Selasa, 16 Agustus 2011

Bagaimana Ilmuan Merekonstruksi Lingkungan Purba

Australopithecus africanus di sabana afrika
Peneliti mempelajari hubungan lingkungan dan ekologi prasejarah sehingga mereka bisa merekonstruksi interaksi masa lalu antara tanaman, hewan dan leluhur kita. Penelitian ini juga membantu mencipta ulang manusia purba dan pola makan manusia purba dengan menemukan makanan yang tersedia dalam lingkungan dimana mereka hidup.

Hewan adalah sumber informasi yang baik mengenai lingkungan masa lalu. Studi pada anatomi mereka mengungkapkan apakah mereka pemakan rumput atau buah. Informasi ini dapat membantu merekonstruksi lingkungan. Isotop karbon 13 dalam gigi hewan juga memberi petunjuk mengenai apa yang dimakan sang hewan.

Tanaman digolongkan pada dua tipe yang berbeda secara kimia: tipe C3 dan tipe C4. Tanaman tipe C3 termasuklah pohon, perdu dan tanaman berkayu lainnya; tanaman C4 sebagian besar rerumputan. Karena tanaman C3 mengandung lebih sedikit isotop karbon 13 daripada tanaman C4, para peneliti dapat mengukur rasio karbon-12 terhadap karbon-13 dalam gigi hewan. Tingginya level karbon-13 menunjukkan kalau hewan ini memakan rumput – atau memakan hewan lain yang memakan rumput.
Karena tanaman lebih jarang menjadi fosil ketimbang hewan, kehidupan tanaman prasejarah lebih sulit di rekonstruksi. Untungnya, hal yang sama tidak berlaku pada serbuk sari tanaman, yang sering terjebak dalam tanah dan terlestarikan selama berjuta tahun. Studi serbuk sari yang memfosil disebut palinologi. Karena tiap tanaman memiliki serbuk sari yang unik bentuknya, tanaman purba dapat ditentukan dari fosil serbuk sarinya. Tanaman yang memang memfosil disebut fitolit; cetakan bentuk daun atau batang juga sering ditemukan.
Perubahan iklim purba dapat ditentukan dengan memeriksa isotop oksigen. Oksigen 16 menguap dengan mudah dari samudera dan masuk ke dalam es glasial; ketika es glasial meleleh, isotop ini kembali ke samudera. Oksigen 18 lebih berat dan cenderung tetap berada di samudera. Foraminifera, protozoa laut yang hidup di samudera, memakan oksigen apapun yang ada di sekitarnya kedalam selnya. Pada saat dingin, cangkang foraminifera mengandung lebih banyak oksigen 18; pada saat hangat, mereka mengandung lebih banyak oksigen 16.
Bukti geologi juga berperan penting dalam mempelajari lingkungan masa lalu. Perekaman stratigrafi atau pelapisan, dari endapan danau dan sungai membantu para peneliti melacak perubahan seiring waktu pada tanaman, hewan dan sumber air setempat. Tampilan permukaan seperti bentuk daratan dan pola erosi dapat mengungkapkan keberadaan air di masa lalu. Variasi dalam bahan organis yang ada dalam tanah menyediakan informasi mengenai iklim prasejarah. Dan akhirnya, peristiwa prasejarah besar seperti aktivitas vulkanis merupakan indikator perubahan iklim besar-besaran, baik lokal maupun global.
Referensi
Donald Johansson. Becoming Human

Tidak ada komentar:

Posting Komentar