Jumat, 16 September 2011

Faktor Genetik Pengaruhi Insomnia

Memiliki ayah atau ibu yang mengalami insomnia membuat sang anak turut berisiko mengalami kesulitan tidur tersebut. Faktanya, sebuah studi menemukan bahwa risiko menderita insomnia adalah 67 persen lebih tinggi jika memiliki anggota keluarga insomnia.

Tim peneliti yang dikepalai Dr Charles M Morin dari Universite Laval's School of Psychology membuat kesimpulan itu setelah menggelar penelitian yang melibatkan 3.485 orang.

Para peserta diminta untuk menjawab survei melalui telepon tentang kualitas tidur mereka beserta tentang catatan medis keluarganya. Setelah itu, dalam 12 bulan berikutnya, mereka diminta mengisi kuesioner.

Data menunjukkan bahwa 40 persen responden berasal dari keluarga yang memiliki setidaknya satu anggota yang menderita insomnia. Kebanyakan dari mereka memiliki satu anggota keluarga penderita insomnia (76 persen), namun beberapa memiliki dua anggota (21 persen), bahkan tiga (3 persen).

Risiko menderita insomnia meningkat sesuai dengan jumlah anggota keluarga penderita insomnia, yaitu, 37 persen, 250 persen, dan 314 persen untuk satu, dua, atau tiga anggota keluarga dengan insomnia.

"Setelah diamati, ada potensi faktor genetik di balik insomnia. Namun, kita tidak tahu apakah mekanismenya adalah proses fisiologis yang mengganggu tidur atau kecenderungan merasa cemas," kata Charles M Morin.

"Hasil penelitian kami ini setidaknya memberikan saran bahwa pengobatan psikologis awal bisa meyumbangkan manfaat bagi orang-orang dari keluarga dengan penderita insomnia kronis," pungkasnya, seperti dikutip dari Times of India, Selasa (13/9). (mediaindonesia.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar