Rabu, 16 Mei 2012

Sebuah Pandangan Tentang Keseimbangan Air


Air adalah zat yang paling melimpah di permukaan bumi kita. Sekitar tiga perempat permukaan bumi yaitu 70,8% ditutupi oleh air. Selebihnya berupa daratan (29,2%). Volume air di permukaan bumi ini kurang lebih adalah sekitar 1,4 milyar km3, tetapi 97% air tersebut adalah berupa air asin di lautan. Hanya 3% saja air di muka bumi ini yang berupa air tawar.


Dari sekitar 3% air tawar itu, sebanyak 68,7% berupa es yang terdapat di kutub utara dan kutub selatan, serta di puncak gunung-gunung yang tinggi sebagai salju abadi. Sebanyak 30,1% adalah air tawar yang tersimpan dalam tanah sebagai air tanah sampai pada kedalaman 5 km. Sisanya sebanyak 0,9% berupa air tawar yang terdapat di tanaman, uap air di udara dan awan, dan tidak dapat langsung dimanfaatkan secara langsung oleh manusia. Air yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh manusia hanyalah sekitar 0,3% air tawar berupa air permukaan di danau, telaga, waduk, situ, dan sungai.

Manajemen air adalah usaha-usaha menjaga dan mengatur air yang ada di muka bumi ini agar dapat terjaga keberadaannya dan dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia. Beberapa tahun terakhir, manajemen air menjadisatu isu yang banyak dibahas di berbagai belahan dunia termasuk di negara Indonesia sendiri.

Secara umum, Indonesia menjadi satu dari sedikit negara yang memiliki sumberdaya air berlimpah. Berbagai laporan mengenai kondisi neraca air Indonesia menunjukkan bahwa Indonesia masih mengalami surplus air. Meskipun demikian, terdapat beberapa pulau diIndonesia yang telah mengalami defisit air.

Untuk memenuhi kebutuhan air tawar bersih, secara konvensional masyarakat mendapatkan air dari air sungai, air danau atau mata air. Akan tetapi, jumlah air tawar bersih yang tersedia dari sumber-sumber ini semakin lama semakin berkurang akibat adanya deforestasi, pencemaran air, dan meningkatnya populasi manusia.

Semakin berkurangnya jumlah air di permukaan yang dapat digunakan dibandingkan dengan semakin meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap air tawar bersih terutama dari kalangan industri memaksa dilakukannya pencarian terhadap sumber air tawar bersih yang lain, yaitu dengan melakukan pengeboran sumur untuk mengambil airtanah.

Pengambilan air tanah ini di satu sisi menguntungkan manusia karena masalah kebutuhan air tawar bersih dapat teratasi. Akan tetapi seiring dengan bertambahnya jumlah populasi manusia dan bertambahnya industri-industri yang membutuhkan air sebagai bahan baku produksi membuat pengambilan airtanah semakin kerap terjadi dengan jumlah pengambilan air yang semakin banyak. Hal ini membuat cadangan airtanah yang ada semakin menipis.

Dari kenyataan-kenyataan tersebut, maka diperlukanlah adanya manajemen terhadap air yang ada agar ketersediaan air dan kebutuhan terhadapnya dapat seimbang. Dengan seimbangnya ketersediaan air dan kebutuhan air, maka kekhawatiran terhadap sulitnya air di masa depan dapat dihilangkan.

Bentuk manajemen air yang dapat diterapkan di Indonesia antara lain adalah menetapkan regulasi terhadap penggunaan air. Dalam hal ini, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang No. 7 Tahun 2004 tentang sumber daya air. Selain itu, bentuk lain dari manajemen air adalah menerapkan diversifikasi sumber air tawar bersih.

Salah satu bentuk diversifikasi yang dapat dilakukan untuk memenuhi kebutuhan air tawar yang bersih adalah dengan melakukan rain harvesting atau penadahan air hujan. Dengan menadahkan air hujan dan menyimpannya di suatu kolam penyimpanan, daerah yang mengalami defisit neraca air maupun daerah-daerah yang kesulitan air tawar bersih dapat memenuhi kebutuhannya terhadap air tawar bersih.

Di kota Bandung, manajemen air kurang mendapat perhatian dari pemerintah pada khususnya dan masyarakat kota Bandung pada umumnya. Pemerintah dan masyarakat cenderung tak acuh dengan manajemen air di kota Bandung. Hal ini tercermin salah satunya dari perilaku masyarakat yang membuang sampah ke aliran sungai. Bahkan beberapa industri liar membuang limbah produksinya ke dalam sungai. Hal ini bukan saja mengotori dan mencemari air sungai, tetapi juga membuat jumlah air tawar bersih yang dapat diperoleh dari sungai semakin berkurang.

Selain itu, cerminan akan kurangnya kesadaran masyarakat dan pemerintah kota Bandung adalah dari menjamurnya sumur-sumur bor di kota Bandung. Menjamurnya sumur bor ini sampai sekarang belumlah ditindak tegas pemerintah. Entah ada unsur politik atau murni karena kurangnya kesadaran pemerintah. Jika hal ini terus berlanjut, maka akan terjadi ketidakseimbangan antara airtanah yang masuk ke dalam tanah dari daerah resapan dengan airtanah yang dikuras di daerah limpasan yang ada di perkotaan.

Jika saja menjamurnya sumur bor diiringi dengan perluasan dan pelestarian daerah resapan di daerah Bandung bagian utara, mungkin jumlah air di dalam tanah dapat diseimbangkan antara air yang masuk dan air yang keluar. Tetapi, yang terjadi saat ini adalah daerah resapan kota Bandung semakin sempit dengan dibangunnya gedung-gedung, perumahan, dan pembukaan sawah/perkebunan. Hal ini justru memperparah airtanah yang ada di kota Bandung. Semakin lama semakin sedikit jumlahnya.

Untuk memanajemen air di kota Bandung, diperlukan penyadaran kepada pemerintah dan masyarakat kota Bandung secara umum. Penyadaran ini perlu agar keseimbangan antara air yang masuk dan air yang keluar dapat terjaga dengan baik. Penyadaran ini dapat dilakukan dari diri kita sendiri dengan memberi contoh kepada keluarga kita, teman kita, ataupun tetangga kita.

Selain penyadaran, perlu adanya pemberian contoh kepada pemerintah dan masyarakat akan manajemen air yang baik. Seperti telah disebutkan di atas bahwa salah satu bentuk manajemen air adalah dengan melakukan diversifikasi air. Di sini, pemberian contoh dapat dilakukan dengan membangun gedung-gedung dengan instalasi tadah hujan di atapnya. Air dari atap ini dialirkan ke sebuah tangki besar di bawah tanah untuk menampung air hujan. Air hujan ini kemudian dapat dijadikan sebagai sumber air bersih yang murah dan ramah lingkungan serta tidak mengganggu keseimbangan air sungai maupun airtanah.


Sumber : km.itb.ac.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar