Senin, 25 April 2011

Empat Pilar Kebahagiaan Rumah Tangga


“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih dan nasihat-menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat-menasihati supaya menetapi kesabaran.”
(QS Al ‘Ashr [103]: 1-3)

           
            Surat Al-‘Ashr yang sangat singkat ini memuat suatu hal yang amat besar. Tiga ayat pendek tersebut mendeskripsikan sistem yang integral dan universal bagi kehidupan umat manusia sebagaimana yang diinginkan oleh Islam. Sekaligus, menawarkan empat pilar kebahagiaan duniawi dan ukhrawi bagi individu dan keluarga, dalam kalimat-kalimat singkat yang mudah dimengerti.
Ayat-ayatnya memang singkat, namun begitu mendalam dan luas kandungannya. Sampai-sampai Imam Asy Syafi’i rahimahullah pernah berkata, “Seandainya manusia benar-benar mentadabburi surat ini, niscaya cukuplah ia menjamin kebahagiaan mereka” (Tafsir Ibnu Katsir IV/582). Dalam riwayat lain beliau berkata, “Seandainya tidak diturunkan surat lain selain surat Al ‘Ashr ini, niscaya cukup bagi manusia” (Tafsir Ruuhu’l Ma’aani XXX/227).
Dalam kajian Sayyid Quthb rahimahullah, surat yang termasuk golongan suratmakkiyah ini memberi pemahaman kepada kita bahwa sepanjang sejarah umat manusia di mana dan kapan saja hanya ada satu sistem (manhaj) yang menguntungkan dan membahagiakan, yang memberikan kemenangan dan keselamatan. Yaitu sistem yang batasan-batasan dan rambu-rambunya digambarkan secara jelas dalam surat ini. Berarti, sistem selain ini akan menjerumuskan ke dalam kehancuran, kesengsaraan dan kerugiaan pada semua aspek kehidupan di dunia dan di akhirat (Fii Zhilal Al-Qur’anVI/3964). Tak terkecuali aspek rumah tangga.
           
            Keempat pilar kebahagiaan rumah tangga yang ditawarkan oleh surat Al-'Ashr adalah:

1. Iman
            Iman adalah mutiara yang menambah bobot nilai dan harga serta meninggikan derajat seseorang dan keluarga di sisi Allah swt. Sebesar apa pun kekayaan seseorang, setinggi apa pun jabatan seseorang dalam suatu institusi/pemerintahan, sehebat apa pun kejeniusan seseorang bila tanpa iman, maka di sisi Allah ia sama sekali tidak bernilai meskipun seluruh dunia mengagumi dan mengagungkannya. Perhatikan firman Allah pada QS Al-Baqarah (2): 221.
Maka, rumah tangga terbaik dalam perspektif Al-Qur'an adalah rumah tangga yang dibangun atas dasar iman. Rumah tangga yang senantiasa menghadirkan suasana dan nuansa keimanan dalam seluruh aktivitasnya.
Dan Allah hanya akan menganugerahkan kehidupan yang bahagia kepada hamba-hamba-Nya yang mendasari seluruh amal dan kegiatannya dengan iman, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya, “Barangsiapa yang mengerjakan amal shalih, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik (bahagia) dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan” (QS An-Nahl [16]: 97). Lihat juga QS Al-A’raaf (7): 96.
Tentu saja, keimanan yang kita maksud di sini bukanlah keimanan yang parsial, sebatas di bibir saja seperti keimanan ala orang munafik (Lihat QS Al-Baqarah [2]: 8, Al-Munaafiquun [63]: 1-3). Atau keimanan sekadar keyakinan dalam hati sebagaimana dinyatakan Iblis yang telah meyakini Allah sebagai sang Pencipta (Lihat QS Shaad [38]: 76). Melainkan keimanan yang utuh dan menyeluruh dengan segala dimensinya, sehingga mampu menghadirkan kekuatan hubungan dengan Allah di mana, kapan saja dan dalam kondisi apa pun.

2. Amal shalih
            Keimanan yang sejati berbuah amal shalih. Amal shalih bisa berbentuk ibadahmahdhah dan ghairu mahdhah. Karenanya, ulama tafsir mengartikan amal shalih yaitu melaksanakan semua kewajiban yang diperintah syariat (agama) dan meninggalkan semua bentuk maksiat serta melakukan berbagai macam kebajikan (At Tafsir Al Munir, Az Zuhaili XXX/395).
            Maka, beragam aktivitas keluarga yang dapat mendekatkan diri anggota keluarga tersebut kepada Allah, maka aktivitas itu termasuk amal shalih. Rekreasi, silaturrahim, olah raga keluarga, dan lain-lain, semuanya bisa masuk dalam kategori amal shalih jika dapat meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah.

3. Proaktif mendakwahkan Islam (At Tawaashi bil Haq)
            Kedua pilar di atas (iman dan amal shalih) hanya mengantarkan kepada shalih untuk diri sendiri (Shaalihun Li Nafsihi) yang pada gilirannya tidak menjamin kebahagiaan di dunia dan akhirat. Sebab, Allah tidak menciptakan hanya seorang manusia, melainkan komunitas manusia yang terdiri dari laki-laki dan perempuan dan menjadikan mereka berbangsa-bangsa dan bersuku-suku (QS Al-Hujuraat [49]: 13).
            Karena itu kesempurnaan seorang Muslim dan kebahagiaannya sangat tergantung sejauh mana ia mampu menularkan keshalihan individual menjadi keshalihan sosial. Shalat kita misalnya, baru akan sempurna manakala shalat ini mampu membuahkan dampak sosial yang positif bagi kehidupan kita (baca: Naafi’un Lighairihi, bermanfaat bagi orang lain). Dalam bahasa Al-Qur’an, mampu mencegah dari perbuatan-perbuatan keji dan munkar (QS Al-‘Ankabuut [29]: 45).
            Untuk itulah Rasulullah saw menegaskan dalam haditsnya, bahwa manusia yang terbaik di jagat raya ini adalah yang bermanfaat untuk orang lain (Khairunnaas anfa’uhum linnaas).
            Beliau saw juga pernah ditanya, “Islam apa yang terbaik?” Beliau menjawab, “Yaitu orang Islam yang orang lain selamat (aman) dari (gangguan) lisan dan tangannya” (HR Bukhari).
            Maka, membudayakan saling menasihati dalam rumah tangga adalah pilar kebahagiaan suatu keluarga. Sebab, membiarkan keburukan, kemaksiatan dan pelanggaran terhadap ajaran Islam merajalela dalam rumah tangga kita, maka berarti sama saja kita membiarkan munculnya banyak lubang dalam 'kapal'. Akhirnya, cepat atau lambat akan menenggelamkan kita dan seluruh anggota keluarga besar kita. Karenanya, proaktif mendakwahkan atau menularkan kebaikan kepada sesama anggota keluarga akan mengantarkan keluarga kepada kebahagiaan di dunia dan akhirat. 

4. Sabar
            Mempraktikkan ketiga pilar di atas dalam kehidupan rumah tangga bukan perkara yang mudah. Pasti, dan tidak bisa tidak, akan menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan yang bisa datang dalam berbagai bentuk. Bahkan terkadang pertentangan dan perlawanan sengit justru muncul dari keluarga. Bukankah Nabi Muhammad ketika mendakwahkan Islam dan menyebarkan kebaikan, juga dihadang dan dihalang-halangi Abu Lahab, yang nota bene adalah paman beliau saw. Tribulasi dalam mewujudkan iman, amal shalih dan dakwah adalah sebuah keniscayaan karena ia sunnatullah dalam ber-Islam.
            Allah berfirman, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta” (QS Al ‘Ankabuut [29]: 2-3).
            Mengharapkan kebahagiaan rumah tangga tanpa kesabaran, sama saja mengharapkan hadirnya gagak putih. Mustahil. Wallaahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar