Sabtu, 29 Januari 2011

Indahnya Iman dalam Kehidupan

Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan All



Dalam posisi apa pun, di tempat mana pun, dan dalam waktu kapan pun, kita tidak bisa mengelak dari kenyataan hidup yang pahit. Pahit karena himpitan ekonomi. Pahit karena suami/istri selingkuh. Pahit karena anak tidak shaleh. Pahit karena sakit yang menahun. Dan berbagai kepahitan yang lainnya. 

Kepahitan selalu dipahami sebagai bencana. Ketidaknyamanan selalu dirasakan sebagai buah dari kelemahan diri. Tak heran jika satu per satu manusia akan jatuh pada keputusasaan hidup. Mereka stres menghadapi berbagai himpitan hidup yang dirasa tak ada ujungnya. Bahkan, tak sedikit mereka yang lari dari kenyataan yang ada.

Bahkan, kepahitan yang mereka terima selalu mencari kambing hitam. Mereka selalu menyalahkan orang lain, tanpa melakukan introspeksi diri. Mereka selalu menuduh orang lain sebagai biang keladinya, tanpa menyadari bahwa bencana datang karena ulahnya sendiri.

Begitulah kondisi jiwa manusia yang tengah gelisah dalam musibah. Panik. Merasa sakit dan pahit. Penderitaan, kegagalan dan ketidakberdayaan memang menyakitkan. Tapi justru saat tahu bahwa penderitaan itu tidak enak, kegagalan itu pahit, dan ketidakberdayaan itu tidak menyenangkan, kita akan merasakan bahwa kesuksesan yang kita raih begitu manis. Saat itulah kita akan menjadi orang yang pandai bersyukur. Sebab, sekecil apa pun nikmat yang ada akan terasa begitu manis.

Kita diajarkan oleh Allah untuk memahami semua rasa. Kita tidak akan mengenal arti bahagia kalau tidak pernah menderita. Kita tidak akan pernah tahu sesuatu itu manis kalau tidak pernah merasakan pahit.

Ketika punya pengalaman merasakan manis-getirnya kehidupan, perasaan kita akan sensitif dan jiwanya akan halus. Kita akan memiliki empati yang tinggi terhadap orang-orang yang tengah mendapat giliran dalam situasi sulit. Selain itu, kita juga akan bisa berpartisipasi secara wajar saat bertemu dengan orang yang tengah bergembira menikmati manisnya madu kehidupan.

Karena itu, kita harus sensitif dengan orang-orang yang tengah mendapat cobaan. Harus ada jaring pengaman yang kita tebar agar keterpurukan kita tidak sampai membuat diri kita murtad. Dengan ungkapan singkat, Rasulullah memberikan nasehat, “Hampir saja kemiskinan berubah menjadi kekufuran.” (H.R. Ath-Thabrani)

Standar kelulusan ujian hidup adalah mereka “yang terbaik amalnya”, bukan mereka yang punya jabatan terhormat lalu berbuat semena-mena; bukan mereka yang memiliki banyak harta tapi enggan berinfak; dan bukan pula mereka yang pintar dan bangga dengan kejeniusan akalnya; akan tetapi mereka yang ahsanul amal (yang bagus dan benar amalnya) selama hidup di dunia.



Karena hakikatnya manusia itu tidak bisa menyuap Allah SWT dengan apapun untuk mendapatkan surga-Nya. Hanya prestasi hiduplah yang mampu menghantarkan manusia menuju surga-Nya.

Kita jangan sampai terlena dengan keindahan dunia. Karena keindahan akan datang dipermulaan, sedangkan bencana datang di kemudian hari. Surga selalu dikelilingi oleh duri yang menyakitkan, sedangkan neraka selalu dikelilingi oleh kenikmatan, Rasulullah saw pernah bersabda, ”Surga itu selalu dikelilingi dengan hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka itu dikelilingi dengan berbagai kenikmatan (syahwat)” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Berbahagialah orang-orang yang mampu melewati berbagai ujian yang menyakitkan, karena ujian merupakan jembatan untuk menuju surga-Nya.
Tujuan hidup seorang muslim adalah MARDHAATILLAH (mencari keridhan Allah SWT).

Ketika kita ridha dengan semua kehendak Allah yang menimpa diri kita, Allah pun ridha kepada kita. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya besarnya balasan tergantung dari besarnya ujian, dan apabila Allah cinta kepada suatu kaum Dia akan menguji mereka, barangsiapa yang ridha, maka baginya keridhaan Allah; namun barangsiapa yang murka, maka baginya kemurkaan Allah.” (H.R. Tirmidzi).

Untuk itu, siapkanlah diri kita untuk tetap siaga dalam menghadapi badai ujian, karena ujian selalu datang tanpa diundang. Jadikanlah ujian sebagai batu loncatan untuk meraih kebahagiaan dunia dan akherat.

Jadikanlah ujian sebagai kesempatan untuk meningkatkan kualitas iman. Jadikan ujian sebagai alat untuk melebur dosa-dosa kita, sebab setiap ujian yang diterima dengan lapang dada akan mendatangkan pahala dan menggugurkan dosa, “Tak seorang muslim pun yang ditimpa ujian, semisal tusukan duri atau yang lebih berat daripadanya, melainkan dengan ujian itu Allah menghapuskan perbuatan buruknya serta menggugurkan dosa-dosanya sebagaimana pohon kayu yang menggugurkan daun-daunnya.” (H.R. Bukhari dan Muslim).

Oleh : Hj. Dewi Kurniawati
Dewan Pembina Yayasan Fahmul Fauzi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar