Sabtu, 19 Februari 2011

Ketika Kesombongan Menutupi Hati


“Orang-orang kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.” (Al-Bayyinah [98]: 1).
Mukaddimah
Surat ini turun setelah surat Al Thalaaq. Beberapa mufassir menyebutnya dengan surat “Lam Yakun”. Dilihat dari periode turunnya wahyu, surat ini termasuk Madaniyah. Yang termasauk berpendapat seperti ini Imam As Suyuti, dengan merujuk pada Ibnu Abbas.

Namun terdapat pendapat lain yang mengatakan surat ini tergolong Makkiyah. Misalnya Ibnu Mardawaih, yang melanjutkan riwayat dari Aisyah.
Sedangkan Sayyid Quthub dalam tafsirnya Fii Dzilaalil Qur’an, menetapkan bahwa dari segi riwayat, Surat Al-Bayyinah masuk kedalam periode Makkiyah. Tetapi, ditinjau dari segi metode pengungkapan, kalimatnya tidaklah jauh kemungkinannya sebagai surah Makkiyah.
Dan para mufassir, baik yang salaf maupun khalaf, cenderung menggolongkan ke surat Madaniyah.
Pengingkaran Kaum Kafir
Surah ini diturunkan untuk menyanggah sikap kaum pengingkar. Mereka sebenarnya telah menyaksikan cahaya kebenaran pada diri Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam (SAW), namun mereka memejamkan mata agar tidak melihatnya.
Demikian pula para penyembah berhala dari kalangan bangsa Arab. Mengapa? Menurut Muhammad Abduh, mereka telah terikat pada sikap taklid buta terhadap kebiasaan dan tradisi nenek moyang mereka. Allah menuturkan penolakan mereka.
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(tidak), tapi kami (hanya) mengikuti apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya…” (Luqman [31]: 21).
Keterangan ini memperkuat pendapat beberapa ulama. Bahwa di dalam hatinya, kaum musyrikin membenarkan dan menerima sifat-sifat kenabian Muhammad SAW. Namun mereka berbalik ingkar dan menolak saat Nabi terakhir itu telah berada di tengah-tengah mereka.

Kebutuhan Prinsip Manusia
Tercatat dalam sejarah bahwa dunia, saat Muhammad bin Abdullah ditasbihkan sebagai Rasulullah, berada dalam kerusakan yang merata di semua penjuru. Seakan tidak ada harapan untuk memperbaiki kecuali dengan risalah, manhaj (sistem) dan gerakan syariat yang baru.
Inilah yang ditegaskan oleh Allah Rabbul ’Alamin ”…takkan terlepas (dari kesesatan) hingga datang kepada mereka bukti yang nyata.” Imam at-Thabari menyebutkan beberapa mufassir yang berpendapat bahwa orang-orang musyrik dan ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), juga para penyembah-penyembah berhala, tidak akan berpindah dari keyakinan dan ritual sesatnya hingga menerima kebenaran al-Qur’an.
Sayyid Quthub menambahkan ”…pengutusan Muhammad SAW merupakan kebutuhan mendesak untuk mengubah persepsi sesat dan perselisihan orang-orang kafir dan orang-orang musyrik dari kalangan ahli kitab. Mereka tidak akan dapat beralih dari hal ini tanpa diutusnya rasul.”
Apalagi, secara historis –pra datangnya Muhammad SAW- mereka berada dalam nilai kemanusiaan yang serendah-rendahnya (asfala saafilin). Kemudian datanglah keterangan (bayyinah) dari Allah SWT yang menawarkan perbaikan status diri untuk menjadi makhluk yang sebaik-baiknya (ahsanu taqwim). Dan inilah yang merupakan kebutuhan prinsip manusia, kebutuhan yang menurut Imam Ibnu Qayyim, melebihi kebutuhan terhadap hujan yang diturunkan ke bumi, udara yang berhembus dan matahari yang menyinari dunia. Kebutuhan yang mengalahkan ketergantungan fisik manusia terhadap makan dan minum.
Hidayah, Hak Allah
Ayat ini juga mengisyaratkan wilayah absolut Allah SWT dalam meneteskan cahaya iman pada diri manusia. Muhammad SAW dengan segala ketinggian derajat dan keimanannya, kedekatan dan kecintaannya kepada Allah, hanya mampu mencapai wilayah ”hidayatur rusydi”, memberitahu dan menyampaikan jalan-jalan kebenaran tanpa mampu mengubah keyakinan untuk mengikrarkan syahadatnya dan menerima Ke-Esa-an Allah SWT, serta kenabian Muhammad SAW.
Allah SWT menegaskan keterbatasan ini dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya engkau (Muhammad) tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya…” (Al-Qashash [28]: 56).
Namun, bukan berarti pintu usaha tertutup dengan keterbatasan ini. Bahkan Allah SWT selalu membuka jalan upaya untuk menggapai kebaikan-kebaikan dunia dan akhirat. Dengan keagungan-Nya, Dia berfirman:

”…Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah –nasib- suatu kaum hingga kaum itu mengubah –nasib- mereka sendiri…” (Ar-Rad [13]: 11).
Dengan jalur riwayat yang shahih, Imam Bukhari menukilkan satu pertanyaan yang terlontar dari seorang sahabat kepada Rasulullah SAW. ”Ya Rasulullah, apakah telah diketahui antara penghuni surga dan penduduk neraka?” Rasulullah SAW menjawab ”Ya”. Kemudian sahabat itu masih bertanya, ”Lalu mengapa masih harus berusaha?” Rasulullah SAW menimpali, ”Setiap manusia –harus- bertindak sesuai yang telah dimudahkan untuknya.”

Wujud Cinta Allah.
Secara tersirat –lewat pengungkapan-Nya sebanyak 114 kali- Allah menegaskan dan menetapkan sifat cinta dan kasih sayang sebagai landasan kebijakan dan perbuatan-Nya (Ar Rahman Ar Rahim). Tidak ada keputusan yang condong dan berdasarkan kebencian, apalagi berbuah kezaliman terhadap hamba-Nya, hatta sang hamba bertingkah seolah tak bertuhan, seakan tak akan kembali kepada Allah SWT.
Termasuk ketetapan yang ditakdirkan saat sakaratul maut menjelang. Sebelum nafas terakhir menutup peluang untuk bertaubat, terlebih dahulu Allah SWT memberikan kesempatan agar syahadat tak ternoda oleh nafsu yang menghalangi.
Di akhir ayat ini, Allah SWT berfirman :
حتى تأتيهم البينة
“Sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata.”

Diutuslah seorang Nabi yang menjelaskan akan kesesatan dan kebodohan mereka, lalu menerangkan jalan kebenaran dan mengajak mereka untuk bersama menitinya. Dan tidak hanya sekali ajakan ini diserukan, para Rasul bahkan ada yang harus menghabiskan ratusan tahun dengan umatnya, mengorbankan harta juga nyawa untuk menegaskan bahwa tiada pilihan bagi mereka kecuali menerima Al Bayyinah, kebenaran yang dikirimkan Allah SWT melalui Nabi dan kitab sucinya. Karena itu, Allah SWT telah memproteksi kebijakan-Nya dengan firman-Nya:
”…setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang yang ingkar), penjaga-penjaga (neraka) itu bertanya kepada mereka: ‘Apakah belum pernah datang kepadamu (di dunia)?” ‘Benar ada, namun kami mendustakannya..”(Al-Mulk[67]:8-9).

Mereka mengakui dan membenarkan di yaumil qiyamah nanti, bahwa Allah SWT tidak meninggalkan mereka dengan kesesatannya begitu saja. Ada utusan yang mengingatkan, menyeru dan memampangkan jalan hidayah. Tapi karena kesombongan dan hawa nafsu yang sangat tinggi, kebenaran yang ditawarkan tidak mendapat respon positif dari mereka. Maka pantas Allah SWT membela diri:
”…agar supaya tidak ada alasan bagi manusia membantah Allah sesudah diutusnya Rasul-rasul itu..” (An Nisa [4]:165).

Tiada tuntutan, karena Allah SWT tidak dapat dipersalahkan. Rasul telah diutus, al- Qur’an juga diturunkan. Kebenaran dipampangkan dan kebathilan diberitahukan. Maka sebelum terlambat, benarkan dan terimalah kebenaran itu. Wallahu a’lam. *Naspi Arsyad/Suara Hidayatullah PEBRUARI 2008

Tidak ada komentar:

Posting Komentar