Sabtu, 17 September 2011

Memasak Hemat dengan Limbah Ternak

SIAPA bilang sampah hanya menjadi barang yang tak bermanfaat dan berakhir di tong sampah? Dengan keahlian dan kreativitas, limbah tersebut pun bisa menjadi energi alternatif untuk keperluan rumah tangga.

Adalah Sarah Ervinda, mahasiswi Institut Teknologi Bandung angkatan 2008 yang menjadi pencetus lahirnya ide tersebut. Sarah, melalui proyek lingkungan yang diikutsertakan dalam Bayer Young Environmental Envoy (BYEE) melahirkan sebuah inovasi yang ditujukannya untuk membantu masyarakat mencari sumber energi alternatif pengganti kayu melalui pengolahan sampah dengan menggunakan sistem bioreaktor di Desa Kidang Pananjung, Garut, Jawa Barat.

"Tujuan awal saya ingin menciptakan sesuatu yang bermanfaat bagi lingkungan serta ingin memberikan pengabdian terhadap masyarakat," tuturnya pada wartawan usai menerima penghargaan Bayer Young Environmental Envoy di Hotel Intercontinental, Jakarta, Jumat (15/9/2011).

Masyarakat desa tersebut, dilanjutkan Sarah, banyak menggunakan kayu sebagai alat untuk memasak. Dengan kondisi tersebut, daerah pun menjadi rawan longsor karena tingginya aksi penebangan hutan.

Ketika berkunjung ke sana, Sarah melihat bahwa banyak limbah sampah organik dan limbah ternak yang dapat dijadikan sumber energi alternatif. Sarah yang sebenarnya tak memiliki pengetahuan teknik kimia pun kemudian melakukan riset dan mengidentifikasi potensi gas dari sumber limbah tersebut. Setelah itu, dia memasang bioreaktor skala rumah tangga dan menyelenggarakan pelatihan-pelatihan mengenai biogas untuk penduduk.

"Kapasitas dari bioreaktor tersebut sebesar 1 meter kubik dan bisa digunakan untuk memasak selama 1,5 jam. Saya berharap dengan adanya alat ini maka masyarakat dapat mengurangi penebangan pohon dan beralih ke bioreaktor sebagai sumber alternatif memasak," kata gadis berusia 20 tahun tersebut mengakhiri.
(okezone.com)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar