Sabtu, 24 Maret 2012

Plus - Minus Media Sosial


Coba simak apa yang pernah diucapkan Jeff Bezos, CEO Amazon. Menurut dia, di dunia riil, pelanggan yang mengalami pengalaman buruk dengan suatu produk atau jasa akan mengungkapkan kekecewaannya kepada enam orang terdekat. Di dunia maya, ia dapat mengadukan kepada 6.000 orang lain.

Ucapan Bezos itu menggambarkan betapa media sosial memiliki pengaruh dahsyat dalam membahayakan reputasi suatu produk atau perusahaan.

Carlos Dominguez, Senior Vice President Cisco, yang juga sering berbicara mengenai masalah teknologi, mengatakan kondisi itu kerap menjadi alasan bagi organisasi atau perusahaan untuk mengurungkan niat bergabung dalam sebuah media sosial.

“Ada ketakutan dari perusahaan. Misalnya, mereka takut harga sahamnya jatuh bila banyak hal buruk seputar produk mereka diperbincangkan dalam media sosial. Ini hal yang tak masuk akal,” ujar Dominguez saat berbicara melalui telepresence di kantor Cisco, Jakarta, Rabu lalu.

Hal serupa diungkapkan oleh Andy Sjarif, CEO SITTI, jaringan pemasangan iklan kontekstual dalam jaringan Internet. “Sekarang tidak lagi menjadi soal apakah Anda tergabung dengan media sosial atau tidak. Sebab, produk Anda tetap akan menjadi pembicaraan,” ujarnya.

Ia mengatakan sebenarnya banyak manfaat bisa diambil dari media sosial bila perusahaan berhasil menggunakannya dengan baik, dari meningkatkan kesadaran khalayak hingga membina loyalitas pengguna. Karena itu, ucap Andy, langkah bijak yang perlu diambil oleh perusahaan adalah beradaptasi dan memanfaatkan “pedang bermata dua” ini.

Fenomena pemanfaatan media sosial oleh kalangan bisnis sebenarnya sudah tampak di Indonesia. Dimulai dari merek yang dimiliki perusahaan korporat, usaha kecil dan menengah, hingga usaha kelas kaki lima, telah banyak yang punya akun di media sosial, misalnya Twitter dan Facebook. Sayangnya masih banyak salah kaprah yang terjadi dalam menerapkannya.

Yang pertama adalah masih banyak yang memperlakukan media sosial selayaknya media tradisional seperti televisi atau surat kabar. Berbeda dengan media tradisional, di mana arus informasi berjalan searah dengan pola one to many, pada media sosial berjalan pola many to many. Dominguez menyebutkan, yang terpenting dalam media sosial bukanlah apa yang dikatakan perusahaan tentang produknya, melainkan apa yang khalayak bicarakan tentangnya.

Andy mengatakan langkah pertama yang harus dilakukan agar berhasil dalam memanfaatkan media sosial adalah mengubah paradigma tersebut. “Di media sosial, kita tidak lagi bicara tentang kampanye, tapi percakapan,” ujarnya.

Kesalahan kedua yang kerap dilakukan pelaku bisnis adalah memperlakukan khalayak di media sosial hanya sebagai target konsumen. Salah satu buktinya adalah menggunakan buzzer, yaitu membayar akun atau pribadi yang telah memiliki banyak pengikut sebagai corong promosi di media massa.

Hal tersebut tak sepenuhnya salah. Namun, Yoris Sebastian, pendiri OMG Creative Consulting, mengatakan bahwa khalayak ini memiliki kemampuan lebih yang bisa dimanfaatkan. “Mereka yang sudah loyal dengan suatu merek dapat menjadi semacam tenaga pemasar sukarela,” ujarnya.

Andy menambahkan bahwa perusahaan tidak boleh hanya terpaku untuk memanfaatkan akun dengan jumlah pengikut yang besar sebagai corong mereka. Sebab ini tidak selalu berkaitan dengan pengaruh akun terhadap pengikutnya. Ia menyebutkan bahwa salah satu parameter akun yang berpengaruh adalah tingginya respons pengikut akun tersebut bila pemilik akun mem-posting satu topik tertentu.

Sementara itu, Dominguez menyarankan agar perusahaan menyediakan tenaga khusus yang menangani media sosial, mengingat jumlah media sosial yang begitu besar dan volume informasi yang beredar secara masif di dalamnya.

“Tantangan terbesar yang dihadapi perusahaan dalam implementasi media sosial adalah bagaimana caranya agar dapat hadir sebagai satu-kesatuan profil, baik di media massa maupun media sosial,” ujarnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar