Minggu, 18 Maret 2012

Para Khalifah Kebanggaan Islam


Islam adalah agama terakhir yang Allah turunkan di dunia ini. Misinya untuk memuliakan dan menyempurnakan akhlak manusia. Dan ini tercermin dari budi pekerti utusan-Nya Muhammad SAW dan para Khalifah setelahnya.
Islam memiliki 5 Khalifah (pemimpin) terbaik yang dibanggakan sejarah dari masa ke masa. Kehadiran mereka adalah untuk meneruskan kembali ajaran Nabi SAW. Mereka adalah Abu Bakar ash-Shiddiq, Umar bin Khathab, Utsman bin Affan, Ali bin Abu Thalib dan Umar bin Abdul Aziz.
Mereka berlima adalah pelayan umat manusia sekaligus umat Islam. Mereka telah menjual diri mereka kepada Allah untuk mengabdikan diri sepenuh kehidupan mereka sebagai pemimpin sekaligus pelayan umat. Berkorban demi kemajuan Islam tanpa berharap materi apapun dari perjuangan mereka, karena bagi mereka balasan sebenarnya hanya dari sisi Allah di akhirat kelak.
Abu Bakar sebagaimana yang digambarkan oleh DR Khalid Muhammad Khalid adalah sosok pencari Kebenaran. Sejak muda, ia tidak seperti pemuda Arab kebanyakan yang keluar Makkah sekedar berbisnis tanpa ada tujuan apapun. Abu Bakar selalu menyempatkan waktunya untuk belajar kepada para Ahli Hikmah dalam menggapai kearifan hidup, sehingga tidak mengherankan ia langsung menerima kenabian Muhammad disaat mayoritas warga Makkah menolaknya. Tak hanya itu Abu Bakar juga berani menjadikan dirinya tameng maut di saat mendamping Nabi hijrah ke Madinnah.
Semasa hidupnya, Abu Bakar dikenal sebagai orang yang bersahaja,  cerdas, mampu  membedakan mana urusan negara dan mana urusan pribadi. Pernah suatu ketika seorang rakyatnya menjumpainya berdagang di pasar di jam-jam ia beristirahat dari pekerjaannya. Padahal pada saat itu ia adalah seorang pemimpin/khalifah. Lalu rakyatnya tersebut heran dan bertanya padanya: Bukankah negara (baitul Mal) membayar gaji Anda dan menjamin nasib keluarga Anda, maka Abu Bakar menjawab: “Jabatan ini amanah dari kaum muslimin kepadaku pribadi, Negara hanya wajib membayar gajiku namun tidak bagi keluargaku, karena keluargaku adalah urusanku sendiri, dan saat ini aku sedang mencari nafkah bagi keluargaku.” Luar Biasa! Sebuah pemandangan yang bisa dibilang sangat langka ditemui pada diri pemimpin saat ini. Inilah gambaran sosok seorang sahabat Muhammad yang menjadi khalifah pertama dalam Islam.
Begitu juga Umar, tak bisa dipungkiri kalau ia dikenal berwatak keras, keras. Beliau sangat keras (istiqamah) dalam menjalankan islam. Meskipun dalam banyak hal yang tidak diketahuinya, beliau terlebih dahulu meminta fatwa dari pada sahabatnya yang lebih alim sebelum memutuskan dan menjalankan suatu urusan. Di zamannya sosialisme begitu kental, tak ada kesenjangan yang berarti antara pejabat negara dengan rakyatnya. Karena ia mendidik para pejabatnya dengan sikap zuhud (hidup berkecukupan, bersyukur dan berpuas diri dengan apa yang ada) sehingga KKN sedikitpun tak berani menampakkan batang hidungnya.

Dalam menjalankan roda pemerintahanya beliau selalu tampil bersahaja, pernah suatu ketika utusan Romawi mendatangi Madinah ingin bertemu dengan pimpinan Islam saat itu, lalu ia diberitahu bahwa Pemimpin Islam (Amirul Mukminin) sedang berada di masjid. Ketika ia sampai di masjid ia hanya mendapati seseorang yang sedang duduk di atas hamparan tikar kasar. Tiba-tiba utusan itu bertanya: Mana rajamu? Salah seorang kaum muslimin menjawab: “itu yang sedang duduk di sana!” Alangkah terperanjatnya utusan itu melihat kedudukan raja islam yang mirip rakyat jelata. Ini jelas bertolak belakang dengan raja Romawi yang duduk di atas singgasana mewah dalam sebuah kerajaan yang mewah. Suatu pemandangan yang sangat menakjubkan!
Adapun Utsman bin Affan, beliau adalah sosok dermawan yang lembut, murah hati dan pengasih. Kelebihannya ini sayangnya dikemudian hari menjadi cobaan dari Allah baginya, terutama dalam menghadapi fitnah-fitnah yang diperbuat keluarganya yang menyalahgunakan jabatan.
Kesewenang-wenangan keluarganya tentu saja berimbas pada kesejahteraan kaum muslimin, bahkan mereka dengan berani menjadikan Utsman sebagai tameng atas perbuatan mereka. Inilah yang memancing reaksi keras dari kaum muslimin kepada Utsman bin Affan.
Meskipun begitu sumbangsih Utsman terhadap Islam sangat berarti: pertama; di zaman Nabi, ia adalah satu-satunya donatur yang membiayai pasukan jihad (jaisyul usrah) kaum muslimin dalam melawan imperium Romawi di saat kondisi keuangan yang sangat sulit: kedua; ia pahlawan bagi kaum muslimin yang kehausan, di saat musim kering melanda. Sumur itu  hanya dimiliki seorang Yahudi, maka Utman lah yang membeli sumur itu dan memberikannya untuk kaum muslimin. Ketiga; Utsman adalah penggagas awal lahirnya angkatan laut Islam. Keempat; dan yang tak boleh dilupakan sama sekali, Utsman adalah penghimpun Alquran dalam satu mushaf.
Adapun Ali bin Abu Thalib adalah sepupu Nabi sekaligus menantunya. Ali adalah anak didik Rasulullah, ia beriman setelah Khadijah beriman. Adalah sebuah kenikmatan ketika ia banyak mempelajari Islam dari orang yang satu rumah dengannya. Sehingga ia dikenal dengan ahli fikih dan juga ahli quran serta mewarisi keindahan retorika dialektika/balaghah dari Rasulullah. Bahkan dari sekian sahabat ia lah yang dipilih Rasulullah untuk dinikahkan dengan putrinya Fatimah.
Di saat perang Khaibar ia lah yang dipilih Rasulullah untuk memimpin kaum Muslim dalam menembus benteng tersebut yang dengan izin Allah Gerbang benteng Khaibar dapat terangkat oleh kedua tangannya, padahal pada saat itu kekuatan 30 orang saja tidak ada yang mampu mengangkatnya. Dan yang tentu saja membuat ia lebih utama adalah tatkala ia membawa surat baraah (At-Taubah), padahal saat itu surat itu sudah ditangan Abu Bakar. Inilah dia khalifah keempat umat islam yang sangat tangguh dalam menghadapi tekanan-tekanan dalam hidup.
Umar bin Abdul Aziz adalah keturunan Umar bin Khathab dari pihak Ibu adapun dari Ayah ia adalah keturunan Umayyah (kakek Muawiyah bin Abi Sufyan). Umar hanyalah kelas ketiga dalam kerajaaan Umawi karena ia bukan keturunan Abdul Malik (khalifah Umawiyah) melainkan anak dari Abdul Aziz (Gubernur Mesir) yang merupakan adik dari Abdul Malik yang ditugaskan di Mesir.
Dan dalam menjalankan roda pemerintahannya Umar melanjutkan kembali tradisi kakeknya moyangnya, yaitu Umar bin Khaththab, hidup bersahaja sebagai khalifah dan selalu memprioritaskan rakyatnya lebih dari apapun, sehingga tidak mengherankan di zaman Umar bin Abdul Aziz hampir tidak ditemukan orang miskin dan juga orang bodoh yang tidak sekolah karena tata kelola pemerintahannya yang begitu bijaksana dan adil. Namun dibalik kesejahteraan rakyatnya tersebut Umar tetaplah Umar yang dulu tidak silau dengan harta duniawi. Bahkan diceritakan bahwa diakhir penugasannya sebagai khalifah; saat dimana adik iparnya mengambil kembali mahkota kekuasaan ayahnya, ia meminta izin kepada keluarga kerajaan mengungsi keluar dari istana hidup dan bersahaja sebagai rakyat biasa pada umumnya hingga ia berpulang ke pangkuan Tuhannya.    
Buku “Best of the Best” ini tidak hanya mengupas lengkap biografi kehidupan mereka berlima, namun lebih dari itu mengupas dalam-dalam sisi-sisi kemanusiaan mereka yang agung. Yang takkan Anda temukan pada diri pemimpin-pemimpin lain selain mereka dari masa ke masa. Dan seluruh sumber kebijaksanaan manusia sejati sebagai pemimpin tak salah rasanya kami katakan ada di buku ini melalui diri mereka berlima.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar