Sabtu, 03 Desember 2011

Aliran-Aliran dalam Seni Lukis


A. PENDAHULUAN
Aliran adalah Seni Lukis pada hakikatnya adalah hasil gejolak Sang seniman yang dituangkan lewat media dua dimensional. Dalam gejolak jiwa, sang senimanlah meramu unsur-unsur seni baik unsur fisik maupun non fisik (estetis). Unsur itu diantaranya warua, bentuk , tekstur, keseimbangan, menghasilkan karya seni yang merupakan perwakilan dirinya secara utuh. Disinilah awal mula timbulnya berbagai aliran-aliran dalam seni lukis yang kita kenal sekarang ini.
Jika kita mau memperhatikan perjalanan sejarah seni rupa dunia, akan tampak betapa peranan dan penghargaan terhadap eksistensi (keberadaan) individu sang seniman dalam menghasilkan karya yang kita miliki dalam tulisan ini adalah aliran dalam seni lukis. Betapa tidak, sang seniman maupun menciptakan seni (seni lukis) yang bermutu tinggi, sehingga ia berhak digelari sang tokoh pada setiap aliran yang ditekuninya. Misalnya kalau di Indonesia tokoh ekpresionisme adalah Affandy, Naturalisme tokohnya Basuki Abdullah, da Realis tokohnya S. Soedjowo dan tokoh dunia lainnya misalnya L. David, Remrand, (aliran romantis) Manet, Monet, Seaurat (aliran romantis), J. Polloc (Ekspresionisme), dan aliran Surrealisme (S.Dali) dalam tulisan ini, penulis mengajak kita semua untuk saling bertukar pemahaman tentang aliran pemerhati seni, maupun sebagai seniman guna menambah atau memperbaharui wawasan kita yang lebih luas dan ini tentu sangat bermanfaat bagi kita khususnya sebagai pendidik seni. Pertanyaannya adalah mampukah kita membedakan dan mengerti tentang hasil karya sang seniman yang merupakan refleksi gejolak jiwanya sendiri dan sekaligus sebagai media komunikasi antara sang seniman dengan orang lain? Untuk itu diperlukan pengetahuan dasar yaitu salah satunya adalah mengenal aliran dalam seni lukis. Berikut hanya dikemukakan sebahagian saja aliran dalam seni lukis karena keterbatasan waktu dan ruang.

B. ALIRAN DALAM SENI LUKIS
Karya seni yang merupakan karya perseorangan (bukan hasil reproduksi) harus menunjukkan dan mencerminkan eksistensi pribadi yang khas. Karena seni yang baik merupakan manifestasi (perwujudan) individual. Misalnya Basuki Abdullah akan tampak ada perbedaan cara manifestasi dengan gaya Affandi. Perbedaan inilah yang kemudian dikenal sebagai gaya/aliran.macam-macam aliran tersebut antara lain :
1. Naturalisme
Seniman kelompok aliran ini berusaha melukiskan segalasesuatu dengan nature atau alam nyata, artinya disesuaikan dengan tangkapan mata kita. Untuk memberikan kesan mirip (syukur bisa persis), maka baik susunan, perbandingan, keseimbangan, perspektif, perbandingan, keseimbangan, perspektif, tekstur, pewarnaan, serta gelap terang dikerjakan seteliti mungkin, setepat-tepatnya.
Meskipun demikian, naturalisme ada semacam kecendrungan untuk mengidentifikasi memperbaiki, menyempurnakan alam. Maka tidaklah mengherankan apabila lukisan seseorang perawan desa dalam lukisan Basuki Abdullah justru tampak seperti bidadari yang berpakaian lusuh. Di Indonesia, tokoh naturalisme antara lain adalah : Basuki Abdullah, Raden Saleh.

2. Realisme
Realisme cenderung melukiskan segala sesuatu apa adanya tanpa berusaha mengidealisasikan alam, memperbaiki ataupun menyempurnakan. Bahkan cenderung kenyataan-kenyataan pahit (kemelaratan, kejorokan dll, dari sisi kehidupan).
Belinsky, seorang Rusia menunjukkan cara bagaimana orang dapat melukiskan cara bagaimana orang dapat meluki realistik, katanya: “Carilah objek kesenian lukisan dari dunia di sekelilingmu”. Jangan dibagus-baguskan, tangkap semua itu sebagaimana adanya. Perbedaan kecenderungan inilah yang membedakan Realisme dan Naturalisme (Sony K, 1993).
Sony Kartika (1993), menjelaskan macam-macam Aliran Realisme sebagai berikut :
a. Realisme Jendela
(Through the window realis) Objek-objek yang menjadi pilihan seniman dilakukan secara komplit menyeluruh dan digarap secara teliti sebagaimana mata melihatnya.
Artinya, pohon, rumah, orang, hewan rumput dll. Seluruhnya dilukiskan dalam satu bidang (kanvas, kertas). Sehingga secara sepintas menyerupai suatu pemandangan yang dilihat dari sebuah bingkai jendela.

b. Realisme Selektif
Lukisan-lukisan semacam ini hanya menampilkan objek / hal-hal yang paling menarik perhatian atau yang dianggap penting oleh seorang seniman.
Artinya sekian banyak objek yang ada, si seniman terlebih dahulu akan melakukan pemilihan, seleksi dan hasil dari seleksi tersebut kemudian disusun dan dilukisakan pada suatu bidang.

c. Realisme Fokus
Seniman-seniman penganut aliran ini berpendapat, bahwa tak seorangpun dapat melihat setiap seniman (semua) objek yang tampk dihadapannya, secara jelas. Oleh karena itu hanya objek-objek yang dianggap pentinglah yang digarap secara teliti sedang objek yang lain (sekitarnya) dikaburkan atau digarap secara global/kesan. Contoh semacam ini dapat kita temui pada karya-karya fotografi, atau pada lukisan karya seorang pelukis Belanda : Rembrandt dan Rijin.

d. Realisme Cahaya dan Bayangan
Objek yang dilukiskan sesuai dengan pandangan mata. Bentuk warna, bahkan cahaya dan bayangan yang terjadi digarap secara teliti.
Dalam hal ini kepekaan, ketajaman pengamatan terutama dalam menganalisis gelap-terang, seorang seniman amat dibutuhkan.
Karenanya banyak seniman menganut aliran ini cederung untuk melukis objeknya secara langsung benar-benar menghadai objeknya, untuk mencapai kemiripannya. Salah satu contohnya adalah karya pelukis Belanda : Rembrant Van Rijij, sedang untuk Indonesia adalah karya pelukis Dullah.

e. Realisme Dunia Mimpi
Aliran suatu aliran yang mengambil objek/tema dari dunia mimpi atau dunia khayal, yang kemudian diwujudkan kembali dalam sebuah karya. Kebanyakan karya-karya semacam ini memiliki kesan yang tampak aneh (sebab takkan dijumpai di alam nyata). Aliran semacam ini sering pula disebut sebagai aliran Surrealisme.

f. Realisme Sosial
Sebuah karya memanfaatkan bentuk-bntuk realisme untuk mencapai tujuan tertentu. Di Rusia misalnya, lukisan ini dipergunakan untuk tujuan-tujuan propaganda revolusi, di Mexico dipakai untuk tujuan pendidikan dan perjuangan. Demikian pula halnya di Indonesia, Sujoyono dkk, mempergunakannya sebagai alat untuk mengorbankan semangat perjuangan menentang penjajah.


3. Romantisme
Mendasarkan pada siatuasi semosi/penonjolan rasa (sedih, takut, horor, kelaparan dsb). Penggambaran emosi yang digunakan untuk merangsang penghayatan untuk memahami siatuasi emosi pada motif-motif pengalaman yang universal. Misalnya : Judul “Kapal Mendissa” karya Geri Chul, antara Hidup dan Mati, Raden Saleh. Suatu karya yang menentang kehidupan klasik / neo-klasik yang penggambarannya serta tenang.

4. Impressionisme (Impression = kesan)
Seniman-seniman Impressionis hanya melukiskan cahaya yang dipantulkan ke mata, kabur, tanpa vokus atau hanya merupakan kesan suatu objek. Aliran ini timbul sebagai akibat dari ketidak puasan terhadap cara-cara melukis seniman akademis (sebutan untuk seniman-seniman realisme dan bayangan) yang selalu melukis dalam studio. Seniman-seniman penganut aliran impresionis berpendapat bahwa cahaya dan bayangan tidak selalu tetap, tetapi berubah-ubah sesuai dengan gerakan sumber cahaya, oleh karena itu mereka tidak mau melukis di dalam studio. Mereka lari ke jalan raya, ke ladang, tepi sungai dsn. Ada hasil yang perlu dicatat dari aliran ini, yaitu dilukiskannya hal-hal yang belum pernah dilakukan / dikerjakan oleh seniman-seniman akademik, misalnya mereka melukiskan kabut, hujan badai, fatamorgana, gerakan-gerakan suatu objek dll. Serta warna-warnanya pun menjadi semakin cerah dibandingkan dengan warna seniman akademik yang menggelap.

5. Ekspressionisme (Expression : Ungkapan Perasaan).
Berlainan dengan impresionisme yang mengungkap kesan sesaat terhadap fenomena (gejala yang ditimbulkan) suatu objek, expressionisme yang mengungkap kesan sesaat terhadap fenomena (gejala yang ditimbulkan) suatu objek, xpressionisme lebih mengutamakan curahan persaan seorang seniman secara bebas. Sehingga kadang-kadang wujud yang dihasilkan (agak) berbeda dengan kenyataan objeknya. Expressionisme di Perancis diberi nama khusus yaitu Fauvisme. Tokoh Expressionisme yang terkemukan adalah : Van Gogh (Belanda) dan di Indonesia adalah Affandi.

6. Dadaisme
Aliran ini sering disebutt sebagai satu aliran yang anti seni (anti dalil dan pengertian seni yang ada), anti perasaan. Hal ini sebenarnya lebih condong oleh adanya sikap sinis terhadap segala akibat perang dunia I. Karya-karyanya serta serba aneh. Seperti misalnya mengkopi lukisan Monalisme karya Leonardo Davinci tetapi ditambah kumis. Tempat kencing yang diangkat dari tempat pembuangan sampah diberi judul untuk kemudian dipamerkan.

7. Surrealis
Para seniman dari kelompok ini berusaha membebaskan diri dari kesadaran (pikir), menghendaki kebebasan yang besar sebebas or yang tengah bermimpi dalam menciptakan karya-karyanya, sehingga karya yang dihasilkannyapun tampak aneh dan asing penuh misteri.
Sedang teknik realistik, karenanya banyak pula or yang menyebutkarya semacam ini dengan istilah : reaslisme dunia mimpi. Tokoh-tokohnya antara laian : Salvador Dali, sedang di Indonesia dapat disebutkan Sudibio.

8. Abstrak (Abstrasionisme)
Jika pada aliran sebelumnya orang masih bertitiik tolah dari objek / bentuk yang nyata, maka pd aliran abstrak yang banyak ragamnya ini or telah berusaha mengungkapkan suatu kenyataan yang ada dalam dunia batin seniman, mungkin suatu itu bernama fantasi, feeling atau entah apa lagi. Karena sesuatu itu muncul dunia dalam, dunia batin seseorang, maka yang muncul kemudian biasanya akan berbeda dengan dunia luar yang nyata. Jadi karya seperti ini bersifat individual/pribadi. Jika suatu lukisan abstrak itu masih tampak bebas / kesa alam, disebut Semi abstrak atau bisa juga disebut abstrak impresionisme.
Sedang yang abstrak murni ada dua jenis :

a. Abstrak Ekspresionisme
  •  Colour Field Painting : Lukisan yang hanya menampilkan bidang-bidang lebar dengan warna-earna cerah.
  •  Action Paintung : Lukisan yang menampilka warna-warna garis-garis, shape-shape, bidang-bidang dengan semburan, plototan, percikan, atau gerakan aksi lain yang menarik, untuk mewujudkan sebuah karya.

b. Abstrak Geometris
Sesuai dengan namanya lukisan yang ini lebih condong hanya menyusun/ mengkomposisikan unsur-unsur rupa yang punya sifat geomtris.

9. Kubisme
Seni lukis kubisme, mempergunakan shape-shape geomtri (segitiga, kubus dan lain-lain). Hampir dalam setiap karyanya walaupun yang digambarkan adalah figur manusia, tumbuh-tumbuhan, bahkan abstrak. Tokohnya seperti Pablo Picasso.

C. Kesimpulan
Mengenal aliran dalam seni lukis berrarti kita mampu mengapresiasikan suatu hasil karya seni khususnya seni lukis dengan tepat khususnya seni lukis dengan tepat dan benar dan mampu berkomunikasi dengan hasil karya itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar