Jumat, 23 September 2011

Satelit NASA Jatuh Sabtu Pagi

Upper Atmosphere Research Satellite (UARS) milik NASA diperkirakan akan jatuh menumbuk bumi pada Sabtu, 24 September mendatang, sekitar pukul 09.00 WIB. Satelit tersebut sekarang berada pada ketinggian 180 kilometer, dan dua kali melintasi Indonesia dalam satu hari. 
"Bisa jatuh beberapa jam lebih awal atau lebih akhir dari waktu perkiraan tersebut," kata Deputi Sains, Pengkajian, dan Informasi Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), Thomas Djamaluddin, kepada Tempo di gedung BPPR, Jakarta, kemarin.
Tingkat akurasi perkiraan waktu jatuh bisa lebih baik jika perhitungan dilakukan saat satelit mencapai ketinggian 120 kilometer dari permukaan bumi. Pada ketinggian ini, UARS mulai jatuh dengan kecepatan tinggi sehingga peneliti bisa menentukan waktu jatuh satelit hingga mencapai ketelitian dalam tingkatan menit. 
Pada ketinggian itu, kecepatan bisa meningkat hingga puluhan kilometer per jam," ujarnya.  Pada ketinggian kritis 120 kilometer, satelit mulai terbakar di atmosfer. Tiap bagian satelit mulai terpisah.  Mesin terbakar habis dan menghasilkan cahaya, sementara terdapat 26 bagian lain yang bertahan dan jatuh ke bumi.
"Rongsokan terbesar memiliki berat hingga 150 kilogram," ujarnya.
Meski bisa meramalkan waktu jatuh satelit, Lapan tidak dapat menentukan lokasi jatuhnya. Dalam satu menit, satelit bisa menempuh lintasan hingga ratusan kilometer.
Ketika rongsokan satelit milik Cina jatuh pada 2003, Lapan dapat menaksir waktu jatuh satelit hingga ke tingkat ketelitian beberapa menit. Proyeksi lokasi jatuh pada saat itu juga hanya membentuk garis lurus yang menghubungkan Jazirah Arab dan Pulau Jawa. "Rongsokan satelit Cina akhirnya jatuh di Bengkulu," ujarnya.
Lapan baru mengetahui lokasi persis satelit Cina itu dari penduduk setempat. Mereka melaporkan kilatan cahaya terang di langit malam disusul bunyi ledakan dan getaran di permukaan bumi. Kami sangat bergantung pada laporan masyarakat untuk mengetahui lokasi persis jatuhnya satelit.
Lapan sendiri memiliki sistem pemantauan benda jatuh angkasa yang dibangun sejak 2009 menggunakan perangkat lunak Track-It. Perangkat lunak ini bisa mengukur waktu jatuh satelit hingga tingkat ketelitian beberapa menit.
Sumber : Koran Tempo

Tidak ada komentar:

Posting Komentar