Rabu, 26 Oktober 2011

Bahasa Indonesia Akan Dijadikan Bahasa se-ASEAN

Bahasa Indonesia diwacanakan menjadi bahasa kedua setelah Bahasa Inggris untuk digunakan sebagai bahasa Asia di lingkup negara-negara anggota ASEAN.
Itu muncul setelah sekretaris komunikasi Presiden Philipina,  Herminio B Coloma Jr, menyapa para delegasi negara se-ASEAN menggunakan Bahasa Indonesia dengan sempurna ketika membuka acara pertemuan media BIMP-EAGA  (Brunei-Indonesia- Malaysia-Philippines/ East Asia Growth Area) di Cagayan de Oro, Mindanao, Southern Philippines, on Monday, Senin (24/10/2011)."Selama Pagi nyonya dan tuan-tuan sekalian, selamat datang di Philipina. Bagaimana kabar Anda? kata Herminio B Coloma Jr.Pertemuan forum media tersebut diselenggarakan dalam rangkaian ulang tahun 16th BIMP-EAGA ministerial level meeting. Coloma yang juga mengisi jabatan penting di kabinet tersebut mengatakan, pemerintah Philipina mempertimbangkan kerjasama dengan perusahaan media dan pihak lainnya karena sangat penting untuk memicu pertumbuhan dalam kawasan  BIMP-EAGA.

Disebutkan, BIMP-EAGA yang berdiri sejak 1994 mengalami keterlambatan dalam pembangunan. .
Sementara itu, Soehardi, information officer at Indonesian consulate general in Davao, Mindanao’s provincial capital mengatakan, pihaknya takjub dengan angka animo masyarakat Philipina yang ingin mempelajari Bahasa Indonesia.
Menurutnya, hal itu mengindikasikan bahwa Bahasa Indonesia lebih mudah dipelajari dan diterima kalangan warga Philipina khususnya, dibanding bahasa negara ASEAN lainnya seperti bahasa Brunei Darussalam, Malaysia, Singapore, and Thailand (south).
Bahasa Indonesia yang serumpun dengan Bahasa Malasya bahkan digunakan sekelompok warga di Kamboja, Laos and Vietnam, khususnya bagi kalangan etnik tertentu di negara tersebut.
"Bahasa Indonesia menarik karena digunakan 350 juta orang di kawasan ASEAN," kata Soehardi yang juga mengajar studi Bahasa Indonesia di Davao.
The BMIP-EAGA ministerial-level meeting in Cagayan de Oro took place from October 18 to 21. Indonesian coordinating minister Hatta Rajasa was initially scheduled to attend the meeting but could not make it and was eventually represented by one of his senior aides, Raldi Hendro Koestor.(sumber ; TRIBUN TIMUR)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar