Jumat, 25 Februari 2011

Tabut Kerang, Surga Di Tengah Bencana


Ketika persawahan atau rawa-rawa tinggal lumpur, keong mengumpulkan air dalam cangkang. Agar air tidak menguap, cangkang ditutup. Untuk berlindung, dia menenggelamkan diri ke dalam lumpur, yang akan mengering pada musim kemarau. Dengan demikian, keong berhasil mempertahankan hidup menghadapi perubahan musim yang ekstrem.

Manusia juga punya kemampuan untuk mempertahankan diri dari bencana. Akhir-akhir ini, yang diwaspadai adalah meluapnya lautan ke daratan akibat mencairnya es di kutub. Biang musibah itu adalah pemanasan global. Untuk mengantisipasi "banjir Nabi Nuh" itu, program arsitektur International Union of Architects, Remistudio, merancang hunian yang dapat berfungsi sebagai kapal penyelamat. Namanya Ark Hotel (Hotel Bahtera), yang bisa dibangun di laut maupun di daratan.
Rancangan arsitektur masa depan itu diunggah di situs Remistudio, akhir tahun lalu. Arsirtektur yang dikembangkan diilhami kisah bahtera Nabi Nuh dalam cerita film-film fiksi ilmiah pada 1970-an. Hotel Bahtera Nabi Nuh itu ditampilkan dalam konsep bangunan untuk mengatasi bencana banjir akibat kenaikan permukaan laut. Ketika banjir menggenangi daratan, hotel itu mampu mengapung, sehingga menyelamatkan orang-orang yang ada di dalamnya.

Hotel itu berbentuk cangkang kerang. Dirancang untuk dapat memasok energi dan udara segar bagi warga, dengan menanam pohon. Selain mengatasi banjir, hotel itu juga tahan gempa. Arsitek yang merancangnya menyatakan bahwa kerangka kerja dan desain hotel itu dapat mendistribusikan beban secara merata, sehingga dapat mengamankan penghuninya dari bencana gempa. Sebab struktur cangkang itu tanpa sudut.

Hotel terapung raksasa itu diklaim sebagai "biosfer" dan surga yang nyaman bagi penduduknya selama terjadi bencana. Biosfer adalah bagian luar planet bumi, mencakup udara, daratan, dan air, yang memungkinkan kehidupan berlangsung. Hotel itu juga dilengkapi dengan panel surya dan reservoar air hujan yang akan memberikan energi dan air alami. Bagian dalam dilengkapi dengan vegetasi yang menjaga kualitas udara dan dapat menjadi sumber makanan.

Bagian luar atau atap hotel terbuat dari bahan transparan untuk memasok cahaya. Kontrol intensitas cahaya dilakukan oleh penyaring di bagian dalam ruangan. Sementara itu, ada lapisan khusus yang digunakan untuk memastikan kualitas cahaya yang masuk ke ruangan.

Alexander Remizov, arsitek dari Remistudio, Rusia, mengatakan bahwa "tabut" itu merupakan usaha untuk menjawab tantangan zaman. Tabut adalah perkakas yang terbuat dari kayu, dikenal di Timur Tengah purba pada zaman sebelum Musa. Dia juga menambahkan, "Melalui atap transparan, terdapat cukup cahaya bagi tanaman dan untuk menerangi ruangan dalam."

Ark Hotel memang diciptakan dengan konstruksi biosferik dengan sistem yang mendukung kehidupan otonom. Menurut Remizov, hotel terapung itu dapat dibangun hanya dalam beberapa bulan di mana pun di dunia. "Bentuk kubah memungkinkan terbentuknya pergolakan udara yang memperkuat kerja generator angin," katanya. "Di dalam bangunan, bentuk kubah mengumpulkan udara hangat di bagian atas bangunan," ia melanjutkan.

Panas itu akan ditransformasikan ke jenis energi lainnya dan dikumpulkan di akumulator termal. "Pembangunan hotel itu bisa cepat dan sederhana," ujarnya. Sistem pembuatannya dengan knock down yang mudah dirangkai. Mulai fondasi, kerangka, hingga atapnya bisa dibuat secara pabrikan. "Bisa dirakit dalam tiga sampai empat bulan," katanya.

Struktur serbaguna itu dapat dibangun di mana saja di dunia. Termasuk di daerah rawan gempa. Bangunan "tabut" akan mencakup daerah seluas 14.000 meter persegi. Biaya pembangunannya kira-kira sama dengan membangun sebuah rumah hemat energi. Remizov percaya, "tabut" itu dapat digunakan untuk berbagai keperluan dari apartemen ke kantor-kantor dan hotel.

Bangunan tersebut dibuat dengan skala yang berbeda untuk hunian 50 hingga 10.000 orang. Dirakit dari struktur siap pakai, bangunan itu akan mengurangi biaya konstruksi. "Menggunakan bahan ringan akan mengurangi berat struktur, yang memungkinkan konstruksi lebih murah," tuturnya.

Remizov merancang bangunan itu tanpa kaca. Sebagai gantinya, kerangka bangunan ditutupi dengan lembaran khusus yang terbuat dari ethyl tetrafluoroetilena. Lembaran itu transparan, tapi sangat kuat kuat, bisa membersihkan diri, didaur ulang, lebih tahan lama, lebih ekonomis, dan lebih ringan dari kaca. Lembaran itu dikunci dengan kerangka profil logam khusus. Fungsinya sebagai kolektor energi surya untuk memanaskan air dan sebagai talang untuk mengumpulkan air hujan dari permukaan atap.

Bangunan itu menggunakan sistem energi tunggal. Berbentuk kubah, sehingga sel fotolistrik di atasnya membentuk sudut yang pas dengan arah sinar matahari. Bentuk kubah juga membantu menghangatkan udara di bagian atas. Panas ini dikumpulkan di dalam akumulator panas musiman serta dalam akumulator listrik dan hidrogen. Sehingga mampu menyediakan energi untuk seluruh kompleks, meskipun terputus dari lingkungan luar.

Struktur yang menekankan bentuk lengkung mendistribusikan beban di sepanjang struktur bila terjadi gempa. Struktur bangunan juga akan mengapung di atas air ketika daratan tergenang. Bangunan itu akan tetap bertahan di permukaan air. Semua limbah yang digunakan di dalam bangunan diolah menggunakan metode canggih dan menghasilkan oksigen.

Penanaman tumbuhan hijau menciptakan sebuah bangunan bioclimatic. "Semua tanaman dipilih sesuai dengan kompatibilitas, pencahayaan, dan efisiensi produksi oksigen. Dan dengan tujuan menciptakan ruang yang menarik dan nyaman," kata Remizov.

Melalui atap transparan, cahaya bisa masuk sehingga menerangi ruangan dan tanaman itu. Balkon berfungsi untuk ruang berkomunikasi dan tempat rekreasi.

Rohmat Haryadi
[Ilmu & Teknologi, Gatra Nomor 13 Beredar Kamis, 3 Februari 2011] 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar