Sabtu, 19 Februari 2011

Dalam Kesulitan Senantiasa Ada Kemudahan


”Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.” (Al Insyiroh [94]: 5-6).
Pasti Terjadi
Dalam menjalani kehidupannya, manusia akan mendapati situasi enak atau tak enak, sebagai ujian Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT). Apapun situasinya, nyaman atau tak nyaman, itu yang terbaik dalam skenario Allah SWT.

Jika kita sedang berada disituasi sulit, Allah SWT mengingatkan janji-Nya, sebagaimana disebut ayat di atas. ”Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan.”

Menurut As-Suyuthi, Alam Nasyrah ayat 1 – 8 turun ketika kaum musyrikin memperolok-olok kaum Muslimin karena kekafirannya. Sementara, dalam suatu riwayat Ibnu Jarir yang bersumber dari Al-Hasan, dikatakan bahwa ketika turun ayat “Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan” (Alam Nasyrah [94]: 6), Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam (SAW) bersabda, “Bergembiralah kalian, karena akan datang kemudahan bagi kalian. Kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.”
Janji Allah “Sesungguhnya, bersama kesulitan ada kemudahan” itu diulangi-Nya dua kali. Padahal, janji Allah pasti benar (Faathir [35]: 5) dan pasti terjadi (Al-Mursalaat [77]: 7).
Sebagian Bukti
Kisah Buya Hamka, Sayyid Quthb, dan Ibnu Taimiyah dapat kita jadikan rujukan. Hamka melahirkan karya tulis lebih dari 115 judul dalam berbagai bidang. Tafsir Al-Azhar adalah karya paling utamanya dan terbesar.

Sekitar awal 1964 Hamka ditahan rezim Orde Lama dengan tuduhan subversi, sebuah tuduhan yang sampai dia bebas dua tahun empat bulan kemudian tak pernah bisa dibuktikan secara hukum.
Hamka berkisah tentang pengalamannya dihari-hari pertama dia ditahan, “Kalau saya bawa bermenung saja kesulitan dan perampasan kemerdekaan saya itu, maulah rasanya diri ini gila. Tetapi, akal terus berjalan, maka ilham Allah datang. Cepat-cepat saya baca al-Qur’an, sehingga pada lima hari penahanan yang pertama saja, tiga kali al-Qur’an khatam dibaca.”
Lalu, Hamka atur jam-jam buat membaca dan menulis Tafsir al-Qur’an. Maka, menyusul kekacauan politik yang disebabkan Gerakan 30 September 1965 Partai Komunis Indonesia, pada Mei 1966 Hamka dibebaskan. Saat itu, dia telah mengkhatamkan al-Qur’an 150 kali, dan selesai pula tafsir 28 juz. Sementara, yang dua juz yaitu juz 18 dan 19 telah diselesaikannya sebelum dia ditahan.
Maka, Hamka, meninggal pada 1982, berhak menasihati kita, bahwa hendaknya kita “Jangan gentar menghadapi kesukaran, karena dalam kesukaran itu pasti ada kemudahan, asal kita mempergunakan otak buat memecahkannya. Sungguh, Allah tidak akan mengecewakan orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.”
Di Mesir, ada Sayyid Quthb (lahir 1903) dan hafal al-Qur’an sejak masih anak-anak. Dia aktivis Ikhwanul Muslimin yang penuh semangat. Dia dipenjara rezim Gamal Abdel Nasser, sebelum akhirnya syahid dihukum mati pada 20 Agustus 1966.
Apa “kesalahan” dia? Saat Sayyid Quthb menulis sejumlah buku seperti Ma’aalim fit-Thariq (Petunjuk Jalan), 1964, yang berisi penolakan terhadap kebudayaan jahiliyah modern dalam segala bentuknya. Rezim Gamal Abdel Nasser yang menganut sosialisme Arab memandang itu sebagai sebuah kesalahan besar.
Dalam buku Ma’aalim fit-Thariq, Sayyid Quthb mengemukakan gagasan tentang perlunya revolusi total, bukan semata-mata pada sikap individu, namun juga pada struktur negara. Selama periode inilah, logika konsepsi awal negara Islamnya Sayyid Quthb mengemuka. Buku inilah yang dijadikan bukti utama dalam sidang yang menuduhnya bersekongkol hendak menumbangkan rezim Nasser.
Tafsir Fi Zhilalil Qur’an (Di Bawah Lindungan Al-Qur’an) diselesaikan Sayyid Quthb saat berada di penjara. Dan, Hamka mengaku, bahwa tafsir Fi Zhilalil Qur’an “Banyak mempengaruhi saya dalam menulis Tafsir Al-Azhar.”
Selain Hamka, banyak ulama yang menilai Tafsir Fi Zhilalil Qur’an sebagai salah satu tafsir terbaik. Hujjah-nya kuat meneguhkan iman. Bahasanya indah menyejukkan hati. Pendek kata, tafsir itu mampu menggelorakan spirit iman, hijrah, dan jihad.
Jauh sebelum Hamka dan Sayyid Quthb, ada Ibnu Taimiyah yang lahir 1263 dan meninggal 1328. Masa hidupnya banyak dihabiskan di Damaskus. Dia bukan saja pernah tapi bahkan sering merasakan ‘manis’-nya penjara, karena sejumlah pendapat keagamaannya berbeda dengan yang dianut ulama-ulama lain yang dekat dengan penguasa ketika itu.
Ibnu Taimiyah –yang saat berusia dua puluh tahun telah bergelar profesor di bidang hukum dalam mazhab Imam Hanbali- berkali-kali dipenjara sebelum akhirnya syahid di dalamnya. “Kesalahan” dia, hanya karena perbedaan dalam memahami atau menafsiri al-Qur’an. Padahal, lewat fatwa-fatwanya, Ibnu Taimiyah berniat memurnikan ajaran Islam dari unsur-unsur yang datang dari luar Islam dan tak sesuai dengan Islam. Dia hendak memurnikan Islam dari segala bid’ah dan khurafat.
Tentu saja, di antara karya-karya besarnya (dari total 500-an judul karya tulisnya) lahir di penjara. Sebab, di penjara, Ibnu Taimiyah memiliki banyak kesempatan untuk membaca dan menulis. Hal itu, hikmah besar baginya. Maka, dia tak pernah sedih atau menyesal atas apa yang dialaminya. Hal itu, diyakininya sebagai ketentuan Allah yang tak boleh dibantah, karena di dalamnya terdapat banyak kebaikan yang akan didapat.
Ajaib, dan Benar!
Hamka, Sayyid Qutb, dan Ibnu Taimiyah adalah sedikit contoh manusia beriman yang merasakan bukti keajaiban janji Allah bahwa bersama kesulitan ada kemudahan. Juga, bukti kebenaran sabda Nabi Muhammad SAW. Ada keajaiban yang dimiliki orang beriman. Yaitu, bahwa sesungguhnya semua persoalannya serba baik. Dan, hal itu hanya dimiliki oleh orang yang beriman. Jika dia mendapat kesenangan, dia bersyukur. Dan, hal itu menambah kebaikan (pahala) baginya. Namun, bila dia ditimpa bencana/musibah, dia akan sabar. Dan, itu berarti kebaikan (pahala) baginya.” (Riwayat Muslim).

Rasulullah SAW kerap membuktikan sendiri. Misalnya, saat beliau bersembunyi di Gua Tsur dalam hijrahnya dari Mekkah ke Madinah. Abu Bakar yang sempat mengkhawatirkan keselematan Nabi Muhammad SAW, sempat bersedih. Lalu, Muhammad SAW meneguhkannya, dengan bersabda: “…..Janganlah kamu berduka cita, sesungguhnya Allah beserta kita..,” (At-Taubah [9]: 40).
Subhanallah! Kaum musyrikin pengejar Rasulullah SAW yang sempat mengepung di sekitar mulut gua menjadi terkecoh atas fakta-fakta yang tergelar di depan mereka. Di pintu gua, ada sarang laba-laba dan ada dua burung dara plus telurnya. Di pintu gua, ada ranting-ranting pohon. Sehingga, para pengejar berkesimpulan bahwa tak mungkin Muhammad masuk dan bersembunyi di gua, tanpa melewati pintu gua dengan terlebih dahulu membersihkan rintangan-rintangan tadi.
Senyum, Senyum!
Semua manusia di sepanjang kehidupannya pasti akan menjalani ujian demi ujian. Kesulitan yang dihadapinya adalah ujian, sebagaimana kemudahan yang ditemuinya pun merupakan ujian.

Jika kesulitan sedang melilit kita, hadapilah dengan sabar dan tawakkal. Yakinilah, bahwa bersama kesulitan pasti ada kemudahan. Bukankah di sekitar kita, telah cukup banyak contoh-contoh yang transparan tentang hal itu? Maka, tetaplah tebarkan senyum di sepanjang langkah kehidupan kita, sebagai perlambang bahwa kita (akan) selalu lulus ujian. Allahu-Akbar! *M. Awar Djaelani/Suara Hidayatullah APRIL 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar