangan Terindah di Amerika

Bagi Anda yang sering mengunjungi Negeri Paman Sam ini, pastinya tidak akan pernah lupa mampir di air terjun dan danau di sana.

Adalah Minnesota, salah satu tempat yang menawarkan pemandangan paling Indah di Amerika. Anda bisa pergi ke Taman Gooseberry Falls State untuk melihat air terjun dan Danau Superior Minnesota.

Namun sebelum tiba di Minnesota itu, Anda akan diajak mendaki ke area Superior Hiking Trail sepanjang 277-mil (365 kilometer) yang terletak di atas Danau Superior hingga ke wilayah perbatasan Ontario.

Ini merupakan jalur pendakian terbaik di antara negeri Continental Divide dan Appalachian Trail yang mencakup tebing-tebing kasar dan pegunungan di sekitar sungai dan danau.

Di dekatnya (134 meter) juga terdapat sebuah dermaga yang biasanya dihuni oleh berang-berang. Namun, beberapa hewan, seperti moose (rusa Amerika Utara), beruang, serigala, coyote, atau belibis sering terlihat pula.

Dengan biaya perjalanan Superior Shuttle dan Boundary Country Trekking sebesar $ 15 atau setara dengan Rp128 ribu, Anda bisa bermalam di 86 perkemahan BackCountry gratis. [inilah.com]

Blue Holes, Pesona Keindahan Gua Bawah Laut

Bahama dikenal dengan kepulauan beriklim tropis dan pantai berpasir yang membentang. Di balik itu semua juga menyembunyikan rahasia kecil yang disebut Blue Holes.
Blue Holes ini terletak di bawah air dan terlihat seperti gua-gua vertikal biru yang indah.Bahama mempunyai beberapa lubang biru yang membentuk keseluruhan sistem gua bawah air. Jika dilihat dari langit lubang tersebut tampak menakutkan.

Hanya para penyelam profesional yang dapat memasukinya. Sedikit hal yang terlihat di dalamnya karena hampir tidak ada kehidupan di sana, karena sirkulasi air yang buruk. Hal ini juga menyebabkan sejumlah besar bakteri berkembang.

Gua bawah laut terbesar di Bahama memiliki kedalaman 202 m (663 kaki), dan ini disebut sebagaiDean's Blue Hole. Keadaan di dalam gua itu nampak seperti fantasi-fantasi akan dunia bawah laut yang memiliki aneka warna yang bercampur dengan cantiknya.

Namun sangat disayangkan bahwa hanya penyelam profesional saja yang bisa menjelajahi serta menikmati ekspedisi menegangkan didalam gua bawah laut ini.
Selain itu, didalam gua juga masih tak banyak yang bisa dilihat karena hampir tak nampak mahluk-mahluk lautan karena kurangnya sirkulasi air di dalam gua.

Jika dilihat dari atas udara, tempat ini terlihat menyeramkan dan berbahaya layaknya lubang biru (blue hole) yang gelap di lautan. [inilah.com]

Solusi Kontroversial Lawan Perubahan Iklim Dunia

Perubahan iklim dunia kian hari kian parah. Ilmuwan pun berupaya mencari cara menangkisnya. Salah satu solusi kontroversial yakni penggunaan kaca raksasa.
Kaca raksasa ini akan memantulkan cahaya matahari kembali ke luar angkasa. Cara ini diyakini efektif melawan perubahan iklim. Bocoran makalah sains PBB mengungkap, ‘rekayasa-geo’ ini akan didiskusikan dalam pertemuan di Peru, pekan depan.
Pembahasan lain yang diketahui Guardian, yakni pembuatan panen berwarna cerah dan penggunaan besi pada samudera dunia. Diketahui, terdapat 60 ilmuwan terlibat dalam makalah ini.
Sejumlah gagasan lain dalam makalah yakni penyemprotan air laut ke awan untuk mengukur pemantulannya dan pewarnaan putih pada jalan dan atap rumah. Bukan tanpa kekhawatiran, ilmuwan khawatir jika rencana ini berhasil, akan ada kerusakaan yang tak bisa diperbaiki terjadi di sekeliling teknologi ini.
Makalah ini membuat PBB dan negara-negara berkembang ‘putus asa’ untuk mencapai kesepakatan. Pertemuan di Peru diharapkan mampu memberi pemerintah pandangan ilmiah pada rekayasa-geo ini.
Diketahui, lebih dari 125 kelompok lingkungan dari seluruh negara di dunia mengeluh pada kepala Intergovernmental Panel on Climate Change Rajendra Pachauri yang membocorkan makalah ini.
Menurut kelompok ini, untuk mempertimbangkan penggunaan teknologi ini bukanlah hak mereka. [inilah.com]

Senin, 20 Juni 2011

TENTANG ABRASI

Kerusakan lingkungan akan semakin bertambah seiring dengan berjalannya waktu. Contoh yang sering kita jumpai belakangan ini adalah masalah abrasi pantai. Abrasi pantai ini terjadi hampir di seluruh wilayah di Indonesia. Masalah ini harus segera diatasi karena dapat mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi makhluk hidup, tidak terkecuali manusia.
Abrasi pantai tidak hanya membuat garis-garis pantai menjadi semakin menyempit, tapi bila dibiarkan begitu saja akibatnya bisa menjadi lebih berbahaya. Seperti kita ketahui, negara kita Indonesia sangat terkenal dengan keindahan pantainya. Setiap tahun banyak wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia untuk menikmati panorama pantainya yang sangat indah. Apabila pantai sudah mengalami abrasi, maka tidak akan ada lagi wisatawan yang datang untuk mengunjunginya. Hal ini tentunya sedikit banyak akan mempengaruhi perekonomian di Indonesia karena secara otomatis devisa negara dari sektor pariwisata akan mengalami penurunan. Selain itu, sarana pariwisata seperti hotel, restoran, dan juga kafe-kafe yang terdapat di areal pantai juga akan mengalami kerusakan yang akan mengakibatkan kerugian material yang tidak sedikit. Demikian juga dengan pemukiman penduduk yang berada di areal pantai tersebut. Banyak penduduk yang akan kehilangan tempat tinggalnya akibat rumah mereka terkena dampak dari abrasi.
Dari uraian di atas, dapat diketahui bahwa dampak dari abrasi sangat berbahaya. Untuk itu kami akan mencoba menjelaskan lebih lanjut mengenai apa itu abrasi, penyebab abrasi, dan bagaimana solusi untuk menanggulanginya. Kami harap apa yang akan kami sampaikan ini dapat memberikan pengetahuan pada masyarakat mengenai abrasi dan menambah rasa kepedulian masyarakat pada lingkungannya.
PENGERTIAN ABRASI
Abrasi merupakan peristiwa terkikisnya alur-alur pantai akibat gerusan air laut. Gerusan ini terjadi karena permukaan air laut mengalami peningkatan. Naiknya permukaan air laut ini disebabkan mencairnya es di daerah kutub akibat pemanasan global.
PENYEBAB ABRASI
Abrasi disebabkan oleh naiknya permukaan air laut diseluruh dunia karena mencairnya lapisan es di daerah kutub bumi. Mencairnya lapisan es ini merupakan dampak dari pemanasan global yang terjadi belakangan ini. Seperti yang kita ketahui,pemanasan global terjadi karena gas-gas CO2 yang berasal dari asap pabrik maupun dari gas buangan kendaraan bermotor menghalangi keluarnya gelombang panas dari matahari yang dipantulkan oleh bumi, sehingga panas tersebut akan tetap terperangkap di dalam atmosfer bumi dan mengakibatkan suhu di permukaan bumi meningkat. Suhu di kutub juga akan meningkat dan membuat es di kutub mencair, air lelehan es itu mengakibatkan permukaan air di seluruh dunia akan mengalami peningkatan dan akan menggerus daerah yang permukaannya rendah. Hal ini menunjukkan bahwa terjadinya abrasi sangat erat kaitannya dengan pencemaran lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, garis pantai di beberapa daerah di Indonesia mengalami penyempitan yang cukup memprihatinkan. Seperti yang terjadi di daerah pesisir pantai wilayah kabupaten Indramayu. Abrasi yang terjadi mampu menenggelamkan daratan antara 2 hingga 10 meter pertahun dan sekarang dari panjang pantai 114 kilometer telah tergerus 50 kilometer. Dari 10 kecamatan yang memiliki kawasan pantai, hanya satu wilayah kecamatan yakni kecamatan Centigi yang hampir tidak memiliki persoalan abrasi. Hal ini karena di wilayah kecamatan Centigi kawasan hutan mangrove yang ada masih mampu melindungi kawasan pantai dari abrasi.
Tingkat abrasi yang cukup tinggi juga terjadi di kecamatan Pedes dan Cibuaya Kabupaten Karawang. Meskipun abrasi pantai dinilai belum pada kondisi yang membahayakan keselamatan warga setempat, namun bila hal itu dibiarkan berlangsung, dikhawatirkan dapat menghambat pengembangan potensi kelautan di kabupaten Karawang secara keseluruhan, baik pengembangan hasil produksi perikanan maupun pemanfaatan sumber daya kelautan lainnya.
Abrasi yang terjadi di kabupaten Indramayu dan kabupaten Karawang merupakan contoh kasus abrasi yang terjadi di Indonesia. Selain di kedua tempat tadi, masih banyak daerah lain yang juga mengalami abrasi dengan tingkat yang tergolong parah. Apabila hal ini tidak ditindaklanjuti secara serius, maka dikhawatirkan dalam waktu yang tidak lama beberapa pulau yang permukaannya rendah akan tenggelam.Selain abrasi, masalah yang terjadi di daerah pesisir pantai adalah masalah pencemaran lingkungan pantai. Beberapa pantai mengalami pencemaran yang cukup parah seperti kasus yang terjadi di daerah Balikpapan, dimana pada tahun 2004 tercemar oleh limbah minyak. Tumpukan kerak minyak atau sludge berwarna hitam yang mirip dengan gumpalan aspal tersebut beratnya diperkirakan mencapai 300 ton. Contoh lain adalah kasus yang terjadi di sekitar teluk Jakarta. Berbagai jenis limbah dan ribuan ton sampah yang mengalir melalui 13 kali di Jakarta berdampak pada kerusakan Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Pada tahun 2006, kerusakan terumbu karang dan ekosistem taman nasional itu diperkirakan mencapai 75 kilometer. Tahun lalu saja telah terjadi kerusakan serius sepanjang 40 kilometer. Kali Ciliwung, Banjir Kanal Barat (BKB), Kali Sunter, dan Kali Pesanggrahan merupakan penyumbang pencemaran terbesar ke Teluk Jakarta. Setiap hari Kali Ciliwung, BKB, dan Kali Sunter mengalirkan sampah yang berton-ton banyaknya. Sampah berbagai jenis itu mengalir ke Teluk Jakarta, dan sampai ke Pantai Taman Nasional Kepulauan Seribu. Kondisi ini memerlukan penanganan segera. Terkait dengan itu, pencemaran teluk Jakarta harus segera diatasi, terutama dengan melakukan pengurangan limbah sampah di sungai.
Pencemaran yang terjadi di pesisir pantai merupakan sesuatu yang sangat merugikan bagi manusia. Selain itu, sebagian besar objek wisata di Indonesia merupakan wisata pantai. Keindahan panorama pantai membuat wisatawan dari mancanegara berdatangan ke Indonesia. Hal ini seharusnya membuat pemerintah lebih mempedulikan kebersihan dan keasrian pantai, karena apabila keadaan pantai tidak bersih dan dipenuhi sampah, wisatawan tidak akan mau lagi mengunjungi pantai di Indonesia yang akibatnya dapat mengurangi devisa negara.
Rusaknya lingkungan pantai juga dapat merusak ekosistem yang ada disana. Biota yang hidup di daerah pantai seperti terumbu karang dan ikan-ikan kecil akan mati bila tingkat pencemarannya tinggi. Untuk itu diperlukan upaya dari pemerintah maupun masyarakat untuk menjaga keindahan dan keasrian pantai.
PENYELESAIAN
Berbagai usaha telah dilakukan oleh pemerintah maupun masyarakat untuk mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai ini. Untuk mengatasi masalah abrasi di Indonesia ini pemerintah secara bertahap melakukan pembangunan alat pemecah ombak serta penghijauan hutan mangrove di sekitar pantai yang terkena abrasi tersebut. Dalam mengatasi masalah abrasi ini, tentu ada saja hambatan-hambatan dan juga kesulitan-kesulitan yanag akan dihadapi, misalnya dalam pembangunan alat pemecah ombak ini diperlukan biaya yang sangat mahal dan juga wilayah tempat pembangunannya sangat luas, sehingga untuk membangun alat ini di seluruh pantai yang terkena abrasi akan memerlukan waktu yang sangat lama dan juga biaya yang sangat mahal. Upaya penanaman tanaman bakau di pinggir pantai juga banyak hambatannya. Tanaman bakau hanya dapat tumbuh pada tanah gambut yang berlumpur. Hal ini akan menjadi sangat sulit karena sebagian besar pantai di Indonesia merupakan perairan yang dasarnya tertutupi oleh pasir, seperti kita ketahui bahwa tanaman bakau tidak dapat tumbuh pada daerah berpasir. Meskipun sangat sulit, tetapi usaha untuk mangatasi abrasi ini harus terus dilakukan. Jika masalah abrasi ini tidak segera ditanggulangi, maka bukan tidak mungkin dalam beberapa tahun ke depan luas pulau-pulau di Indonesia banyak yang akan berkurang. Agar upaya ini dapat berjalan dengan lebih baik, maka peranan dari semua elemen masyarakat sangat diperlukan. Pemerintah tidak akan dapat mengatasinya tanpa partisipasi dari masyarakat. Apabila alat pemecah ombak berhasil dibangun dan hutan bakau atau hutan mangrove berhasil ditanam, maka dampak abrasi tentu akan dapat dikurangi meskipun tidak sampai 100%.
Masalah pencemaran pantai juga harus diatasi denga sangat serius karena dapat merusak keindahan dan keasrian pantai. Untuk megatasi permasalahan ini kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan harus ditingkatkan. Selain itu peraturan untuk tidak merusak lingkungan harus dibuat dan menindak dengan tegas bagi siapa pun yang melanggarnya.
Sekarang ini, di beberapa pantai masih banyak ditemui sampah-sampah yang berserakan. Selain itu, limbah pabrik yang beracun banyak yang dialirkan ke sungai yang kemudian mengalir ke laut. Hal ini dapat merusak ekosistem laut, dan juga dapat membunuh beberapa biota laut. Pemerintah seharusnya menghimbau agar seluruh pabrik-pabrik tersebut agar membuang limbahnya setelah dinetralisasi terlebih dahulu.
KESIMPULAN DAN SARAN
Abrasi dan pencemaran pantai merupakan masalah pelik yang dihadapi oleh masyarakat. Dari penjelasan kami di atas kami dapat menyimpulkan beberapa hal. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat kami sampaikan adalah sebagai berikut :
1. Abrasi diakibatkan oleh maiknya permukaan air laut karena mencairnya lapisan es yang ada di daerah kutub bumi. Es tersebut mencair akibat terjadinya pemanasan global.
2. Masalah abrasi maupun pencemaran lingkungan ini sangat sulit untuk diatasi karena kurangnya kesadaran masyarakat akan lingkungannya. Masih banyak orang yang membuang sampah pada sembarang tempat yang nantinya dapat mencemari lingkungan.
3. Dampak yang diakibatkanoleh abrasi ini sangat besar. Garis pantai akan semakin menyempit dan apabila tidak diatasi lama kelamaan daerah-daerah yang permukaannya rendah akan tenggelam.
4. Dampak dari abrasi dapat dikurangi dengan membangun alat pemecah ombak dan juga menanam pohon bakau di pinggir pantai. Alat pemecah ombak dapat menahan laju ombak dan memecahkan gelombang air sehingga kekuatan ombak saat mencapai bibir pantai akan berkurang. Demikian juga dengan pohon bakau yang ditanam di pinggiran pantai. Akar-akarnya yang kokoh dapat menahan kekuatan ombak agar tidak mengikis pantai.
Dari kesimpulan tersebut dapat kita lihat penyebab abraasi dan juga beberapa cara untuk mengatasinya. Kita juga dapat mengetahui dampak yang dapat ditimbulkan apabila hal ini tidak segera diatasi. Menurut kami permasalahan ini harus diselesaikan bukian hanya oleh pemerintah, tapi juga memerlukan partisipasi dari masyarakat.
Selain kesimpulan tadi, kami juga memiliki beberapa saran yang akan kami sampaikan. Adapun saran-saran yang akan kami sampaikan adalah sebagai berikut :
1. Masyarakat harus mengambil peran dalam mengatasi masalah abrasi dan pencemaran pantai, karena usaha dari pemerintah saja tidak cukup berarti tanpa bantuan dari masyarakat.
2. Pemerintah harus memberikan hukuman yang tagas bagi setiap orang yang merusak lingkungan.
3. Pembangunan alat pemecah ombak dan penanaman pohon bakau harus segera dilakukan agar abrasi yang terjadi di beberapa daerah tidak bertambah parah.
4. Bagi para pemilik pabrik maupun usaha apapun yang ada di sekitar pantai agar tidak membuang limbah atau sampah ke laut. Mereka harus menyediakan sarana kebersihan agar limbah atau sampah yang mereka hasilkan tidak mencemari pantai.
Demikianlah saran-saran yang dapat kami sampaikan,semoga apa yang telah kami sampaikan dapat menambah pengetahuan bagi masyarakat agar mau menjaga keasrian dan kebersiha lingkungan. Semua orang harus ikut berperan serta dalam menanggulangi masalah yang sangat berbahaya yang bernama ABRASI.

SATU MILIAR POHON UNTUK PARU-PARU DUNIA

Indonesia memiliki luas hutan tropis terbesar ketiga didunia yaitu 138 Juta Ha, dan keberadaanya sangat penting sebagai penyangga paru-paru dunia dan berdampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Namun, laju deforestasi di Indonesia sangat mengerikan yaitu 1,17 Juta Ha/tahun yang disebabkan oleh degradasi hutan dan lahan, illegal logging, penjarahan hutan, alih fungsi hutan, perambahan kawasan, kebakaran hutan dan tindak kejahatan lainnya.
Dalam menahan laju pemanasan global, Presiden SBY pada KTT Perubahan Iklim di Kopenhagen menyampaikan komitmen Indonesia dalam penurunan emisi sebesar 26%-41%. Komitmen ini didasari pada posisi Indonesia sebagai negara berkembang dengan penyumbang emisi terbesar (berdasarkan hasil penelitian, deforestasi menyumbang 18% dari emisi GHGs total dunia, 75% dari berasal negara berkembang).
Pemerintah Indonesia meluncurkan program Penanaman Satu Milyar Pohon/One Billion Indonesia Tress (OBIT) yang bertepatan pada acara Peringatan Hari Menanam Pohon indonesia dan Bulan Menanam Nasional (HMPI-BMN) tangaal 8 desember 2009 di Padalarang, Kab. Bandung Barat, Jawa Barat. Program ini merupakan tindak lanjut dari program ONE MAN ONE TREE (2009) yang realisasinya mencapai 251,6 Juta pohon dari 231,8 Juta pohon. Untuk OBIT akan berlangsung dari Februari 2010 sampai Januari 2011 dimana puncaknya dilaksanakan pada 28 Nopember 2010 di seluruh Indonesia sebagai Hari Menanam pohon Indonesia (HPMI).
Melalui program Penanaman 1 Miliar Pohon Tahun 2010 ini Kementerian Kehutanan juga berupaya untuk sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat, terutama yang tinggal di sekitar hutan. Beberapa skema yang ditempuh Kementerian Kehutanan adalah melalui Hutan Kemasyarakatan, dimana tahun 2010 ini direncanakan seluas 210.749,64 ha, Hutan Rakyat Kemitraan seluas 203.833 ha, Hutan Desa seluas 10.310 ha, dan pencadangan Hutan Tanaman Rakyat mencapai 480.303 ha. Total luas seluruh skema tersebut mencapai 905.195,64 ha.
Apabila setiap Kepala Keluarga (KK) diberikan ijin kelola rata-rata seluas 15 ha, dan melibatkan 4 orang sebagai tenaga kerja, maka sedikitnya 60.346 KK atau 241.384 tenaga kerja terserap dalam pengelolaan hutan ini. Apabila setiap hektare yang dikelola masyarakat dapat menghasilkan 200 m3 kayu dengan harga Rp. 500.000,00/m3, maka setiap hektare lahan dapat menghasilkan 100 juta rupiah, atau Rp 1,5 miliar setiap KK.
Lokasi penanaman adalah di dalam dan diluar kawasan hutan. Untuk didalam kawasan hutan dilakukan dengan reboisasi, restorasi ekosistem hutan bekas tebangan, reklamasi hutan bekas tambang, hutan kemasyarakatan, hutan desa, hutan tanaman rakyat dan hutan tanama industri. sedangkan diluar kawasan hutan kegiatanya meliputi hutan rakyat, hutan rakyat kemitraan, hutan kota, penghijauan lingkungan, perkebunan, dll.
Gerakan moral oleh masyarakat antara lain pengembangan pohon trembesi oleh presiden, penanaman pohon di jalan tol (PU), gerakan perempuan tanam (SIKIB), TNI/POLRI, program CSR (BUMN/BUMD), penanaman oleh industri otomotif (Astra Internasional), accor hospitality menanam, Angkasa Pura menanam, Green radio, reklamasi tambang, dan penanaman dari pemerintah daerah.
Anda yang ingin berpartisipasi bisa menghubungi :
Pusat Informasi Kehutanan
Kementerian Kehutanan
Gedung Manggala Wanabakti Blok I Lt. 3
Jalan Gatot Subroto – Senayan – Jakarta – Indonesia – 10270
Telp. +62-21-5704501-04; +62-21-5730191
Program brilian ini harus terus didukung karena kalau bukan dari kita sendiri, siapa lagi yang mau menyelamatkan paru-paru dunia? (mji)

Manfaatkan Hama Keong, Untuk Pakan Ternak

WAYLIMA – Warga Kecamatan desa Waylima, yang beberapa minggu lalu lahan pertaniannya terserang hama keong mas , memanfaatkan keberadaan hama tersebut sebagai pakan ternak, dalam upaya membasmi hama jenis ini. Bahkan tak sedikit yang mengolah keong mas menjadi bahan pangan sehari-hari.

Marbudi, warga Desa Sidodadi, Kecamatan Waylima yang kesehariannya menjadi seorang petani padi, mengatakan, hama keong mas yang selama ini menyerang tanaman padi warga dimanfaatkan masyarakat di tiga dusun. Pemanfatan tersebut dilakukan dengan memperhitungkan keberadaan hewan bercangkang tersebut yang tidak berdampak bahaya apabila dikonsumsi. Juga tidak berdampak kematian bila digunakan sebagai pakan ternak hewan, khususnya bebek dan ayam.
“Kita biasanya memberikan keong ini untuk makan bebek atau ayam, yang memang sangat gemar memakan keong mas.Banyak juga warga yang emngolahnya emnjadi bahan makanan, dengan cara digoreng setelah dibuang cangkangnya,” jelasnya.
Pemanfaatan ini dilakukan warga sebagai upaya membasimi atau setidak-tidaknya mengurangi keberadaan hama tersebut. Pengambilan keong di lahan sawah, biasanya  dilakukan warga saat cuaca mendung atau sore menjelang magrib, karena cuaca dingin seperti itu keong mas mulai bermunculan dari tempt bersembunyinya di dalam lumpur sawah. 
Dalam sehari dirinya mampu mengumpulkan beberapa kantong plastik besar keong mas berbagai ukuran. “Saya biasanya sore atau pagi sudah mulai datang ke sawah. Bukan hanya untuk melihat tanaman padi, tetapi juga mengumpulkan keong mas yang suka memakani tanaman padi saya,” katanya.
Sama halnya yang disampaikan Zainal, petani di Desa Sidodadi yang sering mengumpulkan keong mas untuk pakan ternaknya. Menurutnya saat musim hujan seperti saat ini, keong mas memang banyak bermunculan di arel sawah dan menjadi hama bagi tanaman, khususnya padi. Tetapi hal ini juga menjadi berkah tersendiri bagi warga yang memelihara hewan ternak berupa bebek atau ayam,karena tidak sulit untuk mencari pakannya. Untuk perkembangan keong mas sendiri menurutnya sangat cepat, satu induk keong mas setiap kali bertelur mampu menghasilkan ratusan keong mas. “Jadi cukup banyak kita bisa mengambilin keong mas yang ada,” tutupnya.(yud)